SPORT
NOC Indonesia Dorong Reformasi Sistem Pembinaan Olahraga Nasional
apakabar.co.id, JAKARTA — Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, meminta keberhasilan Tim Indonesia meraih lima medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak sekadar dirayakan sebagai pencapaian target.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus membenahi sistem pembinaan olahraga nasional agar prestasi Indonesia dapat berkembang lebih besar dan berkelanjutan.
Tim Indonesia menutup Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan koleksi lima medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Raihan lima emas tersebut melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebanyak empat emas.
Namun, seluruh emas Indonesia berasal dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
“Lima emas tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lima emas ini bisa menjadi sepuluh dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite,” ujar Okto, Kamis (8/10/2026).
Okto menilai keberhasilan empat cabang olahraga tersebut justru perlu dibedah secara mendalam. Hal itu penting untuk menemukan faktor yang membuat mereka mampu menghasilkan prestasi di level Asia.
Mulai dari pola pembinaan, proses pencarian bakat atau scouting, kualitas kompetisi dan pelatih, pemanfaatan sport science, dukungan organisasi hingga ekosistem olahraga, seluruh faktor tersebut dinilai perlu dievaluasi.
“Kita harus membedah apa yang membuat mereka berhasil, mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi hingga ekosistemnya. Kalau kita tahu faktornya, kita bisa mencari apa yang relevan untuk cabang olahraga lain,” katanya.
Menurut Okto, Indonesia pada dasarnya tidak kekurangan talenta. Dengan jumlah penduduk yang besar, ribuan sekolah dan klub olahraga, serta keragaman potensi fisik, sumber daya atlet potensial sangat melimpah.
Persoalannya adalah bagaimana talenta tersebut ditemukan, ditempatkan, dan dikembangkan melalui sistem yang tepat.
“Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga. Itu talenta Indonesia. Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya? Kepentingan nasional harus lebih besar daripada ego sektoral,” tegasnya.
Karena itu, Okto mendorong penguatan cross-sport talent, scouting berbasis data, serta pembinaan atlet secara jangka panjang.
Ia menegaskan, melahirkan atlet elite tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan kombinasi pelatih berkualitas, kompetisi yang berjenjang, sport science, nutrisi, fasilitas latihan, kedokteran olahraga hingga dukungan anggaran yang konsisten.
Di sisi lain, Okto mengingatkan pentingnya menentukan prioritas dalam pembinaan prestasi. Menurutnya, Indonesia tidak harus mengejar kemenangan di seluruh cabang olahraga, tetapi harus mampu menentukan cabang mana yang memiliki peluang terbesar untuk menghasilkan medali.
“Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga. Tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangkan. Kalau orientasinya medali, dukungannya juga jangan setengah-setengah,” ujarnya.
Okto juga mendorong perubahan budaya evaluasi dalam olahraga nasional. Kritik, kata dia, seharusnya tidak dipandang sebagai serangan terhadap organisasi maupun individu, tetapi dijadikan bahan untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
“Kritik harus kita ubah menjadi data, data menjadi evaluasi, evaluasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi perbaikan. Olahraga modern harus berbicara dengan data,” katanya.
Bagi Okto, evaluasi Asian Games Aichi-Nagoya tidak boleh berhenti pada kesimpulan sederhana bahwa target empat emas berhasil dilampaui dengan raihan lima emas.
Lebih jauh, Indonesia harus menjawab bagaimana capaian tersebut dapat diperluas ke lebih banyak cabang olahraga dan dipertahankan secara konsisten pada ajang internasional berikutnya.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah sistem, konsistensi menjalankan keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama,” pungkas Okto.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

