OPINI

Perempuan di Dunia Digital: Kesempatan Sama untuk Semua

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mempraktikkan penerapan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dalam Pelatihan Literasi Digital Perempuan PandAI di Rumah Kreatif Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Ngawi, Jawa Timur, Selasa (18/11/2025). Foto: A
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mempraktikkan penerapan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dalam Pelatihan Literasi Digital Perempuan PandAI di Rumah Kreatif Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Ngawi, Jawa Timur, Selasa (18/11/2025). Foto: A
Oleh: Joko Rurianto*

Setiap tanggal 8 Maret kita memperingati Hari Perempuan Internasional. Bila kita hubungkan dengan dunia digital, saat ini, maknanya semakin terasa. Internet, kini ibarat jalan raya utama tempat orang belajar, bekerja, membangun usaha, hingga mengakses layanan penting di berbagai bidang, seperti kesehatan dan perbankan.

Meskipun demikian, tidak semua orang bisa melintas di jalan ini dengan mudah, terutama kalangan perempuan. Masih ada kesenjangan, siapa yang bisa terhubung, siapa yang mampu membayar, dan siapa yang memiliki keterampilan untuk menggunakan teknologi secara aman dan bermanfaat.

Di Indonesia dan di banyak negara lain, kesenjangan ini memang mulai mengecil, tetapi belum benar-benar tertutup. Karena itu, momentum Hari Perempuan Internasional mendorong kita untuk memastikan jalan digital ini dapat diakses oleh semua, termasuk kaum perempuan, tanpa hambatan.

Angka global terbaru menunjukkan, laki-laki yang memakai internet lebih banyak daripada perempuan. Pada 2024, sekitar 70 persen laki-laki menggunakan internet, sementara perempuan 65 persen. Artinya, ada selisih sekitar 189 juta orang. Dan jurang ini paling terasa di negara berpendapatan rendah. Di sana, hanya 27 persen penduduk yang online, jauh tertinggal dari negara maju. Jadi, walau dunia makin digital, sebagian besar perempuan di negara berpendapatan rendah belum bisa ikut mengambil peran.

Kabar baiknya, di negara berkembang, perempuan mulai mengejar. Laporan terakhir dari BCG menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan mulai mengecil, dari 19 persen (2022) menjadi 15 persen (2023).

Indonesia termasuk yang mendorong perbaikan kesetaraan penggunaan internet ini. Meskipun begitu, masih ada sekitar 785 juta perempuan yang belum bisa menikmati fasilitas daring tersebut. Banyak yang terhambat karena belum punya ponsel pintar (smartphone) atau kuota internet yang tergolong masih mahal untuk dijangkau.

Untuk menutup jurang ini, bukan sekadar "isu perempuan". Hitung-hitungannya jelas: jika perempuan mendapat akses digital yang sama, ekonomi dunia bisa bertambah sekitar 1,5 triliun dolar AS dan puluhan juta perempuan bisa keluar dari kemiskinan sebelum 2030. Ada juga sisi keadilan sosial.

Laporan Forum Ekonomi Dunia menyebut, bila kita melaju seperti sekarang, butuh 134 tahun untuk mencapai kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan. Itu artinya anak cucu kita masih akan membahas hal yang sama jika kita tidak mempercepat langkah, terutama lewat jalur digital yang pertumbuhannya paling cepat.

Tantangan

Apa pelajaran utama dari Hari Perempuan Internasional 2026 ini? Tema Hari Perempuan Internasional 2026 adalah "Hak. Keadilan. Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan". Tema ini membawa pesan sederhana: hak itu harus terasa di kehidupan sehari-hari, bukan hanya tertulis dalam aturan.

Saat ini, menurut PBB, hak yang dinikmati perempuan baru sekitar 64 persen dari hak laki-laki di berbagai bidang (pekerjaan, uang, keluarga, keselamatan, dan lain-lain). Jika perubahan berjalan pelan, butuh ratusan tahun sampai benar-benar mencapai posisi setara antara laki-laki dengan perempuan.

Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, tetapi aksi, mulai dari kebijakan yang tepat, penegakan hukum, sampai program yang menyentuh akar masalah.

