EKBIS
Timur Tengah Memanas, Celios: Momentum Pengembangan EBT
apakabar.co.id, JAKARTA - Center of Economics and Law Studies (Celios) mengungkapkan Indonesia perlu mulai mempertimbangkan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di tengah tingginya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda mengungkapkan pengembangan mobil listrik hingga pembangkit energi industri sudah mulai dipikirkan dari EBT.
"Teknologi panel surya seharusnya bisa mempunyai peran penting dalam suplai energi ke industri dan juga dari pembangkit listrik. Sehingga mobil listrik juga digerakkan oleh sumber energi yang bersih," katanya di Jakarta, Selasa (3/3).
Sebagai informasi, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan energi dan ekonomi nasional imbas eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ibas mengatakan situasi tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, inflasi global, dan keamanan kawasan.
Secara spesifik, Ibas menyoroti Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan energi vital di dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur sempit ini, eskalasi konflik berisiko memicu hambatan distribusi atau bahkan penutupan jalur.
Selat Hormuz, imbuh dia, adalah urat nadi bagi 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, sekaligus jalur utama bagi gas alam cair (LNG) dari Qatar. Jika stabilitas di selat tersebut terganggu, dunia akan menghadapi kejutan pasokan.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

