LINGKUNGAN HIDUP
Populasi Ikan Sapu-Sapu Jakarta Meledak, 6,98 Ton Ditangkap Sehari
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil mengumpulkan sebanyak 6,98 ton ikan sapu-sapu dalam operasi serentak pada Jumat (17/4) dari 5 wilyah kota.
apakabar.co.id, JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai bergerak lebih serius menghadapi ledakan populasi ikan sapu-sapu yang menguasai perairan ibu kota. Dalam operasi serentak pada Jumat (17/4), sebanyak 6,98 ton ikan invasif itu berhasil ditangkap.
Namun, di balik angka besar tersebut, muncul pertanyaan: apakah langkah ini cukup efektif, atau justru menandakan penanganan yang terlambat?
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut operasi penangkapan dilakukan secara serentak di lima wilayah kota sejak pukul 07.30 hingga 11.00 WIB.
"Hasil tangkapan ikan yang diperoleh mencapai 6,98 ton," ujarnya di Jakarta, Jumat (17/4).
Penangkapan dilakukan di berbagai titik strategis saluran air dan sungai. Di Jakarta Utara, misalnya, kegiatan berlangsung di saluran penghubung RW 06 Kelurahan Kelapa Gading Barat, dengan hasil 545 ekor atau 271 kilogram.
Sementara di Jakarta Barat, penangkapan dilakukan di Kali Anak TSI, Duri Kosambi, Cengkareng, dengan hasil 71 ekor atau 17 kilogram.
Di Jakarta Pusat, operasi berlangsung di tujuh titik kecamatan dan menghasilkan 536 ekor atau 565 kilogram. Adapun Jakarta Timur mencatat 4.128 ekor atau sekitar 825,5 kilogram dari 10 titik penangkapan.
Jumlah terbesar justru ditemukan di Jakarta Selatan. Di kawasan Pintu Air Outlet Setu Babakan, Srengseng Sawah, petugas menangkap hingga 63.600 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat mencapai 5,3 ton.
Distribusi itu menunjukkan bahwa populasi ikan sapu-sapu tidak merata, tetapi terkonsentrasi di titik-titik tertentu yang diduga memiliki kondisi air yang mendukung.
Ikan invasif mengancam ekosistem
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang mampu bertahan di lingkungan air dengan kualitas buruk. Namun, daya tahannya itu justru menjadi ancaman bagi ekosistem.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyebut ikan ini tidak hanya memangsa telur ikan lokal, tetapi juga merusak struktur fisik sungai.
"Ikan ini membuat lubang di tanggul atau turap sebagai sarang, sehingga berpotensi merusak dinding sungai,” ujarnya di Jakarta, Jumat (17/4).
Selain itu, laporan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan ikan sapu-sapu mengandung residu berbahaya dengan kadar rata-rata di atas 0,3. Kandungan ini membuat ikan tersebut berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi.
Dengan karakteristik tersebut, ikan sapu-sapu bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi masalah kesehatan publik jika dikonsumsi.
Sebagai langkah lanjutan, Pemprov DKI berencana membentuk petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) khusus untuk menangani ikan sapu-sapu.
Pramono menegaskan bahwa penanganan tidak bisa bersifat seremonial semata. Tim akan bergerak secara rutin untuk melakukan penangkapan ikan sapu-sapu.
"Kami akan konsentrasi, dan akan ada penugasan khusus PJLP untuk menangani ikan sapu-sapu ini," katanya.
Langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan terkait efektivitas dan efisiensi kebijakan tersebut.
Pembentukan unit khusus tentu membutuhkan anggaran tambahan. Tanpa strategi yang komprehensif, misalnya perbaikan kualitas air atau pengendalian sumber pencemaran, penangkapan ikan secara terus-menerus justru berisiko menjadi pekerjaan tanpa akhir.
Sejumlah pihak menilai langkah ini terlambat. Pasalnya, dominasi ikan sapu-sapu bukan fenomena baru, melainkan sudah berlangsung bertahun-tahun.
Bahkan, di beberapa wilayah, keberadaan ikan ini telah menggeser populasi ikan lokal. Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, mengakui para pemancing mulai kesulitan mendapatkan ikan seperti mujair, lele, dan nila di sungai.
"Kita harus mampu melakukan pengurangan populasi ikan sapu-sapu karena sekarang ini sudah sangat menguasai," ujarnya.
Fenomena tersebut menjadi contoh nyata dampak di lapangan. Sungai yang dulunya menjadi habitat beragam ikan kini didominasi satu spesies yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi dan berisiko dikonsumsi.
Kondisi demikian juga mencerminkan persoalan yang lebih dalam: kualitas air sungai yang buruk justru menjadi habitat ideal bagi ikan sapu-sapu.
Telur ikan jadi target
Pemerintah Kota Jakarta Pusat mencoba pendekatan lebih agresif dengan tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga memusnahkan telurnya.
Kegiatan itu dilakukan rutin setiap Jumat pagi di 8 (delapan) kecamatan. Harapannya populasi ikan sapu-sapu tidak bertambah.
"Kami tidak hanya menangkap ikannya saja, tapi telurnya pun menjadi sasaran," papar Arifin.
Langkah tersebut dinilai lebih strategis karena menyasar siklus reproduksi. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada konsistensi dan cakupan operasi di seluruh wilayah Jakarta.
Menurut laporan yang disampaikan pemerintah, lebih dari 60 persen populasi ikan sapu-sapu berada di Jakarta dan sekitarnya. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan tersebut sudah berada pada skala yang mengkhawatirkan.
Jika tidak ditangani secara serius, dominasi ikan sapu-sapu berpotensi merusak keseimbangan ekosistem secara permanen.
Selain itu, kerusakan fisik pada tanggul akibat aktivitas ikan ini juga dapat menimbulkan risiko tambahan, terutama di kota yang rentan banjir seperti Jakarta.
Antara respons cepat dan PR jangka panjang
Operasi penangkapan 6,98 ton ikan sapu-sapu menjadi langkah awal yang patut diapresiasi. Namun, tantangan sebenarnya justru terletak pada keberlanjutan dan strategi jangka panjang.
Tanpa perbaikan kualitas air, pengendalian limbah, dan penguatan ekosistem sungai, populasi ikan sapu-sapu berpotensi kembali meningkat.
Rencana pembentukan PJLP khusus juga perlu diiringi evaluasi berkala agar tidak sekadar menjadi solusi administratif yang membebani anggaran tanpa hasil signifikan.
Pada akhirnya, penanganan ikan sapu-sapu bukan hanya soal menangkap sebanyak mungkin, tetapi bagaimana mengembalikan keseimbangan ekosistem sungai Jakarta.
Jika tidak, operasi besar seperti ini bisa jadi hanya mengurangi gejala, bukan menyelesaikan akar masalah.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK