LIFESTYLE
Ramadan di Puncak Musim Hujan, Masyarakat Diingatkan Jaga Daya Tahan Tubuh
Hujan deras, angin kencang, serta tingkat kelembapan tinggi menjadi tantangan tersendiri selama Ramadan. Perubahan cuaca, ditambah aktivitas ibadah yang padat, membuat tubuh rentan mengalami penurunan imunitas.
apakabar.co.id, JAKARTA — Ramadan 2026 berlangsung bertepatan dengan puncak musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi demikian mendorong masyarakat agar lebih memperhatikan kesehatan, terutama dalam menjaga daya tahan tubuh saat puasa.
Hujan deras, angin kencang, serta tingkat kelembapan yang tinggi menjadi tantangan tersendiri selama bulan suci Ramadan. Perubahan cuaca yang tidak menentu, ditambah aktivitas ibadah yang padat, dapat membuat tubuh lebih rentan mengalami penurunan imunitas.
Gejala seperti masuk angin, kembung, hingga tubuh terasa tidak fit kerap muncul saat daya tahan tubuh menurun.
Situasi ini semakin terasa karena selama Ramadan pola makan juga berubah. Jika biasanya masyarakat makan tiga kali sehari, saat puasa tubuh hanya mendapat asupan makanan saat sahur dan berbuka.
Perubahan ritme ini membuat tubuh perlu beradaptasi agar tetap bugar menjalani aktivitas harian.
Karena itu, menjaga daya tahan tubuh saat puasa menjadi hal penting, terutama ketika puasa berlangsung di tengah musim hujan. Asupan makanan bergizi seimbang, waktu istirahat yang cukup, serta konsumsi bahan alami yang membantu menghangatkan tubuh dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan.
Salah satu bahan alami yang sejak lama dikenal masyarakat adalah jahe merah. Tanaman herbal ini dipercaya memiliki manfaat untuk membantu menghangatkan tubuh sekaligus menjaga daya tahan tubuh.
Jahe merah diketahui mengandung berbagai senyawa aktif seperti gingerol, shogaol, dan zingerone. Senyawa tersebut dikenal memiliki sifat antioksidan serta anti-inflamasi yang dapat membantu tubuh melawan radikal bebas.
Karena itu, jahe merah sering dimanfaatkan sebagai minuman hangat, terutama ketika cuaca dingin atau saat tubuh terasa kurang fit.
Selain jahe merah, kurma juga menjadi makanan yang identik dengan Ramadan. Buah ini banyak dikonsumsi saat berbuka puasa karena kandungan gula alaminya mudah diserap tubuh.
Energi dari kurma dapat membantu mengembalikan stamina setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Di tengah Ramadan yang bertepatan musim hujan seperti sekarang, sejumlah pihak juga mencoba menghadirkan berbagai kegiatan untuk mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga kesehatan saat puasa.
Salah satunya melalui program Bejo Anti Angin Spot yang digelar di berbagai daerah.
Program ini difokuskan pada sejumlah titik keramaian masyarakat selama Ramadan, termasuk di masjid-masjid besar yang menjadi pusat aktivitas ibadah.
Tarawih dan iktikaf menjadi momen utama karena banyak orang berkumpul di masjid hingga larut malam ketika suhu udara biasanya lebih dingin.
Brand Manager Bejo Jahe Merah, Taras Putra Tarigan, menjelaskan Ramadan yang bertepatan dengan musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Menurut dia, menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa sama pentingnya dengan menjaga semangat beribadah.
"Ramadan kali ini bertepatan dengan puncak musim hujan. Selain menjaga keimanan, masyarakat perlu memastikan kesehatan agar puasa bisa dijalani dengan lancar selama sebulan penuh," ujar Taras dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/6).
Melalui program tersebut, kegiatan difokuskan di puluhan Masjid Agung yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga daya tahan tubuh saat puasa.
Selain di masjid, aktivitas juga dilakukan di sejumlah tempat yang ramai dikunjungi masyarakat, seperti pasar dan kawasan wisata. Momentum Ramadan dinilai menjadi waktu yang tepat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, terutama ketika cuaca sedang tidak menentu.
Memasuki akhir puasa hingga periode mudik Lebaran, aktivitas serupa juga direncanakan terus berlanjut. Perjalanan jauh saat mudik, ditambah kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan, membuat masyarakat tetap perlu menjaga kondisi tubuh agar tetap fit.
Pada akhirnya, Ramadan di musim hujan menjadi pengingat bahwa ibadah puasa tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh.
Dengan pola makan yang seimbang, istirahat yang cukup, serta memanfaatkan bahan alami yang membantu menghangatkan tubuh, masyarakat bisa menjalani Ramadan dengan lebih nyaman dan tetap bugar hingga hari kemenangan tiba.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK