NEWS

Harga Minyak Dunia Melonjak: Anggota G7 Gelar Pertemuan Bahas Cadangan Darurat

Menteri keuangan, menteri energi, dan bank sentral negara anggota G7 akan membahas pelepasan cadangan minyak strategis pada pertemuan di Prancis, Sabtu (30/3), di tengah lonjakan harga akibat konflik Timur Tengah.
Menteri Perdagangan Prancis Serge Papin. Foto: sairerinews
Menteri Perdagangan Prancis Serge Papin. Foto: sairerinews
apakabar.co.id, JAKARTA – Gejolak konflik di Timur Tengah yang kian memanas mulai memukul sektor ekonomi global, terutama sektor energi. Menanggapi lonjakan harga minyak mentah yang tak terkendali, negara-negara anggota G7 dijadwalkan akan menggelar pertemuan darurat di Prancis pada Sabtu (30/3) mendatang.

Menteri Perdagangan Prancis, Serge Papin, mengonfirmasi bahwa pertemuan tingkat tinggi ini akan mempertemukan para menteri keuangan, menteri energi, hingga pimpinan bank sentral dari negara-negara kekuatan ekonomi dunia. 

Agenda utamanya adalah membahas langkah strategis untuk menstabilkan pasar, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat.

"Masalah mengenai pelepasan cadangan strategis akan menjadi pembahasan utama di sana," ujar Papin dalam wawancara bersama radio Europe 1, Kamis (26/3).

Menariknya, urgensi situasi saat ini membuat para petinggi keuangan dunia harus turun tangan secara kolektif. Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan format dan skala seperti ini merupakan momen langka. 

Menurutnya, diskusi yang melibatkan koordinasi erat antarmenteri keuangan dan energi baru terjadi lagi setelah hampir 50 tahun.

Langkah ini menyusul keputusan Badan Energi Internasional (IEA) pada 11 Maret lalu, di mana negara-negara anggota sepakat untuk menggelontorkan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka guna menutupi celah gangguan pasokan di pasar global.

Melambungnya harga minyak dunia tidak lepas dari eskalasi militer yang terjadi di kawasan Teluk. Ketegangan memuncak sejak akhir Februari lalu, setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menyebabkan kerusakan infrastruktur serta jatuhnya korban sipil.

Aksi saling balas serangan antara pihak-pihak yang bertikai telah berdampak langsung pada jalur distribusi energi dunia. Salah satu titik paling krusial yang kini terhambat adalah Selat Hormuz

Sebagai urat nadi pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk ke pasar global, hambatan di selat ini praktis membuat distribusi tersendat.

Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya tingkat produksi dan ekspor minyak di kawasan tersebut akibat faktor keamanan. Dampaknya, hukum ekonomi berlaku: pasokan menipis, sementara permintaan tetap tinggi, yang berujung pada meroketnya harga di tingkat konsumen.

Keputusan G7 akhir pekan nanti akan menjadi sentimen penting bagi pasar energi dunia minggu depan. Jika cadangan minyak strategis benar-benar dilepaskan dalam skala besar, diharapkan harga minyak mentah dunia dapat sedikit melandai, yang pada gilirannya akan menahan laju inflasi dan kenaikan harga BBM di berbagai negara.

Publik kini menunggu apakah kesepakatan di Prancis nanti mampu menjadi "obat penawar" bagi ekonomi global yang sedang tercekik harga energi yang mahal.