LIFESTYLE

Obesitas Bukan Sekadar Kebanyakan Makan dan Kurang Olahraga

Ilustrasi obesitas. Foto: istimewa
Ilustrasi obesitas. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA – Obesitas selama ini kerap dianggap hanya sebagai akibat dari kebiasaan makan berlebihan dan kurang berolahraga. Namun, dokter spesialis gizi klinik Diana Suganda menegaskan bahwa kondisi tersebut sebenarnya merupakan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

Menurut dokter yang menyandang gelar Sp.GK, M.Kes. tersebut, obesitas tidak bisa dijelaskan hanya melalui keseimbangan antara asupan kalori dan pengeluaran energi. Dalam praktik medis, ia kerap menemukan berbagai faktor lain yang memengaruhi kondisi tersebut.

“Obesitas itu sangat kompleks, tidak cuma soal intake dan output saja. Ada banyak sekali faktor multifaktorial,” kata Diana dikutip dari Antara, Kamis (5/3).


Dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialis gizi klinik di Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa salah satu faktor penting yang memengaruhi obesitas adalah sistem hormon di dalam tubuh.

Hormon-hormon tertentu memiliki peran penting dalam mengatur rasa lapar, kenyang, serta nafsu makan. Namun pada sebagian orang, sistem pengaturan tersebut tidak bekerja secara optimal.

Ia mencontohkan, ada kondisi ketika seseorang sudah makan hingga merasa kenyang, tetapi tubuhnya tetap mengirimkan sinyal lapar. Hal ini menandakan adanya gangguan pada sistem pengaturan sinyal di dalam tubuh.

“Berarti ada sinyal-sinyal di dalam tubuh kita yang tidak beres. Jadi bukan sekadar masalah mengatur makan dan olahraga saja,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Diana, juga sering membuat seseorang mengalami kesulitan mempertahankan berat badan ideal. Banyak pasien yang berhasil menurunkan berat badan melalui diet dan olahraga, namun berat badan tersebut kembali naik setelah beberapa waktu.

Menurutnya, hal ini berkaitan dengan perubahan hormonal di dalam tubuh yang memengaruhi metabolisme dan keinginan untuk makan.

Selain faktor hormon, Diana juga menyebut adanya sel-sel memori dalam tubuh yang berperan dalam proses kenaikan berat badan kembali. Sel-sel ini “mengingat” kondisi berat badan sebelumnya sehingga tubuh cenderung kembali ke berat badan semula.

Tidak hanya itu, perubahan kapasitas lambung setelah penurunan berat badan juga dapat memengaruhi rasa lapar. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang bagi sebagian orang.

“Itu banyak sekali yang saya temui di praktik. Pasien sudah berhasil turun berat badannya, tapi kemudian naik lagi. Salah satunya karena urusan hormonal yang tidak stabil tadi,” ujarnya.

Karena itu, Diana menekankan pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mengatasi obesitas, termasuk perubahan pola makan yang lebih sadar atau mindful eating.

Mindful eating merupakan konsep makan dengan kesadaran penuh terhadap kebutuhan tubuh, termasuk memahami porsi makan yang sesuai dan mengenali sinyal lapar serta kenyang.


Dengan cara tersebut, seseorang tetap dapat menikmati berbagai jenis makanan, termasuk saat momen perayaan seperti hari raya.

“Misalnya saat Lebaran atau Natal, ya makan saja. Tapi tahu porsinya dan tahu kebutuhan tubuh kita. Kalau sudah cukup, tidak perlu berlebihan,” ungkap Diana.