EKBIS

Menyiapkan SDM Tambang dari Daerah, CK Gembleng 28 Operator Muda

Sebelum duduk di balik kemudi truk tambang berkapasitas 60 ton, puluhan pemuda Aceh Barat lebih dulu menjalani pelatihan fisik, mental, dan bela negara di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Sebelum duduk di balik kemudi truk tambang berkapasitas 60 ton, puluhan pemuda Aceh Barat lebih dulu menjalani pelatihan fisik, mental, dan bela negara di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Banjarbaru – Jalan menuju profesi operator alat berat ternyata tidak dimulai dari ruang simulator atau kabin kendaraan tambang. Bagi 28 pemuda asal Meulaboh, Aceh Barat, langkah pertama justru dimulai dari lapangan latihan, pembinaan mental, dan pembentukan disiplin.

Mereka merupakan peserta Advance Development Operator Program (ADOP) batch 1 yang diselenggarakan PT Cipta Kridatama (CK), anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM). Selama 10 hari, para peserta mengikuti Pelatihan Bimbingan Mental, Fisik, dan Disiplin (Bintalfisdis) serta Bela Negara di Rindam Tambun Bungai, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Program tersebut menjadi tahapan awal sebelum para peserta memasuki pelatihan teori, simulator, hingga praktik lapangan untuk mengoperasikan unit Off Highway Truck (OHT) CAT 773 berkapasitas 60 ton.

Direktur CK, Roni Setyawan, mengatakan program ADOP dirancang tidak hanya untuk mencetak operator alat berat yang terampil, tetapi juga membuka peluang kerja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Menurutnya, kemampuan teknis harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan kesadaran keselamatan kerja, mengingat sektor pertambangan merupakan industri yang memiliki tingkat risiko tinggi.

“Melalui integrasi Program ADOP dengan Bintalfisdis dan Bela Negara, kami ingin memastikan setiap operator tidak hanya ahli dan cekatan mengendalikan alat berat, tetapi juga memiliki mentalitas tangguh dan kesadaran penuh akan keselamatan kerja. Disiplin tinggi adalah kunci utama untuk mencegah kelalaian sekecil apa pun di area tambang,” ujar Roni.

Dari total target 50 peserta, sebanyak 28 orang berhasil lolos seleksi dan menjadi angkatan pertama ADOP 2026. Setelah menyelesaikan pembinaan karakter di Banjarbaru, mereka melanjutkan pelatihan di Training Center Nasional PT Cipta Kridatama sebelum menjalani On Job Training (OJT) di Site CK-BMB Tapin, Kalimantan Selatan.

Setelah seluruh tahapan selesai, para peserta akan ditempatkan di wilayah operasional PT Mifa Bersaudara, anak usaha ABMM lainnya, di Aceh Barat.

Bagi para peserta, program ini menjadi kesempatan untuk memasuki dunia kerja profesional yang sebelumnya sulit dijangkau. Selain keterampilan mengoperasikan alat berat, mereka juga memperoleh pemahaman mengenai budaya keselamatan, tanggung jawab kerja, dan disiplin operasional yang menjadi standar industri pertambangan.

“ADOP adalah kesempatan pertama untuk memasuki dunia kerja profesional di industri pertambangan. Melalui program Bintalfisdis dan pelatihan lanjutan nanti, kami siap dibentuk menjadi Operator Juara yang tak hanya produktif, tetapi juga sangat berorientasi pada keselamatan dan efisiensi kerja di lapangan,” kata salah satu peserta berprestasi, Riski Darmawansyah.

Senada dengan itu, peserta lainnya, Teuku Hamzah, menilai pelatihan tersebut memberi bekal yang lebih luas daripada sekadar kemampuan teknis.

“Pelatihan ini tidak hanya membekali kami dengan keahlian teknis operasional alat berat, tetapi juga menanamkan kesadaran penuh akan pentingnya budaya keselamatan kerja di lapangan. Kami bangga bisa menjadi bagian dari angkatan pertama yang membuka jalan bagi putra daerah lainnya,” ujarnya.

Melalui program ADOP, perusahaan berharap investasi pada pengembangan SDM lokal dapat menjadi bagian dari kontribusi jangka panjang terhadap pembangunan ekonomi daerah. Program serupa sebelumnya juga telah dijalankan di area operasional Kalimantan Selatan pada 2025 dan akan terus dikembangkan sebagai jalur pembinaan tenaga kerja muda untuk industri pertambangan.