OPINI
Urgensi Transformasi Pesantren di Indonesia
Oleh: Imam Jazuli*
Malam itu, 14 April 2026, Cirebon terasa lebih sejuk. Ada tamu istimewa di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Tamu itu bukan orang asing. Ini kunjungan ke-7 bagi sang tamu agung.
Namanya begitu populer. Di kalangan kaum Nahdliyin, siapa tak kenal Kiai Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim. Pendiri dan Pengasuh Amanatul Ummah, Mojokerto. Seorang figur yang telah lama dikenal konsisten mendorong pembaruan pendidikan berbasis pesantren.
Pertemuan itu bukan nostalgia, melainkan dialog yang menyentuh persoalan yang selama ini sering disadari, tetapi jarang dihadapi dengan keberanian bahwa pesantren perlu bertransformasi secara serius dan terukur.
Dalam percakapan yang mengalir tanpa sekat formalitas, ada kegelisahan yang sejujurnya dirasakan banyak orang utamanya kaum Nahdliyin.
Selama ini, Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai organisasi dengan basis massa terbesar. Namun, kekuatan itu belum selalu berbanding lurus dengan kualitas infrastruktur layanan publik yang dibangun.
Ketika organisasi massa lain mampu menghadirkan rumah sakit unggulan, universitas berkelas, dan unit usaha yang modern, pesantren sebagai jantung pendidikan NU masih tertinggal dalam hal integrasi keilmuan dan kesiapan sumber daya manusia di bidang strategis.
Persoalan ini menjadi semakin nyata ketika melihat struktur birokrasi dan profesionalisme di tingkat menengah.
Banyak kader NU yang berhasil menembus posisi politik tinggi, bahkan menjadi menteri. Namun, pada level teknokratis seperti direktur jenderal, direktur, hingga jabatan birokrasi teknis lainnya, kehadiran kader dengan latar pesantren masih relatif terbatas.
Kekosongan ini bukan sekadar soal representasi, tetapi mencerminkan adanya kesenjangan kompetensi yang belum sepenuhnya dijawab oleh sistem pendidikan yang ada.
Akar persoalannya tidak sederhana, tetapi salah satu yang paling krusial adalah orientasi pendidikan pesantren yang selama ini cenderung terfokus pada satu dimensi.
Pendalaman ilmu agama tetap menjadi kekuatan utama yang tidak boleh dikompromikan. Namun, dalam konteks perubahan zaman yang begitu cepat, pendekatan ini perlu diperluas.
Pesantren tidak cukup hanya melahirkan ahli agama yang mumpuni, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara mendalam.
Relevansi Transformasi
Di sinilah gagasan transformasi menjadi relevan. Transformasi yang dimaksud bukan sekadar perubahan kosmetik, melainkan perombakan paradigma.
Kurikulum pesantren perlu dirancang ulang agar mampu mengintegrasikan ilmu keagamaan dengan bidang-bidang strategis seperti sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Pendekatan ini bukan untuk menggantikan tradisi keilmuan pesantren, melainkan untuk memperkuatnya agar tetap relevan dalam konteks global.
Kiai Asep Saifuddin Chalim menekankan pentingnya melahirkan santri yang tidak hanya fasih dalam kitab kuning, tetapi juga kompeten sebagai dokter, insinyur, ahli teknologi informasi, dan berbagai profesi strategis lainnya. Pandangan ini bukan tanpa dasar.
Tanpa kehadiran sumber daya manusia yang menguasai sektor-sektor kunci tersebut, sulit membayangkan bagaimana pesantren dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan layanan publik yang berkualitas.
Transformasi ini juga menuntut perubahan dalam cara memandang hasil pendidikan. Orientasi output menjadi kunci. Pesantren tidak hanya dinilai dari kedalaman ilmu yang diajarkan, tetapi juga dari sejauh mana lulusannya mampu berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam hal ini, terdapat dua pendekatan yang sama-sama menunjukkan arah perubahan.
Amanatul Ummah di Mojokerto berhasil mengantarkan sebagian besar santrinya masuk ke perguruan tinggi negeri terbaik di dalam negeri. Sementara itu, Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon memilih jalur yang lebih agresif dengan mendorong sebagian besar santrinya meraih beasiswa ke luar negeri.
Perbedaan pendekatan ini justru memperkaya strategi. Keduanya menunjukkan bahwa pesantren memiliki ruang untuk berinovasi sesuai dengan konteks dan visi masing-masing.
Yang terpenting adalah adanya kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pola lama yang stagnan. Pesantren harus menjadi institusi yang adaptif, terbuka terhadap perubahan, dan berani mengambil langkah-langkah strategis yang mungkin tidak populer pada awalnya.
Ekosistem Keilmuan
Lebih jauh, transformasi pesantren bukan hanya soal mencetak individu yang sukses secara akademik atau profesional. Tapi berkaitan dengan upaya yang lebih besar untuk membangun ekosistem keilmuan yang utuh.
Ketika santri mampu menguasai ilmu agama sekaligus ilmu modern, mereka memiliki potensi untuk menghadirkan perspektif baru dalam berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga kebijakan publik. Kombinasi ini menjadi keunggulan yang tidak dimiliki oleh banyak sistem pendidikan lain.
Dalam jangka panjang, dampak dari transformasi ini bisa sangat signifikan. Jika setiap pesantren mulai mengadopsi pendekatan yang lebih integratif, dalam satu atau dua dekade ke depan, lanskap sumber daya manusia Indonesia dapat berubah secara fundamental.
Bukan lagi sekadar soal jumlah, tetapi kualitas dan distribusi kompetensi. Rumah sakit yang dikelola oleh kader pesantren, universitas riset yang dipimpin oleh alumni santri, hingga birokrasi yang diisi oleh individu yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus ketajaman analitis, bukan lagi sekadar imajinasi.
Namun, perubahan ini tidak akan terjadi secara otomatis. Tapi membutuhkan keberanian kolektif dari para pemimpin pesantren untuk keluar dari zona nyaman. Dibutuhkan juga dukungan kebijakan yang mampu mendorong integrasi kurikulum dan akses terhadap sumber daya pendidikan yang lebih luas.
Yang tidak kalah penting adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap pesantren itu sendiri. Pesantren harus dilihat bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia yang strategis.
Pertemuan di Cirebon itu, pada akhirnya, menjadi simbol dari sebuah momentum. Namun juga menunjukkan bahwa kesadaran untuk berubah sudah ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan keberanian untuk menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.
Transformasi pesantren bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak jika ingin memastikan bahwa pendidikan Islam tetap menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan bangsa.
Oleh karena itulah, upaya ini dapat dipahami sebagai bentuk ikhtiar yang lebih luas. Bukan sekadar pembaruan sistem pendidikan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai.
Sebuah upaya yang menuntut kesungguhan, tetapi juga menyimpan harapan besar bagi arah pembangunan Indonesia ke depan.
*) Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia)
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY