LINGKUNGAN HIDUP

Populasi Dugong Terancam, Indonesia Didorong Lindungi Ekosistem Lamun

Setiap tahun pada tanggal 28 Mei, dunia memperingati Hari Dugong Sedunia, yang menyoroti kebutuhan mendesak untuk melindungi dugong dan ekosistemnya. Sebagai salah satu negara dengan populasi dugong dan padang lamun terbesar, Indonesia memainkan peran penting dalam melestarikan spesies ini dan ekosistem pesisir.
Dugong bergantung pada ekosistem lamun untuk bertahan hidup yang membantu menjaga kesehatan padang lamun  Foto: Casper Kuijper/CTC
Dugong bergantung pada ekosistem lamun untuk bertahan hidup yang membantu menjaga kesehatan padang lamun Foto: Casper Kuijper/CTC
apakabar.co.id, JAKARTA – Indonesia didorong untuk memperkuat upaya perlindungan dugong dan ekosistem lamun yang menjadi habitat utama mamalia laut tersebut. Seruan itu mengemuka dalam peringatan Hari Dugong Sedunia yang jatuh setiap 28 Mei, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi dugong dan padang lamun terbesar di dunia.

Meski memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, dugong (Dugong dugon) masih menjadi salah satu satwa laut yang kurang mendapat perhatian dibandingkan paus, penyu laut, maupun pari manta. Padahal, keberadaan spesies yang dikenal sebagai "sapi laut" itu menjadi indikator penting kesehatan ekosistem pesisir.

Dugong merupakan mamalia laut yang sepenuhnya bergantung pada padang lamun sebagai sumber makanan. Aktivitas merumput yang dilakukan satwa ini membantu menjaga produktivitas dan keseimbangan padang lamun yang berfungsi sebagai habitat berbagai biota laut, penyerap karbon biru, serta pelindung alami wilayah pesisir dari abrasi dan dampak perubahan iklim.

Namun, populasi dugong menghadapi tekanan yang terus meningkat. Kerusakan habitat akibat pembangunan kawasan pesisir, pencemaran laut, penangkapan tidak sengaja oleh alat tangkap nelayan, serta menyusutnya padang lamun menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.

Tantangan konservasi semakin kompleks karena dugong memiliki tingkat reproduksi yang rendah. Seekor dugong betina umumnya hanya melahirkan satu anak dalam rentang waktu yang cukup panjang sehingga pemulihan populasi berlangsung sangat lambat ketika terjadi penurunan jumlah individu.

Direktur Eksekutif Coral Triangle Center (CTC), Rili Djohani, mengungkapkan Indonesia telah memiliki berbagai instrumen kebijakan untuk melindungi dugong, termasuk Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Dugong Nasional yang diperkenalkan sejak 2009. Namun, implementasi di lapangan masih membutuhkan dukungan yang lebih besar.

"Indonesia telah mengambil langkah-langkah penting untuk melindungi dugong melalui peraturan nasional dan strategi konservasi. Namun konservasi tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan. Keterbatasan sumber daya dan kapasitas masih menjadi tantangan dalam memperkuat perlindungan di lapangan," ujar Rili dalam keterangannya di Denpasar, Jumat (29/5).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, CTC menjalankan Proyek Dugong Kalesang di Kawasan Konservasi Laut Kepulauan Lease, Maluku. Program tersebut mengedepankan keterlibatan masyarakat dalam perlindungan dugong dan habitat lamun melalui pendekatan sains warga, pemantauan habitat, edukasi, serta kampanye kesadaran lingkungan.

Dalam rangka memperingati Hari Dugong Sedunia 2026, CTC menggelar webinar bertajuk Sorotan Dugong: Melindungi Raksasa Lembut Pulau-Pulau Lease yang diikuti lebih dari 50 peserta dari kalangan praktisi konservasi, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat umum.

Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi dugong di Indonesia, tantangan yang dihadapi dalam konservasi, serta berbagai capaian yang telah diraih melalui Proyek Dugong Kalesang.

Hasil program menunjukkan keterlibatan masyarakat memberikan dampak nyata terhadap upaya perlindungan dugong. Melalui survei dan kegiatan sains warga, masyarakat berhasil mengidentifikasi habitat penting dugong, mendokumentasikan area mencari makan, mencatat 54 kali penampakan dugong, serta mengidentifikasi delapan spesies lamun yang hidup di wilayah Kepulauan Lease.

Anggota komunitas yang terlibat dalam program tersebut, Vicky, menjelaskan pemahaman masyarakat mengenai dugong mengalami perubahan signifikan setelah berbagai kegiatan edukasi dilakukan.

Menurut dia, sebelumnya banyak warga hanya mengenal dugong sebagai ikan duyung tanpa memahami fungsi ekologisnya. Kini, masyarakat mulai memahami pentingnya dugong dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan lebih berhati-hati untuk menghindari gangguan terhadap satwa tersebut.

Perubahan persepsi juga terjadi di kalangan nelayan. Jika sebelumnya interaksi dengan dugong sering dianggap merugikan karena terkait dengan alat tangkap ikan, kini semakin banyak nelayan yang menyesuaikan aktivitas penangkapan untuk menghindari lokasi mencari makan dugong.

Data proyek mencatat peningkatan pengetahuan masyarakat tentang dugong sebesar 21 persen dan peningkatan pemahaman mengenai ekosistem lamun sebesar 18 persen. Selain itu, kerja sama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga konservasi juga semakin kuat.

Manajer Portofolio CTC Maluku, Purwanto, menyebut salah satu keberhasilan terbesar program tersebut adalah munculnya inisiatif perlindungan yang dipimpin langsung oleh masyarakat.

Ia mencontohkan Desa Mahu yang telah menetapkan Peraturan Desa Nomor 3 Tahun 2023 tentang Perlindungan Sumber Daya Alam. Regulasi tersebut mencakup perlindungan dugong serta pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan pesisir.

Proyek Dugong Kalesang berangkat dari inisiatif Adopt-A-Coral dan Adopt-A-Mangrove dari Coral Triangle Center untuk memperkuat partisipasi publik dalam konservasi laut sekaligus mendukung kegiatan seperti sains warga, program kesadaran dan pendidikan, perlindungan habitat, dan aksi konservasi jangka panjang.

Untuk memperluas partisipasi publik, CTC juga meluncurkan program Adopt-A-Dugong. Program adopsi simbolis ini bertujuan mendukung kegiatan konservasi dugong dan lamun yang sedang berjalan di Maluku.

Melalui inisiatif tersebut, masyarakat dapat berkontribusi dalam mendukung kegiatan sains warga, edukasi lingkungan, perlindungan habitat, serta berbagai program konservasi jangka panjang. Para peserta akan memperoleh sertifikat adopsi, laporan perkembangan konservasi, materi edukasi, serta informasi mengenai dampak yang dihasilkan dari program tersebut.

Upaya perlindungan dugong dinilai tidak hanya penting bagi kelestarian satwa laut, tetapi juga bagi keberlanjutan ekosistem pesisir yang menopang kehidupan masyarakat. Sebagai penjaga alami kesehatan padang lamun, dugong menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut Indonesia untuk generasi mendatang.