LINGKUNGAN HIDUP
Harapan Baru untuk Orangutan yang Kehilangan Hutan
Di tengah laju tambang, perkebunan, dan pembangunan yang terus merambah Kalimantan, harapan baru muncul bagi orangutan morio yang selama ini terpaksa melintasi jalan raya dan kawasan industri demi bertahan hidup.
apakabar.co.id, Sangatta - Di tengah bentangan hutan Kalimantan yang terus berubah, orangutan morio (Pongo pygmaeus morio) menghadapi tantangan yang semakin berat. Satwa endemik yang dikenal sebagai salah satu subspesies orangutan paling tangguh itu kini harus hidup berdampingan dengan jalan tambang, perkebunan kelapa sawit, hingga aktivitas industri yang terus berkembang di Kabupaten Kutai Timur.
Bagi orangutan, perubahan tersebut bukan sekadar persoalan berkurangnya pepohonan. Habitat yang terfragmentasi membuat mereka harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mencari pakan, menemukan pasangan, hingga mempertahankan keberlangsungan populasi.
Tak jarang, orangutan terlihat menyeberangi jalan raya, melintas di sekitar jalur hauling batu bara, bahkan mendekati kawasan permukiman warga.
Kondisi itulah yang kini mendorong lahirnya sebuah langkah konservasi baru di Lanskap Keraitan, kawasan seluas sekitar 560 ribu hektare yang menjadi salah satu kantong penting populasi orangutan morio di Kalimantan Timur.
Pada 12 Juni 2026 di Samarinda, Kementerian Kehutanan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, akademisi, lembaga konservasi, serta sejumlah perusahaan pemegang konsesi menggelar konsultasi publik terkait usulan Peta Indikatif Areal Preservasi Habitat Orangutan Lanskap Keraitan.
Sekilas, agenda tersebut tampak seperti forum biasa. Namun bagi para pegiat konservasi, inisiatif ini menjadi penanda perubahan cara pandang dalam melindungi orangutan.
Tidak Lagi Menunggu Konflik
Selama bertahun-tahun, penanganan orangutan di luar kawasan konservasi lebih sering dilakukan setelah konflik terjadi.
Biasanya petugas baru bergerak ketika ada laporan warga, kemunculan orangutan di kebun, atau video yang viral di media sosial.
Padahal, data menunjukkan persoalan yang terjadi jauh lebih besar.
Berdasarkan catatan yang dipaparkan dalam forum tersebut, sepanjang 2024 BKSDA Kalimantan Timur bersama mitra melakukan evakuasi terhadap 31 individu orangutan.
Angka itu melonjak tajam pada 2025. Dalam dua bulan pertama saja, sudah tercatat 37 individu orangutan yang harus diselamatkan.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa konflik manusia dan orangutan semakin sering terjadi.
Karena itu, pendekatan yang selama ini bersifat reaktif dinilai tidak lagi memadai.
Alih-alih terus mengevakuasi orangutan yang terjebak konflik, berbagai pihak kini mencoba menjaga agar konflik itu tidak terjadi sejak awal.
Rumah yang Terpecah
Secara keseluruhan, habitat orangutan morio di Kalimantan membentang pada kawasan sekitar 4,2 juta hektare.
Namun Lanskap Keraitan disebut sebagai salah satu wilayah paling rentan.
Di kawasan inilah sekitar 70 persen konflik manusia dan orangutan di Kalimantan Timur tercatat terjadi.
Penyebab utamanya adalah fragmentasi habitat.
Hutan yang dulunya saling terhubung kini terpecah menjadi berbagai blok akibat pembangunan jalan, aktivitas pertambangan, perkebunan, maupun pemanfaatan lahan lainnya.
Akibatnya, sekitar 76 hingga 78 persen populasi orangutan justru hidup di luar kawasan konservasi formal.
Mereka tetap bertahan, tetapi harus menghadapi risiko yang lebih besar.
"Masalahnya bukan semata-mata luas hutan yang tersisa, tetapi apakah hutan-hutan itu masih saling terhubung," menjadi salah satu pandangan yang mengemuka dalam diskusi tersebut.
Membangun Jembatan bagi Orangutan
Salah satu gagasan utama yang ditawarkan adalah pembentukan areal preservasi seluas lebih dari 101 ribu hektare di Lanskap Keraitan.
Konsep ini berbeda dengan taman nasional atau kawasan konservasi konvensional.
Status lahannya tidak berubah, aktivitas ekonomi tetap dapat berlangsung, tetapi fungsi ekologis kawasan tetap dijaga agar satwa liar memiliki ruang bergerak yang aman.
Melalui pendekatan ini, perusahaan, pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi didorong bekerja bersama menjaga konektivitas habitat.
Kawasan yang diusulkan memiliki tutupan vegetasi mencapai 94 persen dan dinilai berperan penting sebagai jalur pergerakan orangutan.
Tidak hanya itu, sejumlah koridor ekologis juga direncanakan untuk dibangun.
Salah satunya berupa jembatan kanopi sederhana yang memungkinkan orangutan berpindah dari satu blok hutan ke blok lainnya tanpa harus turun ke tanah.
Cara tersebut dinilai mampu mengurangi risiko pertemuan dengan kendaraan, alat berat, maupun manusia.
Harapan yang Mulai Tumbuh
Ketua Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan, Dr. Yaya Rayadin, menyebut pengalaman lapangan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa orangutan sebenarnya mampu bertahan hidup di tengah lanskap yang telah berubah.
Kuncinya adalah memastikan habitat mereka tetap saling terhubung.
Ia mencontohkan sebuah kantong hutan kecil seluas sekitar 49 hektare di tengah perkebunan sawit yang tetap mampu mendukung pertumbuhan populasi orangutan.
Dalam periode tertentu, jumlah individu di kawasan tersebut bahkan meningkat dari enam menjadi sebelas ekor.
Temuan itu menjadi bukti bahwa ukuran kawasan bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan konservasi.
Konektivitas dan ketersediaan sumber pakan sama pentingnya.
Karena itulah, para pihak yang terlibat berharap Lanskap Keraitan dapat menjadi model baru konservasi di Indonesia.
Sebuah pendekatan yang mencoba mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan perlindungan satwa liar.
Sebab pada akhirnya, menurutnya, masa depan orangutan tidak hanya ditentukan oleh luas hutan yang tersisa, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga agar potongan-potongan hutan itu tetap terhubung menjadi satu rumah yang utuh. (ant)
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR



