SPORT

Malaysia Coret Dayung dari SEA Games 2027, PB PODSI Minta Indonesia Ajukan Protes

Lumbung medali emas Indonesia dipastikan berkurang setelah cabor dayung tak dipertandingkan di SEA Games 2027. Foto: NOC Indonesia
Lumbung medali emas Indonesia dipastikan berkurang setelah cabor dayung tak dipertandingkan di SEA Games 2027. Foto: NOC Indonesia
apakabar.co.id, JAKARTA - Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) menyatakan keberatan atas keputusan tidak dipertandingkannya cabang olahraga (cabor) dayung pada SEA Games 2027 di Malaysia. Mereka mendesak pemerintah dan Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) mengajukan nota keberatan resmi agar keputusan tersebut ditinjau kembali.

Pencoretan dayung dinilai merugikan Indonesia. Pasalnya, cabang olahraga yang meliputi rowing, canoeing, dan traditional boat race tersebut selama ini menjadi salah satu penyumbang medali emas bagi kontingen Merah Putih di pesta olahraga Asia Tenggara.

Keputusan tersebut disahkan dalam sidang Southeast Asian Games Federation (SEAGF) pada 30 Oktober 2026 di Bangkok. Dalam sidang itu, sebanyak 43 cabang olahraga dengan total 473 nomor pertandingan ditetapkan untuk SEA Games 2027 yang berlangsung pada 18–29 September.


Selain dayung, sejumlah cabang olahraga lainnya juga tidak masuk dalam daftar pertandingan, di antaranya gulat, kickboxing, jujitsu, surfing, catur, dan bola tangan.

PB PODSI menilai absennya dayung menjadi kerugian besar bagi Indonesia, mengingat rekam jejak prestasi atlet Merah Putih yang konsisten menyumbangkan medali dalam beberapa edisi SEA Games.

Pada SEA Games 2015 di Singapura, tim dayung Indonesia berhasil mengoleksi 13 medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu. Raihan tersebut berlanjut dengan 10 emas, empat perak, dan tiga perunggu pada SEA Games 2019 di Filipina.

Bahkan, Indonesia mampu mencatatkan 14 emas, 14 perak, dan tiga perunggu pada SEA Games 2021 di Vietnam. Sementara pada edisi 2023 di Kamboja, tim dayung meraih tiga emas, satu perak, dan empat perunggu.

Terakhir, pada SEA Games 2025 di Thailand, Indonesia kembali menunjukkan kekuatannya dengan mengumpulkan sembilan emas, sembilan perak, dan tujuh perunggu.

Catatan tersebut mempertegas posisi dayung sebagai salah satu cabang andalan Indonesia dalam perburuan medali. Karena itu, pencoretan dari SEA Games 2027 tidak hanya menghilangkan peluang atlet mempertahankan prestasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi pencapaian target Indonesia di klasemen akhir.

**Ganggu Persiapan Menuju Olimpiade**

Dampak pencoretan dayung, menurut PB PODSI, tidak sebatas kehilangan kesempatan meraih medali. Keputusan tersebut juga berpotensi mengganggu kesinambungan pembinaan atlet yang telah dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kejuaraan internasional.

Atlet pelatnas dayung telah menjalani persiapan sejak 2025 dengan sasaran SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. Dengan tidak adanya pertandingan dayung di Malaysia, salah satu tahapan penting untuk mengukur perkembangan dan kemampuan atlet di level regional turut hilang.

Situasi tersebut dikhawatirkan memengaruhi motivasi atlet, keberlanjutan program latihan, hingga proses regenerasi.

PB PODSI juga menyayangkan keputusan tuan rumah Malaysia yang tidak mengakomodasi dayung, meskipun cabang tersebut berstatus olahraga Olimpiade dan dipertandingkan dalam berbagai ajang multievent internasional.

"Dayung adalah cabor Olimpiade yang dipertandingkan di semua multievent internasional. Sangat disayangkan tuan rumah Malaysia tidak mengakomodasi cabor yang menjadi kekuatan merata negara-negara ASEAN," demikian pernyataan PB PODSI.

Upaya mempertahankan dayung sebenarnya telah dilakukan sejak 31 Mei 2024 melalui sidang SEAGF. Dalam pertemuan tersebut, tiga Komite Olimpiade Nasional (NOC), yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura, menyepakati cabang olahraga yang akan dipertandingkan pada SEA Games 2025, 2027, dan 2029 berdasarkan tuan rumah masing-masing.

Namun, PB PODSI menilai Malaysia tidak menjalankan kesepakatan tersebut.

Berbagai upaya lain juga telah ditempuh. Federasi internasional rowing dan canoeing telah mengirimkan surat kepada NOC Malaysia. Presiden Asian Canoe bersama timnya bahkan telah melakukan kunjungan ke NOC dan Sports Council Malaysia di Kuala Lumpur.

Selain itu, bantuan pemusatan latihan bagi tim rowing dan canoeing Malaysia juga telah diberikan di Thailand, Indonesia, dan Tiongkok.

**Minta Kemenpora dan NOC Indonesia Bertindak**

Menyikapi keputusan tersebut, PB PODSI meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta NOC Indonesia segera mengajukan nota keberatan resmi kepada SEAGF dan Olympic Council of Malaysia (OCM).


Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang peninjauan ulang terhadap keputusan pencoretan dayung dari daftar cabang olahraga SEA Games 2027.

Di tengah ketidakpastian tersebut, PB PODSI menegaskan tetap berkomitmen menjalankan program pemusatan latihan nasional dengan fokus utama mempersiapkan atlet menghadapi kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028.

Mereka juga mengharapkan dukungan moril masyarakat Indonesia kepada para atlet yang terdampak keputusan tersebut.

"Dayung adalah kebanggaan Merah Putih. Hilangnya dayung di SEA Games 2027 bukan hanya kehilangan medali, tapi kehilangan marwah prestasi," tegas PB PODSI.