LIFESTYLE
Jangan Dadakan! Dokter Anak Ingatkan Imunisasi Minimal 14 Hari Sebelum Mudik Lebaran
Menjelang musim mudik Lebaran, para orang tua diingatkan untuk tidak menyepelekan urusan imunisasi anak.
apakabar.co.id, JAKARTA - Menjelang musim mudik Lebaran, para orang tua diingatkan untuk tidak menyepelekan urusan imunisasi anak.
Spesialis anak subspesialis respirologi, Nastiti Kaswandani, menyarankan agar imunisasi dilakukan setidaknya dua pekan sebelum keberangkatan.
Menurutnya, vaksin membutuhkan waktu untuk membentuk kekebalan di dalam tubuh anak. Karena itu, pemberian imunisasi tidak bisa dilakukan secara mendadak, apalagi sehari sebelum perjalanan jauh.
"Untuk menghadirkan perlindungan selama perjalanan, vaksin memerlukan waktu yang cukup untuk memunculkan kekebalan. Minimal 14 hari atau dua pekan,”ujarnya dikutip ANTARA, Senin (2/3).
Dia menjelaskan, sebagian besar vaksin memang membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memicu respons imun yang optimal. Jika imunisasi dilakukan terlalu dekat dengan waktu mudik, perlindungan yang diharapkan belum terbentuk secara maksimal.
Bukan hanya itu, pemberian vaksin juga bisa menimbulkan kejadian ikutan imunisasi, seperti demam ringan atau nyeri di lokasi suntikan. Kondisi tersebut sebenarnya wajar dan umumnya tidak berbahaya, tetapi bisa mengganggu kenyamanan anak selama perjalanan.
"Jangan sampai mau berangkat besok, baru hari ini divaksinasi. Bukannya nyaman, justru bisa muncul demam atau nyeri pada tempat suntikan, dan kekebalan juga belum terbentuk karena waktunya belum cukup," jelasnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan demam setelah imunisasi atau selama perjalanan, orang tua disarankan membawa obat penurun panas sebagai langkah berjaga-jaga. Selain itu, pastikan anak cukup istirahat dan terhidrasi dengan baik sebelum dan selama perjalanan.
Dokter Nastiti menekankan pentingnya memastikan anak telah mendapatkan imunisasi yang dapat melindungi dari berbagai penyakit yang berisiko meningkat saat mobilitas masyarakat tinggi, seperti saat mudik. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain influenza, infeksi saluran pernapasan akibat bakteri pneumococcus, campak, hingga COVID-19.
Selain itu, vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B juga perlu diperhatikan, terutama jika anak belum pernah mendapatkannya. Penyakit hepatitis A misalnya, dapat menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, sementara hepatitis B dapat menular melalui paparan cairan tubuh.
Secara umum, ia mengingatkan bahwa setiap anak idealnya telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program imunisasi dasar tersebut meliputi vaksin hepatitis B, BCG, polio, difteri, tetanus, serta campak dan rubella.
"Kalau mengikuti program pemerintah, seharusnya semua sudah terpenuhi," katanya.
Momentum mudik Lebaran sering kali melibatkan perjalanan panjang, kerumunan di terminal, stasiun, bandara, atau rest area, serta interaksi dengan banyak orang dari berbagai daerah. Kondisi itu meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama pada anak-anak yang sistem kekebalannya masih berkembang.
Karenanya, perencanaan yang matang menjadi kunci. Orang tua diharapkan tidak hanya mempersiapkan tiket dan barang bawaan, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan anak dalam keadaan optimal.
Imunisasi yang dilakukan tepat waktu bukan hanya melindungi anak selama perjalanan, tetapi juga membantu mencegah penularan penyakit di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan persiapan yang baik sejak jauh hari, mudik pun bisa berlangsung lebih aman, nyaman, dan penuh kebahagiaan.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK