LIFESTYLE
Goa Halo Tabung Maratua jadi Laboratorium Alam yang Menyimpan Jejak Sejarah Bumi
Goa Halo Tabung yang berada di Kampung Payung-Payung memiliki nilai ilmiah tinggi karena menyimpan jejak proses pembentukan Bumi yang berlangsung ribuan tahun, selain sebagai destinasi yang menawarkan keindahan panorama alam.
apakabar.co.id, JAKARTA – Pemerintah Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus mengembangkan potensi wisata Goa Halo Tabung sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menjadi pusat edukasi geologi.
Kawasan karst yang berada di Kampung Payung-Payung dinilai memiliki nilai ilmiah tinggi karena menyimpan jejak proses pembentukan bumi yang berlangsung selama ribuan tahun.
Camat Maratua Ashari mengungkapkan Goa Halo Tabung merupakan salah satu kekayaan alam yang layak diperkenalkan lebih luas, baik kepada wisatawan maupun kalangan akademisi. Menurutnya, keberadaan gua tersebut memiliki fungsi yang lebih besar dibandingkan sekadar objek wisata.
"Keberadaan gua karst ini tidak hanya sekadar menawarkan keindahan pesona alam semata, tetapi juga difungsikan menjadi laboratorium hidup yang sangat kaya akan nilai edukasi tentang sejarah pembentukan bumi kita," kata Ashari di Berau, Sabtu (18/7).
Goa Halo Tabung selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata eksotis di Kepulauan Maratua. Daya tarik utamanya adalah kolam alami yang memanjang di dalam kawasan gua dengan air payau berwarna kebiruan yang tetap jernih sepanjang waktu.
"Kondisi tersebut membuat lokasi ini menjadi favorit wisatawan, termasuk turis mancanegara yang datang untuk menikmati keindahan bawah air maupun menyelam," ujarnya.
Di balik keindahan tersebut, tersimpan proses geologi yang berlangsung sangat lama. Ashari menjelaskan, gua itu terbentuk akibat proses pelarutan batu kapur secara alami selama ribuan tahun.
Air hujan yang menyerap karbon dioksida berubah menjadi larutan asam lemah, kemudian meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan kapur secara perlahan. Proses alam tersebut berlangsung terus-menerus hingga akhirnya membentuk rongga besar dan cekungan yang kini menjadi kolam alami di dalam gua.
"Melalui proses pelarutan batuan di sepanjang retakan dan celah tanah secara perlahan tersebut, alam pada akhirnya membentuk cekungan mengerucut ke bawah hingga mencapai kedalaman 25 meter," ujar Ashari.
Fenomena geologi seperti itu menjadi salah satu alasan mengapa Goa Halo Tabung dinilai memiliki nilai edukasi tinggi. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati panorama alam, tetapi juga memahami bagaimana proses alam membentuk bentang karst yang unik.
Selain proses pembentukan gua, ekosistem di dalam Goa Halo Tabung juga menjadi daya tarik tersendiri. Kolam alami yang berada di bagian tengah gua memiliki air payau yang dipengaruhi langsung oleh dinamika laut.
Air laut masuk secara alami melalui celah-celah batuan yang berada di kawasan pesisir. Proses tersebut membuat volume air di dalam kolam tetap stabil meski tidak memiliki aliran sungai yang terlihat dari permukaan.
"Ekosistem air payau di tengah gua terbukti bergantung pada dinamika pasang surut air laut yang merembes masuk secara alami melalui jejaring celah bebatuan pesisir pulau," jelas Ashari.
Ia menambahkan, lokasi gua yang berada sangat dekat dengan garis pantai menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem tersebut.
"Jarak bibir gua dengan laut lepas yang hanya terpaut 50 meter membuat volume ketersediaan air di dalam kolam selalu terjaga kelestariannya secara alami sepanjang waktu," katanya.
Menurut pemerintah kecamatan, kondisi tersebut menunjukkan hubungan erat antara kawasan karst dengan ekosistem laut di sekitarnya. Karena itu, menjaga kelestarian kawasan tidak hanya penting bagi wisata, tetapi juga bagi keseimbangan lingkungan pesisir.
Tidak hanya memiliki nilai geologi, Goa Halo Tabung juga menyimpan cerita budaya yang diwariskan masyarakat setempat. Nama destinasi ini berasal dari bahasa Suku Bajau yang telah lama mendiami wilayah pesisir Maratua.
Ashari menjelaskan, kata Halo berarti laguna atau kolam alami, sedangkan Tabung merujuk pada jenis ikan kakap atau ikan tompel yang menjadi hasil tangkapan nelayan setempat. Penamaan tersebut menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir yang tetap dipertahankan hingga sekarang.
"Asal usul penamaan destinasi yang kerap diselami turis mancanegara itu sarat kearifan lokal, karena diambil dari bahasa Suku Bajau, di mana kata Halo bermakna laguna dan Tabung merujuk pada jenis ikan kakap atau ikan tompel tangkapan nelayan setempat," tutur Ashari.
Ia menilai penggunaan nama lokal merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya masyarakat Maratua. Dengan begitu, pengembangan sektor pariwisata tidak menghilangkan identitas daerah, tetapi justru memperkuatnya.
"Penyematan identitas bahasa lokal pada nama situs geologi menjadi cara efektif kami untuk merawat warisan tradisi lisan serta identitas kebaharian masyarakat pesisir Maratua," ucapnya.
Pemerintah Kecamatan Maratua kini berupaya mengintegrasikan edukasi geologi dengan pelestarian budaya dalam setiap pengembangan destinasi wisata. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran pengunjung mengenai pentingnya menjaga lingkungan, terutama kawasan karst yang memiliki fungsi ekologis sangat penting.
Ashari menegaskan bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya diukur dari banyaknya jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman mereka terhadap pentingnya menjaga alam.
"Kami berharap setiap wisatawan yang datang tidak cuma berlibur menikmati keindahan airnya, tetapi pulang membawa tambahan wawasan baru tentang betapa pentingnya menjaga ekosistem kawasan karst ini," kata Ashari.
Melalui pendekatan tersebut, Goa Halo Tabung diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi wisata edukasi yang memadukan keindahan alam, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, kawasan ini berpotensi menjadi salah satu ikon geowisata unggulan Indonesia yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi menjadi ruang belajar terbuka bagi generasi mendatang.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK