NEWS

KLH Tambah Dua Helikopter Atasi Kebakaran TPA Jatiwaringin

Sejumlah petugas beserta alat berat dan helikopter water bombing beraktivitas dalam operasi pemadaman kebakaran di area kTPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Senin (6/8/2026). Foto: ANTARA
Sejumlah petugas beserta alat berat dan helikopter water bombing beraktivitas dalam operasi pemadaman kebakaran di area kTPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Senin (6/8/2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup menambah dua helikopter water bombing, sehingga menjadi empat helikopter yang beroperasi dalam pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

"Helikopter sebelumnya sudah dua terus menyiram air. Sekarang ada tambahan dua lagi jadi empat helikopter," kata Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat dalam keterangannya, Senin (6/7).

Selain memperkuat operasi udara, petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), KLH dan Kemenhut juga terus melakukan pemadaman dari darat dengan dukungan armada pemadam kebakaran serta alat berat, yang menerapkan metode inject untuk memadamkan api di bawah timbunan sampah.

Dengan demikian ditargetkan seluruh titik api dapat dipadamkan pada pekan ini. Meski demikian, petugas agar tetap mewaspadai potensi api muncul kembali akibat panas yang masih tersimpan di dalam timbunan sampah.

"Manggala Agni akan melakukan injeksi (pemadaman dari bawah). Teorinya harusnya mati, tapi kalau panas terus menerus, potensi terbakar lagi ada kalau kita tidak waspada," kata Jumhur Hidayat.

Saat ini, upaya pemadaman menunjukkan perkembangan signifikan. Dari total area terdampak seluas sekitar 18 hektare, titik api yang masih aktif kini tersisa sekitar 3,6 persen atau sekitar 1,68 hektare.

"Tadinya sekitar 70 persen daerah ini membara. Kemudian secara bertahap, kerja keras dimatikan, diberi air dari bawah, disuntik ke bawah, dari atas helikopter jalan terus, pemadam kebakaran dan sebagainya, maka sekarang tinggal 3,6 persen," katanya.

Dalam hal ini pihaknya telah mengerahkan thermal drone untuk mendeteksi radiasi panas untuk menganalisa sumber kebakaran dan titik-titik apinya.

Langkah berikutnya mengerahkan sistem monitoring bergerak yang memantau udara di lokasi kebakaran. Salah satunya memonitor seperti SO2 (Sulfur dioxide), NO2 (Nitrogen dioxide), dan juga PM 1.0 dan PM 2.5.

Dengan karakteristik yang sama seperti kebakaran lahan gambut, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat.

Mereka, katanya, sudah memiliki pengalaman cukup baik dengan dilengkapi peralatan high pressure yang khusus, melakukan pemadaman langsung ke titik api di bawah permukaan tumpukan sampah.

Selain itu melalui BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan skema Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membantu percepatan pemadaman, sehingga situasi kedaruratan kebencanaan kebakaran yang mencapai kurang lebih 18 hektare bisa segera terkendali.