OPINI

Saatnya Kampus Membawa Perubahan dalam Persoalan Sampah

Sampah makanan terlihat bercampur dengan sampah lainnya di TPA Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur. Foto: Getty Images
Sampah makanan terlihat bercampur dengan sampah lainnya di TPA Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur. Foto: Getty Images
Oleh: Eko Wahyuanto*

Persoalan sampah di Indonesia bukan lagi sekadar isu estetika, melainkan ancaman serius bagi ekosistem daerah.

Presiden Prabowo Subianto meminta kampus turun tangan mengurus sampah di berbagai wilayah. Presiden tidak ingin perguruan tinggi terjebak dalam kehidupan "menara gading" akademik, berteori, sementara sungai di belakang kampus tersumbat plastik.

Sampah, kini menjadi tantangan intelektual bangsa yang harus dijawab melalui sains dan teknologi tepat guna. ​Krisis limbah, bahkan telah melampaui batas toleransi. Data menunjukkan, Indonesia memproduksi 69 juta ton sampah per tahun dan hampir 60 persen di antaranya tidak terkelola, sehingga mencemari lingkungan.

Kegagalan kolektif ini membutuhkan intervensi sains secara total. Langkah tersebut harus dilakukan secara radikal melalui cara-cara baru yang lebih efektif.

Langkah ekstrem memang perlu diambil untuk menyelamatkan masa depan lingkungan hidup dan nasib anak cucu. Mereka tidak boleh hidup dalam kepungan mikroplastik dan polusi tanah yang mematikan.
Kapasitas tempat pemrosesan akhir sampah di kota-kota besar, kini sudah berada pada kondisi kritis. Mayoritas masih mengandalkan sistem open dumping yang membahayakan kesehatan masyarakat sekitar. Pola kumpul-angkut-buang terbukti gagal menghadapi ledakan populasi sampah, baik di perkotaan maupun perdesaan.

Karena itu, diperlukan terobosan teknologi yang mampu menyelesaikan persoalan langsung dari sumbernya. Tanpa langkah tersebut, gunungan sampah hanya akan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa penyelesaian nyata. Padahal sampah sebenarnya dapat diolah menjadi energi maupun produk baru bernilai ekonomi.

Program ASRI

​Instruksi Presiden tentang program Aksi Sanitasi dan Resik Indonesia (ASRI) merupakan gerakan sapu bersih sampah secara struktural.

Program ini dirancang untuk memperbaiki manajemen limbah daerah secara berkelanjutan dan terintegrasi. Namun, ASRI tanpa intervensi sains hanya akan menjadi ajang bagi-bagi gerobak sampah. Program ini menuntut kecerdasan eksekusi agar sampah dapat diubah menjadi potensi ekonomi.

Kampus harus menjadi otak penggerak operasional ASRI. Pemerintah juga perlu terus mendorong kolaborasi strategis dengan kalangan akademisi dalam setiap tahapan kebijakan publik. Intervensi kampus dapat dilakukan melalui penciptaan standarisasi teknologi pengolahan sampah, hingga pengelolaan pascapanen limbah.

Selama ini beberapa daerah kerap gagal karena membeli teknologi mahal yang akhirnya berubah menjadi besi tua. Mesin pengolah sampah yang dibeli dengan harga tinggi tidak dapat digunakan secara optimal. ​Karena itu, kampus harus mampu mendesain alat pengolahan tepat guna yang bisa dimanfaatkan komunitas lokal secara mandiri.

Jangan sampai daerah hanya memajang mesin impor rongsokan karena ketiadaan suku cadang murah maupun teknisi ahli.
Inovasi memang harus lahir dari kampus, karena merekalah yang memahami anatomi serta karakter sampah organik Indonesia. Negeri ini membutuhkan solusi yang kompatibel dengan kondisi daerah agar campuran limbah rumah tangga yang heterogen dapat dipisahkan dan diolah menjadi produk bermanfaat.

Selain itu, dibutuhkan lebih banyak pusat riset dan laboratorium yang dapat dipindahkan ke bengkel-bengkel kerja tingkat desa guna memutus rantai masalah yang rumit.

Devi Fitriani, seorang ahli saintek processor dari Universitas Indonesia, menegaskan pentingnya pendekatan integratif antara perangkat keras dan sistem digital dalam pengelolaan limbah.

Teknologi harus mampu memilah sampah secara otomatis dengan tingkat presisi tinggi. Tanpa akurasi pemilahan sejak awal, proses daur ulang justru akan mengakibatkan pemborosan energi.

Sains harus mampu memberikan solusi teknis yang efisien, sehingga biaya operasional tetap rendah. Inilah tantangan nyata bagi para insinyur dan peneliti di kampus-kampus.

​Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Bryan Yulianto menekankan pentingnya adopsi teknologi sensor dan manajemen data digital dalam ekosistem pengolahan sampah nasional. Digitalisasi memungkinkan pemantauan aliran limbah secara real-time dari titik hulu ke hilir, tanpa celah.
Integrasi data sebagai basis pengelolaan sampah akan memastikan setiap kilogram sampah terkelola secara transparan dan bertanggung jawab. Teknologi bukan instrumen pelengkap, melainkan tulang punggung sistem modern pengelolaan lingkungan bersih. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat mengambil keputusan kebijakan publik berbasis fakta lapangan.

​Kampus memegang peran kunci dalam validasi data melalui riset mendalam di setiap wilayah. Selama ini banyak kebijakan daerah lahir dari tebakan tanpa pemetaan akurat mengenai jenis limbah yang dihasilkan masyarakat.

Keterlibatan akademisi membuat setiap langkah dalam program ASRI menjadi lebih presisi dan terukur secara ilmiah. Apakah sebuah wilayah lebih membutuhkan pabrik pupuk organik atau justru industri daur ulang plastik, semua harus diputuskan berdasarkan kajian ilmiah agar investasi infrastruktur negara tidak salah sasaran lagi.

Rekayasa Sosial

​Masalah sampah pada dasarnya adalah masalah perilaku manusia yang kompleks dan mengakar pada budaya masing-masing daerah. Kampus memiliki instrumen rekayasa sosial melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang tersebar hingga pelosok desa.

Mahasiswa harus menjadi agen perubahan budaya dengan mendampingi warga memilah sampah langsung dari dapur mereka sendiri. Kaum intelektual muda memiliki legitimasi moral yang kuat untuk meruntuhkan kebiasaan buruk masyarakat.

Mengubah mentalitas membuang sampah sembarangan jauh lebih sulit dibanding sekadar membangun gedung pengolahan limbah tercanggih di kota.

​Anggaran pengelolaan sampah di banyak kabupaten selama ini habis hingga 80 persen hanya untuk urusan transportasi. Sedikit sekali dana yang tersisa untuk inovasi pengolahan maupun riset teknologi di lapangan. Karena itu, keterlibatan kampus harus mampu membongkar pola boros tersebut melalui strategi pengolahan di tempat yang cerdas.
Sistem ini dapat memangkas biaya logistik yang selama ini mencekik APBD daerah secara sistematis. Efisiensi anggaran ini nantinya bisa dialihkan untuk program pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan di masyarakat lokal.

​Penghematan biaya logistik juga dapat digunakan untuk membiayai riset terapan yang berkelanjutan dan aplikatif.

Kita tidak bisa terus membakar uang pajak hanya untuk memindahkan masalah lingkungan dari satu titik ke titik lain. Kampus harus menawarkan model bisnis sirkular yang mampu mengubah limbah menjadi energi baru bagi industri.

Inilah esensi kedaulatan sains yang diminta oleh Presiden dalam arahannya kepada publik dan akademisi. Inovasi harus mampu menghasilkan kemandirian ekonomi, sekaligus memperbaiki kualitas udara dan air tanah.

Kedaulatan Lingkungan

​Sampah harus dipandang sebagai aset berharga. Sinergi visi Presiden, program ASRI, dan riset perguruan tinggi harus menjadi satu tarikan nafas kuat dalam menangani krisis lingkungan di berbagai daerah.

Pemerintah daerah juga tidak boleh lagi menutup diri dari inovasi kampus. Birokrasi harus fleksibel menerima masukan ilmiah demi kepentingan lingkungan hidup. Di sisi lain, kampus tidak boleh lagi memandang persoalan sampah sebagai pekerjaan kelas dua bagi para peneliti. Dunia akademik harus berani turun ke selokan untuk menguji keabsahan teori mereka.

Keberhasilan ASRI sangat bergantung pada keberanian akademisi menghadapi realitas pengelolaan sampah yang belum memadai. Bukankah intelektualitas sejati adalah kemampuan menghadirkan jawaban nyata atas persoalan rakyat?
Reputasi kampus, kini dipertaruhkan pada kemampuannya menyelesaikan masalah nyata, bukan sekadar menghasilkan teori, tanpa dampak nyata.

​Kolaborasi ini tidak boleh gagal, agar ASRI terealisasi sesuai rencana pemerintah, bukan sekadar menjadi catatan kaki dalam sejarah sanitasi Indonesia. Kampus harus bersedia turun ke palagan penuh sampah, sebagai bukti komitmen terhadap instruksi Presiden Prabowo.

Di sinilah titik balik bagi perjuangan kedaulatan lingkungan Indonesia. Kita membutuhkan aksi nyata dan terukur, bukan sekadar kajian akademik yang berhenti sebagai dokumen resmi. Komitmen ini harus dijalankan dengan integritas tinggi oleh seluruh pemangku kepentingan, tanpa terkecuali.

Menanti Eksekusi

​Publik, kini menunggu kampus-kampus daerah menjawab tantangan besar tersebut melalui inovasi nyata di lapangan ​Waktu kita tidak banyak, sebelum kerusakan lingkungan menjadi semakin parah. Setiap detik keterlambatan berarti tambahan tonase pencemar masuk ke tanah dan air.

Inovasi saintek dari figur seperti Devi dan Bryan Yulianto harus diimplementasikan dan segera disimulasikan di daerah. Hanya dengan kerja keras lintas sektor kita bisa keluar dari jerat krisis sampah ini secara terhormat. Momentum ini harus dijadikan kebangkitan sains nasional yang berpihak pada rakyat.

​Kemandirian dalam mengelola limbah merupakan wujud nyata kedaulatan bangsa yang merdeka dan bermartabat. Kampus harus membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah obor penerang di tengah gelapnya persoalan lingkungan.

Rakyat merindukan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif untuk dihuni generasi mendatang. Presiden sudah membuka jalan, tinggal bagaimana civitas akademika melangkah maju membawa perubahan konkret. Jangan biarkan harapan rakyat terkubur di bawah tumpukan sampah yang terus tidak terurus.

Semangat program ASRI harus meresap hingga ke seluruh penjuru Indonesia melalui kolaborasi antara teknologi saintek dan kearifan lokal. Selamat bekerja bagi para intelektual pejuang lingkungan di seluruh tanah air.

*) Dosen dan pengamat kebijakan publik