LIFESTYLE

Saat Tarsul Kutai Mencari Ruang Baru di Era Digital

Menjaga nyanyian warisan Kutai itu tetap hidup di tengah generasi muda yang tumbuh di era digital menjadi PR saat ini.
Kesenian lisan Tarsul resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2025. Foto: Youtube/East Borneo Film
Kesenian lisan Tarsul resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2025. Foto: Youtube/East Borneo Film
apakabar.co.id, Samarinda - Kesenian Tarsul selama ini hidup di ruang-ruang adat masyarakat Kutai. Kini, setelah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, muncul harapan agar syair berbalas itu bisa menemukan panggung baru yang lebih dekat dengan generasi muda.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Utara, Titit Lestari, mengatakan upaya pelestarian Tarsul sejauh ini masih berada pada tahap perlindungan dan belum masuk ke fase pengembangan yang lebih luas.

Menurut dia, penetapan Tarsul sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2025 membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk menjaga keberlangsungannya. Namun hingga kini, langkah yang dilakukan masih sebatas pendokumentasian dan penetapan status.
Tarsul sendiri merupakan kesenian tradisional masyarakat Kutai berupa syair atau nyanyian berbalas. Sekilas mirip pantun, tetapi dibawakan dengan nada dan pesan yang saling bersahutan. 

Tradisi ini umumnya hadir dalam dua momen penting masyarakat Kutai, yakni Tarsulan Berkhatam Al-Qur’an dan Tarsulan Perkawinan.

“Penetapan Tarsul sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2025 membawa konsekuensi hukum bagi pemerintah, namun pelestarian sejauh ini baru sebatas dokumentasi dan penetapan status,” kata Titit di Samarinda, dikutip Minggu (24/5).

Ia menilai salah satu tantangan terbesar datang dari terbatasnya ruang tampil Tarsul yang selama ini lebih banyak hadir secara eksklusif dalam upacara adat tertentu. Di sisi lain, minat generasi muda untuk mendalami atau menyesuaikan kesenian tersebut dengan konteks kekinian juga masih belum banyak terlihat.

Padahal, menurut Titit, tradisi budaya punya sifat yang dinamis. Ia membutuhkan ruang untuk tumbuh dan beradaptasi agar tidak perlahan menghilang ditelan perubahan zaman.

Karena itu, pihaknya mendorong adanya ruang pertemuan lintas generasi, yakni mempertemukan gagasan kreatif anak muda dengan para maestro yang selama ini menjaga pakem Tarsul.

“Sebagai langkah penyelesaian, kami mendorong terbangunnya jembatan komunikasi interaktif yang mempertemukan ide-ide digital kaum muda dengan kebijaksanaan para maestro penjaga pakem,” ujarnya.
Dari kalangan pelaku seni, suara serupa datang dari Saipul Anwar. Seniman Tarsul itu mengakui minat masyarakat terhadap warisan leluhur tersebut memang terus menurun di tengah arus modernisasi yang makin cepat.

Saipul yang belajar Tarsul secara autodidak dari berbagai perayaan khatam Al-Qur’an dan perkawinan di lingkungan Kutai mengaku memilih menjaga bentuk aslinya.

“Saya berkomitmen untuk menghidupkan tradisi ini di lingkungan keluarga,” katanya, dikutip dari antara.

Meski begitu, ia tidak menutup ruang bagi generasi muda yang ingin membawa Tarsul ke bentuk baru sesuai zamannya. Baginya, inovasi bisa berjalan berdampingan dengan pelestarian, selama nilai utama dan ruh Tarsul tetap dijaga.