OPINI

Mengubah Ingatan Iklan Menjadi Kesadaran Gizi Keluarga

Petugas menimbang berat badan anak balita di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Matabubu, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (15/1/2026). Foto: ANTARA
Petugas menimbang berat badan anak balita di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Matabubu, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (15/1/2026). Foto: ANTARA
Oleh: Fajar Junaedi*

Sebuah iklan boleh jadi hanya tayang tak sampai satu menit, tetapi pesan yang disampaikannya dapat bertahan puluhan tahun, membentuk kebiasaan keluarga, bahkan memengaruhi cara orang tua menentukan pilihan pangan bagi anak-anaknya.

Misalnya saja, sampai sekarang pasti masih banyak yang ingat tayangan yang menggambarkan keluarga bahagia dalam iklan televisi beberapa dekade lalu. Seorang ayah bersiap bekerja, anak-anak mengenakan seragam sekolah, sementara ibu menyiapkan sarapan dan menuangkan minuman putih ke dalam gelas.

Diiringi musik yang mudah diingat, adegan tersebut menghadirkan kesan bahwa segelas minuman merupakan bagian dari kasih sayang orang tua sekaligus simbol keluarga yang sehat.

Gambaran sederhana itu memperlihatkan betapa kuatnya komunikasi dalam membentuk persepsi masyarakat.

Sesuatu yang disaksikan berulang kali dapat berkembang menjadi keyakinan, kemudian diteruskan sebagai kebiasaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam perjalanan panjang konsumsi kental manis di Indonesia.

Produk yang dahulu kerap ditampilkan sebagai minuman susu keluarga ternyata masih dipersepsikan sebagian masyarakat sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Survei Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap 2.150 responden menunjukkan sebanyak 67,6 persen responden mengaku menggunakan kental manis sebagai pengganti susu. Temuan tersebut mengingatkan bahwa perubahan informasi tidak selalu diikuti perubahan perilaku.

Meskipun pengetahuan gizi terus berkembang dan ketentuan promosi pangan semakin jelas, kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun membutuhkan waktu untuk berubah.

Keberhasilan iklan membentuk ingatan masyarakat berkaitan dengan kemampuannya menghadirkan pesan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Hubungan Emosional

Dalam komunikasi pemasaran, terdapat pendekatan awareness, interest, desire, dan action (AIDA), yakni tahapan ketika seseorang mulai mengenali pesan, tertarik, memiliki keinginan, hingga mengambil tindakan.

Iklan kental manis selama ini berhasil membangun hubungan emosional dengan masyarakat melalui pesan yang mudah dikenali dan relevan dengan kehidupan keluarga.

Iklan menjadi cara mengemas pesan kepada audiens di media untuk membangkitkan AIDA, yang akan berhasil ketika branding yang dikemas mengena ke benak audiens.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan manusia tidak selalu dibentuk oleh pertimbangan rasional. Pengalaman masa kecil, kebiasaan keluarga, dan kedekatan emosional juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami sebuah produk.

Ketika pesan komersial terus dikaitkan dengan kasih sayang ibu, kebahagiaan anak, dan kehangatan keluarga, produk yang ditampilkan memperoleh makna lebih luas daripada fungsi sebenarnya.

Kondisi inilah yang menjadikan literasi gizi dan kemampuan memahami pesan media semakin penting dalam kehidupan masyarakat.

Kental manis sendiri memiliki sejarah panjang sejak berkembang pada abad ke-19 sebagai salah satu cara mengawetkan susu ketika teknologi pendinginan belum tersedia secara luas.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kental manis dengan kandungan gula yang tinggi tidak tepat digunakan sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.

Anak-anak membutuhkan asupan beragam yang menyediakan protein, lemak, vitamin, mineral, serta energi secara seimbang sesuai tahapan pertumbuhannya.
Maka dari itu, persoalan konsumsi kental manis seharusnya tidak berhenti pada perdebatan mengenai produk, melainkan menjadi pintu masuk untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kebutuhan gizi keluarga.

Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021 tentang Label Pangan Olahan menjadi salah satu landasan pengaturan informasi pangan, termasuk ketentuan penyajian dan promosi kental manis agar tidak menimbulkan persepsi keliru.

Akan tetapi, regulasi saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan yang telah mengakar. Masyarakat juga membutuhkan penjelasan yang mudah dipahami, berkelanjutan, dan sesuai dengan kondisi kehidupan mereka.

Pendidikan Gizi

Seorang ibu yang memberikan kental manis kepada anaknya mungkin melakukannya karena mengikuti kebiasaan keluarga, keterbatasan informasi, atau pertimbangan kemampuan ekonomi.

Oleh sebab itu, pendidikan gizi perlu mengedepankan empati, bukan menyalahkan pilihan orang tua. Informasi yang benar akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan menghargai pengalaman dan keadaan masyarakat.

Pendekatan tersebut juga menjadi perhatian Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (Makes PP) Aisyiyah yang bekerja sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) untuk melatih kader Aisyiyah menjadi komunikator kesehatan (health influencer).

Melalui pelatihan tersebut, para kader diharapkan mampu menghasilkan konten edukasi sederhana, menarik, dan mudah dipahami masyarakat dari berbagai latar belakang.
Saat ini, tantangan utama komunikasi kesehatan adalah menghadirkan pesan yang tidak hanya benar secara substansi, tetapi juga mampu menarik perhatian dan bertahan dalam ingatan masyarakat.

Oleh sebab itu, pendekatan what to say atau apa yang disampaikan harus berjalan beriringan dengan how to say, yakni bagaimana informasi dikemas agar relevan dengan kebutuhan audiens.

Tagline yang mudah diingat, cerita kehidupan sehari-hari, serta ajakan bertindak yang jelas dapat menjadi sarana untuk meluruskan persepsi keliru tentang kental manis.

Pelajaran penting dari fenomena tersebut adalah bahwa pendidikan kesehatan membutuhkan kreativitas komunikasi yang tidak kalah kuat dibandingkan pesan komersial.

Kader kesehatan dapat memanfaatkan percakapan keluarga, kegiatan masyarakat, maupun media sosial untuk menjelaskan perbedaan fungsi kental manis dan susu, pentingnya membaca label pangan, serta cara memenuhi kebutuhan gizi anak sesuai kemampuan keluarga.

Pendidikan semacam ini sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi konsumen yang lebih kritis, memahami informasi produk, dan tidak menjadikan daya tarik iklan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Di sisi lain, dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan komunikasi produk yang jelas dan tidak menimbulkan pemahaman keliru, terutama ketika pesan berkaitan dengan kesehatan dan kebutuhan anak.

Dengan demikian, perlindungan konsumen tidak hanya bergantung pada pengawasan pemerintah, tetapi juga memerlukan tanggung jawab industri, peran pendidik, keterlibatan komunitas, serta kesadaran keluarga.

Pada perkembangannya kemudian, perubahan perilaku masyarakat tidak selalu dimulai melalui kebijakan besar. Perubahan dapat lahir dari seorang ibu yang mulai membaca label pangan, seorang kader yang menjelaskan informasi gizi dengan sabar, atau keluarga yang semakin memahami kebutuhan nutrisi anak-anaknya.

Iklan memiliki kekuatan membuat sebuah pesan dikenang selama puluhan tahun. Namun, pendidikan yang tepat memiliki kekuatan lebih bermakna, yakni mengubah ingatan menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi pilihan yang lebih bijaksana.

Sebab, keberhasilan komunikasi bukan semata-mata diukur dari seberapa lama sebuah pesan diingat, melainkan seberapa jauh pesan tersebut membantu masyarakat menjalani kehidupan yang lebih sehat, cerdas, dan bermartabat.

*) Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun