NEWS
Cagar Budaya Perlu Perlindungan Berbasis Mitigasi Risiko Bencana
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya transformasi pengelolaan cagar budaya di Indonesia dari pendekatan reaktif menjadi berbasis mitigasi risiko guna melindungi warisan sejarah dari ancaman bencana alam.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan bahwa sebagai negara yang kaya akan warisan budaya, namun berada di kawasan rawan bencana, Indonesia perlu mengintegrasikan perlindungan situs sejarah ke dalam sistem ketangguhan bencana yang berkelanjutan.
"Cagar budaya berisiko rusak atau hilang akibat bencana maupun konflik. Hingga 13 April 2026, tercatat sudah terjadi 748 kejadian bencana yang didominasi banjir dan cuaca ekstrem, yang mana situs-situs sejarah kita turut berada di ujung risiko tersebut," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/4).
Ia merujuk pada sejumlah catatan sejarah, seperti Tsunami di Aceh 2004 yang menghancurkan lebih dari 50 situs budaya serta banjir besar pada November 2025, yang merusak puluhan situs di Sumatera.
Selain itu, ancaman rob di Kota Lama Semarang Jawa Tengah terus membayangi bangunan kolonial yang telah berusia lebih dari satu abad, dan Gempa Yogyakarta 2006, merusak struktur Candi Borobudur dan Prambanan.
Menurut Abdul, cagar budaya seharusnya tidak hanya dilindungi secara fisik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, karena manuskrip serta artefak kuno seringkali menyimpan pengetahuan tentang pola bencana di masa lalu.
Dalam upaya penguatan tersebut, BNPB mengusulkan langkah strategis mulai dari pemetaan risiko berbasis data spasial melalui platform InaRISK, penguatan struktur bangunan, hingga peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar situs cagar budaya.
Usulan tersebut juga dibahas dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4) yang dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
BNPB menjadikan pengalaman Jepang pascatsunami Tohoku 2011 sebagai rujukan, dimana kolaborasi lintas sektor dan konsep build back better atau membangun kembali dengan standar ketahanan lebih tinggi berhasil menyelamatkan aset budaya secara sistematis.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

