NEWS

Gedung Putih Bahas Operasi Militer Baru, AS Bersiap Perluas Serangan ke Iran

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menggelar rapat khusus di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membahas opsi serangan militer yang lebih luas terhadap Iran.
Ilustrasi - Selat Hormuz. /ANTARA/Anadolu/py.
Ilustrasi - Selat Hormuz. /ANTARA/Anadolu/py.
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menggelar rapat khusus di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membahas opsi serangan militer yang lebih luas terhadap Iran. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah aksi saling serang antara kedua negara yang terus berlanjut di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Berdasarkan laporan Axios yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui jalannya pembahasan, rapat pada Selasa (14/7) itu dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintahan AS. Di antaranya Wakil Presiden J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Dalam pertemuan tersebut, para pejabat membahas kemungkinan memperluas operasi militer Amerika ke berbagai sasaran strategis di Iran. Rencana itu disebut memiliki cakupan yang lebih besar dibandingkan operasi yang saat ini masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.

Langkah tersebut menandai meningkatnya eskalasi konflik yang sebelumnya berpusat pada keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk.

AS Intensifkan Serangan ke Iran
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran pada Selasa malam waktu setempat.

Operasi yang berlangsung sekitar tujuh jam itu menyasar puluhan target militer Iran di dekat Selat Hormuz serta wilayah pesisir negara tersebut. Dalam serangan tersebut, militer AS mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, serta drone untuk meluncurkan amunisi berpemandu presisi.

Menurut CENTCOM, sasaran utama meliputi lokasi peluncuran rudal, fasilitas drone, kekuatan angkatan laut Iran, hingga sistem pertahanan pantai.

Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial internasional dan keselamatan awak kapal sipil yang melintasi Selat Hormuz.

Serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari operasi militer yang telah berlangsung sejak 8 Juli. Pemerintah AS menyebut tindakan tersebut sebagai respons atas dugaan campur tangan Iran terhadap aktivitas pelayaran di jalur laut strategis tersebut.

Iran Balas Serang Pangkalan Militer AS
Iran tidak tinggal diam menghadapi serangan tersebut. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Target utama serangan adalah Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait.

Menurut IRGC, serangan itu berhasil menghancurkan sejumlah gudang senjata, fasilitas penyimpanan suku cadang kapal dan pesawat, serta merusak beberapa drone pengintai MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat.

Pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, IRIB, menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap sejumlah fasilitas pertahanan Iran di wilayah selatan negara itu.

Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai besarnya kerusakan maupun jumlah korban dari kedua belah pihak.

Selat Hormuz jadi Titik Panas Konflik
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia karena memiliki peran vital dalam perdagangan energi global. Jalur laut sempit ini menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia sekaligus mendorong kenaikan harga minyak.

Sejak konflik kembali memanas, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan belum sepenuhnya kembali normal. Banyak perusahaan pelayaran masih menerapkan langkah pengamanan tambahan karena meningkatnya risiko serangan.

Situasi tersebut juga memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap kemungkinan meluasnya konflik menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.

Trump Batalkan Rencana Tarif Selat Hormuz
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, Presiden Donald Trump juga mengumumkan perubahan kebijakan terkait Selat Hormuz.

Trump mengatakan dirinya membatalkan rencana mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap setiap kapal yang mengangkut kargo melalui Selat Hormuz.

Sebelumnya, pada Senin (13/7), Trump sempat menyampaikan bahwa Amerika akan memblokade lalu lintas menuju pelabuhan Iran dan memungut tarif dari kapal-kapal yang melintas sebagai kompensasi atas pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Namun, sehari kemudian Trump menyatakan kebijakan itu tidak akan diterapkan.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, berkomitmen menanamkan investasi dalam jumlah besar ke Amerika Serikat.

"Saya pikir itu lebih baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (15/7).

Ia juga menegaskan bahwa selama ini Amerika menanggung beban besar menjaga keamanan Selat Hormuz yang dimanfaatkan banyak negara, termasuk China, tanpa memperoleh imbalan yang sepadan.

Perdamaian Kembali Dipertanyakan
Konflik terbaru ini juga menimbulkan tanda tanya besar terhadap masa depan kesepakatan perdamaian yang sempat dicapai kedua negara.

Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menandatangani kesepakatan perdamaian awal pada pertengahan Juni. Perjanjian tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional serta perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.

Namun, rangkaian serangan yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut menghadapi ujian serius.

Dengan rapat darurat yang digelar Trump untuk membahas opsi serangan yang lebih luas, sementara Iran terus membalas melalui serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk, risiko eskalasi konflik semakin meningkat.

Perkembangan situasi dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah kedua negara masih dapat mempertahankan jalur diplomasi, atau justru memasuki babak baru konfrontasi militer yang lebih besar dengan dampak luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.