Seruang dengan itu, juga menyinggung keamanan di dunia daring. Komisi PBB untuk Status Perempuan menekankan bahwa teknologi harus aman dan ramah bagi perempuan, termasuk pencegahan kekerasan dan pelecehan di internet, serta pendidikan digital sejak dini. Tanpa rasa aman, orang enggan menggunakan layanan digital, sebaik apa pun jaringannya.

Untuk mewujudkan semua itu, kita masih mengalami sejumlah tantangan. Pertama, mengenai harga dan perangkat. Di banyak wilayah, internet masih mahal, dan ponsel pintar belum terjangkau semua orang. Untuk sebagian keluarga, memilih paket data sama sulitnya dengan memilih kebutuhan pokok. Ini membuat perempuan (yang sering memprioritaskan kebutuhan rumah tangga), menunda menggunakan akses internet.

Kedua, sinyal dan infrastruktur. Di desa atau wilayah terpencil, sinyal sering tidak stabil. Ini membuat pengalaman untuk mengakses dunia dalam jaringan (daring) menjadi mengecewakan.

Ketiga, keamanan dan kenyamanan. Kekerasan dan pelecehan di dunia maya membuat banyak perempuan takut berekspresi atau enggan mencoba hal baru. Jika platform tidak menyediakan fitur pelaporan dan perlindungan data yang jelas, pengguna rentan menjadi korban.

Keempat, komitmen yang naik-turun. Ada tanda sebagian perusahaan mengendurkan komitmen pada program keberagaman. Padahal, saat teknologi berubah cepat (termasuk AI), kita butuh lebih banyak sudut pandang agar kebijakan dan produk lebih adil.

Langkah Praktis

Ada beberapa langkah praktis yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan komitmen tersebut.

Pertama, buat akses jadi nyata. Perluasan jaringan di wilayah tertinggal, paket khusus yang terjangkau (misalnya paket belajar atau paket UMKM), dan opsi cicilan perangkat berbiaya rendah. Pengalaman banyak negara menunjukkan, saat harga turun, adopsi perempuan naik.

Kedua, ajari dari yang paling dasar. Program literasi digital bertahap, mulai dari cara aman memakai internet (melindungi akun, waspada penipuan), lalu mengelola usaha daring, hingga keterampilan kerja, seperti presentasi atau desain sederhana. Materi bahasa lokal dan contoh sehari-hari membuat orang cepat paham dan percaya diri.

Ketiga, jadikan AI "setara petugas manusia". Untuk layanan pelanggan, tetapkan standar "AI setara agen": hasil harus akurat, tidak bias, bisa dijelaskan, dan ada petugas manusia untuk kasus rumit. Ukur kualitasnya secara berkala.

Keempat, ciptakan ruang digital yang aman. Platform perlu fitur pelaporan yang mudah, perlindungan data yang kuat, dan edukasi anti-kekerasan daring. Jika orang merasa aman, mereka lebih berani belajar, berusaha, dan bersuara.

Kelima, dorong perempuan ke peran teknis dan pemimpin. Tutup celah di level awal: beri pelatihan AI/data yang praktis, mentor, dan jalur karier yang jelas. Banyak bukti menunjukkan, ketika perempuan memimpin di bidang teknologi, adopsi inovasi lebih cepat dan hasilnya lebih inklusif. 

Pada akhirnya, memperluas akses digital bagi perempuan akan menguntungkan semua pihak. Keluarga mendapat penghasilan tambahan dari usaha daring. Anak mendapat bimbingan belajar. Pelayanan publik lebih mudah dijangkau. Ekonomi bertumbuh karena lebih banyak orang ikut pasar digital. Angka-angka global sudah menunjukkan arah: jurang mulai menyempit, tetapi masih panjang. Dengan langkah yang tepat kita bisa mempercepat perubahan.

Tema "Hak. Keadilan. Aksi" bukan sekadar slogan. Hak berarti akses dan perlindungan yang nyata. Keadilan berarti teknologi yang tidak memihak dan ramah bagi semua. Aksi berarti kebijakan, program, dan kolaborasi yang dikerjakan sekarang.

Jika kita konsisten, Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana dunia digital membuka peluang untuk semua, terutama bagi setengah penduduk yang selama ini paling sering tertinggal: perempuan.

*) Profesional di bidang telekomunikasi, aktif menulis jurnal pemasaran strategis dan literasi teknologi digital dalam praktik bisnis modern