NEWS
Iran Minta Jaminan Hentikan Serangan, Inggris Dorong Deeskalasi Konflik
Iran menegaskan bahwa upaya mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel harus disertai jaminan agar serangan tidak terulang di masa depan.
apakabar.co.id, JAKARTA – Iran menegaskan bahwa upaya mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel harus disertai jaminan agar serangan tidak terulang di masa depan. Sikap itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, seperti dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA, Jumat (20/3).
Dalam pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa penghentian perang tidak cukup hanya dengan gencatan senjata sementara. Menurutnya, diperlukan komitmen yang lebih kuat untuk memastikan stabilitas jangka panjang.
“Penghentian perang harus disertai jaminan untuk mencegah terulangnya agresi,” ujarnya.
Iran juga meminta Inggris untuk menahan diri dari keterlibatan dalam konflik, baik secara militer maupun bentuk dukungan lainnya. Araghchi memperingatkan bahwa dukungan terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel berpotensi memperburuk situasi.
Ia turut menyinggung penggunaan fasilitas militer Inggris oleh Amerika Serikat, yang menurutnya dapat dipersepsikan sebagai bagian dari konflik. Selain itu, Iran juga mengimbau agar tidak ada dukungan dalam ranah informasi atau media yang dapat memperkeruh ketegangan.
Dalam komunikasi tersebut, Iran menyampaikan keprihatinan atas dampak konflik terhadap warga sipil. Araghchi menyebut serangan terjadi saat Iran masih berada dalam jalur diplomasi, serta menimbulkan korban, termasuk anak-anak. Namun demikian, klaim terkait jumlah korban belum dapat diverifikasi secara independen.
Iran juga menegaskan komitmennya untuk menghormati kedaulatan negara-negara tetangga dan menyatakan tidak memiliki niat memperluas konflik. Meski begitu, Teheran menyoroti penggunaan pangkalan militer di kawasan oleh pihak lain untuk melancarkan serangan ke wilayahnya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menegaskan pentingnya menghentikan konflik dan mendorong penurunan ketegangan di kawasan.
Ia juga menyoroti potensi dampak luas konflik, baik secara politik maupun ekonomi global. Salah satu perhatian utama adalah situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama distribusi energi dunia.
Ketegangan di wilayah tersebut dinilai dapat berdampak pada stabilitas pasokan energi dan ekonomi global jika tidak segera mereda.
Sejak meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada akhir Februari, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah terus berkembang. Aksi militer yang terjadi telah memicu respons dari berbagai pihak dan meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara sekitar.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa selain berdampak pada aspek keamanan, konflik ini juga mulai memengaruhi stabilitas ekonomi kawasan, terutama terkait sektor energi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi dinilai tetap menjadi kunci untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Pernyataan dari kedua pihak menunjukkan adanya keinginan untuk meredakan konflik, meski dengan pendekatan dan kepentingan masing-masing.
Pengamat menilai, tantangan utama dalam proses ini adalah membangun kepercayaan serta memastikan adanya jaminan keamanan yang dapat diterima semua pihak. Selama belum tercapai kesepakatan tersebut, risiko ketegangan berlanjut di kawasan dinilai masih cukup tinggi.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK