EKBIS

DPR Minta Pertamina Segera Normalkan Distribusi BBM di Bali

Anggota polisi berjaga di tengah antrean kendaraan yang akan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Denpasar, Bali, Selasa (13/10/2026). Pertamina Patra Niaga menambah pasokan BBM sebanyak 26.200 kiloliter secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan di Bali men
Anggota polisi berjaga di tengah antrean kendaraan yang akan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Denpasar, Bali, Selasa (13/10/2026). Pertamina Patra Niaga menambah pasokan BBM sebanyak 26.200 kiloliter secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan di Bali men
apakabar.co.id, JAKARTA - Anggota DPR RI I Wayan Sudirta meminta Pertamina untuk menormalkan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan mengevaluasi sistem manajemen rantai pasok maritim (maritime supply chain) untuk wilayah Bali, karena merupakan destinasi pariwisata internasional.

"Saya prihatin dan menyayangkan terjadinya krisis BBM di Bali. Bali adalah etalase pariwisata Indonesia yang mobilitas masyarakatnya sangat tinggi," kata Sudirta dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10).

Dia menyoroti masalah BBM yang memicu antrean panjang hingga berjam-jam di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Denpasar, Badung, Tabanan dan beberapa Kabupaten lainnya di Bali, dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut, kata dia, merugikan aktivitas ekonomi masyarakat dan tidak sejalan dengan posisi sebagai destinasi pariwisata internasional.
​
Berdasarkan pengecekan fakta langsung dan laporan di lapangan, kata Sudirta, antrean kendaraan mengular hingga ke jalan raya dan memicu kemacetan parah di sejumlah titik.

Masyarakat, ujar Sudirta, mulai dari pekerja harian, pengemudi ojek online, hingga wisatawan, harus kehilangan waktu produktif mereka hanya untuk mendapatkan BBM.
​
"Keterlambatan distribusi dengan alasan kendala logistik kapal yang bersandar di Terminal Manggis maupun Sanggaran tidak boleh menjadi alasan klasik yang terus berulang. Masyarakat kita yang menjadi korban, waktu mereka terbuang, dan ekonomi rakyat kecil terhambat," ujarnya.
​
Meski pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus telah mengonfirmasi bahwa kelangkaan ini disebabkan oleh keterlambatan kapal tanker dan saat ini telah menambah pasokan sebesar 26.200 kiloliter serta mengoperasikan terminal tertentu 24 jam penuh, Sudirta menilai langkah penanganan harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat dan evaluasi menyeluruh.

Terobosan Gubernur Bali Wayan Koster yang menginstruksikan agar seluruh SPBU yang ada di Denpasar dan Badung untuk membuka layanan selama 24 jam memang cukup membantu untuk mengurangi masalah, namun menurut pengelihatan langsung di lapangan, Wayan Sudirta menemukan bahwa sekalipun SPBU beroperasi 24 jam, akan tetapi sebagian dari SPBU yang ada sudah kehabisan minyak untuk dijual.

Untuk mengatasi krisis ini secara tuntas dan mencegah hal serupa terulang, I Wayan Sudirta menawarkan dan mendesak beberapa solusi strategis, di antaranya yaitu Pertamina harus memastikan tambahan pasokan BBM benar-benar terdistribusi merata ke seluruh SPBU yang kosong, khususnya di titik-titik krusial seperti Denpasar, Badung dan Tabanan.

Kemudian operasional 24 jam di Terminal Sanggaran dan Manggis harus diawasi ketat implementasinya di lapangan oleh pihak yang berwajib.

Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi jajaran Kepolisian (Polres dan Polsek setempat) yang telah turun ke lapangan, namun intensitas pengamanan di area SPBU harus ditingkatkan secara maksimal, antara lain untuk mengatasi kemacetan, membantu menyampaikan informasi kepada Masyarakat yang sedang mengantre dan lain-lain. Pengaturan lalu lintas mutlak diperlukan agar antrean tidak melumpuhkan urat nadi jalan-jalan utama.

Sudirta juga meminta Pertamina wajib mengevaluasi sistem manajemen rantai pasok maritim (maritime supply chain) untuk wilayah Bali. Harus ada skenario cadangan (Rencana Kontingensi) jika terjadi cuaca buruk atau kendala operasional kapal tanker, sehingga buffer stock (stok penyangga) di terminal darat mampu memenuhi kebutuhan hingga pasokan baru tiba.

Petugas ​Pertamina, Kepolisian dari Polda Bali dan aparat Pemerintah harus memberikan informasi yang real-time secara aktif dan terus menerus kepada masyarakat terkait SPBU mana saja yang stoknya tersedia. Hal ini penting untuk mencegah panic buying dan penumpukan antrean di satu titik saja.

​"Sebagai wakil rakyat Bali, saya terus memantau perkembangan situasi ini. Kami meminta Pertamina untuk menjamin bahwa dalam 1x24 jam ke depan, masalah ini bisa terurai dan distribusi kembali normal. Jangan biarkan masyarakat Bali kesulitan di tanahnya sendiri," kata Sudirta.