NEWS

Di Balik Teror Air Keras Aktivis KontraS, Pakar Soroti Dugaan Operasi ‘Rogue’

Keterlibatan anggota BAIS TNI dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus justru memunculkan paradoks. Dinilai terlalu “berantakan” untuk operasi intelijen. Di sisi lain logika pelaku lapangan dianggap tak mendukung asumsi mereka bertindak karena merasa kebal hukum.
Seorang prajurit TNI tengah berjaga di balik pos jaga instalasi militer berbasis AI milik TNI. Foto via Detik
Seorang prajurit TNI tengah berjaga di balik pos jaga instalasi militer berbasis AI milik TNI. Foto via Detik
apakabar.co.id, JAKARTA - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menilai terdapat kejanggalan dalam pola aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, terutama jika dikaitkan dengan latar belakang para pelaku yang disebut berasal dari unsur intelijen.

Menurut Reza, cara kerja para eksekutor justru terlihat “terlalu berantakan” untuk ukuran operasi yang diduga melibatkan personel Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. “Bisa lihat, ini orang katanya dari BAIS. Tapi betapa joroknya operasi mereka. Enggak pakai tutup muka, enggak pakai sarung tangan, barang bukti dilempar begitu saja,” ujarnya.

Ia menyoroti jejak yang ditinggalkan di lokasi kejadian, mulai dari tidak adanya upaya penyamaran, hingga barang bukti yang justru ditinggalkan, sebagai sesuatu yang tidak lazim dalam operasi terencana.

Dari situ, Reza membuka kemungkinan lain, aksi tersebut bisa saja bukan operasi resmi, melainkan bagian dari apa yang dalam kriminologi dikenal sebagai false flag operation atau bahkan rogue operation.
Dalam konsep itu, sebuah aksi kekerasan bisa dirancang untuk menyesatkan persepsi publik, seolah dilakukan oleh pihak tertentu, padahal aktor sesungguhnya berbeda. “Dua orang ini seperti menyerahkan diri saja. Itu eksplisit saya kemukakan sejak awal,” kata Reza.

“Kenapa? Karena kalian ini dipekerjakan agar kalian itu ditangkap.” Ia juga mengaitkan kemungkinan adanya rogue operation, yakni operasi sempalan yang berjalan di luar garis komando resmi dalam suatu institusi.

Namun, Reza tidak menutup kemungkinan tafsir lain yang berkembang di publik. Bahwa aksi yang tampak “ceroboh” justru bisa lahir dari rasa percaya diri berlebihan karena merasa dilindungi kekuasaan. Menanggapi hal itu, ia justru mempertanyakan logika tersebut jika dikaitkan dengan profil pelaku.

“Kata Polisi Militer, para pelaku berpangkat Serda hingga kapten. Serda sangat percaya diri sehingga merasa tidak akan tersentuh hukum, realistiskah?” ujarnya dihubungi apakabar.co.id, Jumat (20/3).

“Justru, karena dia berpangkat rendah, sangat mungkin dialah yang paling tersentuh hukum.”
“Semua pelaku pasti tidak mau tersentuh hukum. Percaya diri, silakan. Tapi bukan dengan menyodorkan leher ke proses hukum.”
Sebelumnya, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI telah menetapkan empat prajurit sebagai tersangka, masing-masing berinisial NDP, SL, BWH, dan ES, yang berasal dari Detasemen Markas BAIS TNI. Mereka terdiri dari tiga perwira dan satu bintara.

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa kasus ini merupakan tindak kriminal serius yang masuk kategori terorisme dan harus diusut hingga ke dalang di baliknya. “Ini adalah terorisme. Ini tindakan biadab. Harus kita kejar. Harus kita usut. Harus kita usut!” kata Prabowo.

Ia menekankan bahwa pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. “(Termasuk) siapa yang menyuruh, siapa yang membayar,” ujarnya. Presiden juga memastikan tidak akan ada impunitas, termasuk jika terdapat keterlibatan aparat.

“Tidak akan! Saya menjamin!” tegasnya.