EKBIS

Harga Minyak Dunia Meroket, Kompensasi Subsidi BBM Tertekan

Iran akan menutup Selat Hormuz bagi pelayaran sebagai respons atas pelanggaran memorandum perdamaian oleh Amerika Serikat. Foto: Istimewa
Iran akan menutup Selat Hormuz bagi pelayaran sebagai respons atas pelanggaran memorandum perdamaian oleh Amerika Serikat. Foto: Istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menyatakan kenaikan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel memberikan beban kompensasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) agar tak naik harga.

Ekonom INDEF Eko Listyanto memaparkan meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS-Israel vs (versus) Iran, namun tentu akan berdampak ke inflas.

"Beban kompensasi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga, serta inflasi,” katanya di Jakarta, Minggu (13/9).
Menurut Eko, harga BBM bersubsidi yang dijamin tak naik sepanjang tahun ini memerlukan anggaran kompensasi subsidi komoditas tersebut, apalagi di tengah kenaikan harga minyak mentah global.

“Beberapa upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM, (yaitu) ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak,” ujar dia.

Terkait inflasi, juga dinilai berisiko naik seiring industri dan sektor-sektor distribusi logistik sebagian besar menggunakan BBM non subsidi. Selain itu, bahan baku yang berasal dari minyak bumi turut berisiko kembali naik, seperti plastik. Terlebih lagi, lanjut Eko, dari sisi situasi alam juga sedang terjadi el-nino.

“Soal potensi harga BBM, kalau non subsidi akan menyesuaikan harga pasar sehingga masih mungkin terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya,” jelasnya.