EKBIS
Dolar Tembus Rp17.500, Mengapa Rupiah Tetap Tertekan Meski Ekonomi Tumbuh?
apakabar.co.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan setelah kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa (12/5) tercatat mencapai Rp17.514 per dolar AS.
Angka tersebut menembus batas psikologis Rp17.500 dan memunculkan pertanyaan di tengah publik mengenai kondisi ekonomi nasional yang dinilai masih relatif stabil.
Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat 5,61 persen, inflasi masih terkendali di level 2,42 persen, defisit APBN berada di bawah batas aman, serta cadangan devisa masih cukup kuat.
Namun di sisi lain, rupiah justru terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketua Bidang Ekonomi, Industri dan Investasi DPP Projo, Bonar Sianturi, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi tekanan eksternal dibanding fundamental ekonomi domestik.
“Nilai tukar tidak hanya ditentukan kondisi ekonomi dalam negeri, tetapi juga suasana global, arah pergerakan modal dunia, kebutuhan dolar, dan psikologi pasar,” ujar Bonar dalam keterangan persnya, Selasa (12/5).
Menurut dia, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama di Timur Tengah, serta tingginya suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
Kondisi tersebut membuat investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut mengalami tekanan.
Meski demikian, Bonar menegaskan pelemahan rupiah tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda ekonomi Indonesia sedang runtuh.
“Data domestik masih menunjukkan aktivitas ekonomi berjalan cukup baik,” pungkasnya.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026, dengan konsumsi pemerintah meningkat 21,81 persen.
“Mesin ekonomi masih berjalan, tetapi pasar sedang bertanya apakah pertumbuhan ini cukup kuat menghadapi tekanan global,” kata Bonar.
Selain faktor global, kebutuhan dolar di dalam negeri juga dinilai menjadi penyebab tekanan terhadap rupiah.
Indonesia masih membutuhkan dolar dalam jumlah besar untuk impor energi, bahan baku industri, barang modal, hingga pembayaran utang luar negeri korporasi.
Ketika permintaan dolar meningkat sementara pasokan terbatas, nilai tukar rupiah cenderung melemah.
Bonar juga mengingatkan bahwa pasar keuangan bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap risiko masa depan, bukan hanya kondisi saat ini.
Menurut dia, meski inflasi masih terkendali, pasar mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga barang impor apabila dolar bertahan tinggi dalam waktu lama.
“Nilai tukar sering bekerja seperti alarm. Ia bisa berbunyi sebelum dampaknya benar-benar terasa di masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi fiskal, pemerintah dinilai masih berada dalam batas aman karena defisit APBN triwulan I-2026 tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Namun pasar tetap mencermati arah belanja pemerintah dan potensi kenaikan subsidi energi di tengah risiko harga minyak global.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dollar AS, turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 148,2 miliar dollar AS.
Meski masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional, penurunan cadangan devisa dinilai menunjukkan adanya intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.
Bonar menilai respons Bank Indonesia menjadi sangat penting dalam menjaga kepercayaan pasar.
Bank sentral disebut telah melakukan intervensi berkelanjutan di pasar valuta asing serta memperketat aturan pembelian dolar untuk menekan spekulasi.
Namun menurut dia, stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia.
“Pemerintah juga harus menjaga disiplin APBN, memperkuat ekspor, mengendalikan impor yang tidak mendesak, dan memastikan komunikasi ekonomi tetap konsisten,” ujar Bonar.
Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu panik menghadapi pelemahan rupiah saat ini, namun tetap harus waspada terhadap dampak jangka panjang apabila tekanan berlangsung terlalu lama.
“Dolar Rp17.500 bukan otomatis krisis, tetapi ini alarm serius bahwa pasar sedang gelisah dan membutuhkan keyakinan bahwa pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi,” katanya.
“Penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci agar rupiah kembali stabil di tengah tekanan global yang masih tinggi,” tutup Bonar.
Editor:
DENNY FIRMANSYAH
DENNY FIRMANSYAH