LINGKUNGAN HIDUP
BKSDA Kaltim–CAN Selamatkan Induk Orangutan dan Bayi Kembar di Kutim
apakabar.co.id, JAKARTA - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) berhasil menyelamatkan seekor induk orangutan Kalimantan beserta dua bayi kembarnya yang ditemukan di wilayah Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Ketiganya dipastikan dalam kondisi sehat setelah melalui proses evakuasi dan pemeriksaan lapangan.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa proses penyelamatan dilakukan secara hati-hati dengan mengutamakan keselamatan satwa dan memastikan induk tidak terpisah dari kedua anaknya.
Evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Prioritas kami adalah menjaga induk dan bayi tetap bersama serta memastikan kondisi kesehatannya baik,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (5/3).
Lokasi penemuan awal sekaligus titik penyelamatan berada di Peredau, Bengalon, kawasan terpisah namun masih dalam lanskap perusahaan perkebunan yang tetap mempertahankan biodivisitas hutan, yakni area High Conservation Values (HCV) atau Area dengan Nilai Konservasi Tinggi (ANKT).
Sebelumnya dilaporkan ada satu induk orangutan ditemukan berjuang menjaga kedua anaknya. Keberadaan mereka yang sempat turun ke tanah menjadi tanda bahwa habitat ini tidak lagi sepenuhnya aman karena ruang hidup mereka yang terbatas.
Untuk itu pada 15 Februari 2025 pihaknya bersama CAN dan pihak terkait kemudian menyelamatkan, mengevakuasi, hingga mengecek kesehatan orangutan betina dan kedua anaknya tersebut. Ia bersyukur karena ketiganya dalam kondisi sehat.
Baca juga: DLH Kaltim-YKAN gandeng 6 swasta lestarikan biodiversitas Wehea-Kelay
"Proses penyelamatan dilakukan mulai pagi, pengamatan memang sudah dilakukan dari sehari sebelumnya, yakni ketika individu orangutan diketahui membuat sarang, sehingga teman-teman sudah tahu pohon yang dijadikan sarangnya mereka," katanya.
Dalam pemeriksaan kesehatan dan lainnya, ia mengaku tidak bisa melakukan secara detail untuk menjaga keselamatan individu orangutan, terutama dua bayinya, sehingga cukup memastikan kondisinya sehat yang memungkinkan hidup di hutan alami.
Selanjutnya tim melakukan pelepasliaran pada lokasi hutan terdekat,yakni di HCV perusahaan perkebunan, jaraknya sekitar setengah jam perjalanan darat dari penemuan awal.
Berdasarkan kajian, lanjut ia, HCV milik perusahaan ini masih layak untuk dilakukan pelepasliaran, yakni layak dari sisi fisik, biologi, maupun sosial, termasuk dari kerapatan hutan dan lainnya.
Ia menyebut orangutan yang diselamatkan ini merupakan induk dan anak yang sudah lelah di habitat terfragmentasi dengan berbagai keterbatasan baik pakan, air, dan sebagainya, sehingga keselamatan mereka menjadi prioritas tim penyelamat.
"Kami tidak bisa melepaskan di lokasi hutan yang lebih luas lagi atau hutan yang lebih jauh, khawatir dengan keselamatan mereka, jadi kami pilih yang paling dekat, sehingga tim juga bisa melakukan pemantauan di situ. Pemantauan juga akan melibatkan perusahaan pemilik areal HCV itu," kata Ari Wibawanto.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

