EKBIS

Elektrifikasi Truk jadi Peluang Besar Indonesia Kurangi Emisi dan Perkuat Ketahanan Energi

Indonesia berada pada posisi strategis untuk menentukan masa depan sektor transportasinya seiring perkembangan teknologi baterai dan biaya kendaraan listrik yang terus menurun. Hal itu membuka peluang besar untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan nol emisi.
Media Briefing: Tantangan dan Peluang Elektrifikasi Truk sebagai Bagian dari Percepatan Dekarbonisasi di Jakarta, Senin (15/6). Foto: Apakabar.co.id
Media Briefing: Tantangan dan Peluang Elektrifikasi Truk sebagai Bagian dari Percepatan Dekarbonisasi di Jakarta, Senin (15/6). Foto: Apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transisi menuju transportasi barang rendah emisi melalui elektrifikasi truk. Selain mampu mengurangi emisi karbon, penggunaan truk listrik juga disebut dapat memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan daya saing industri, hingga memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Transport & Environment (T&E), yang membahas hasil kajian mengenai dekarbonisasi sektor angkutan barang di Indonesia.

Direktur Kebijakan dan Program Regional Asia Pasifik Transport & Environment (T&E), Jude Lee, mengungkapkan Indonesia saat ini berada pada posisi strategis untuk menentukan arah masa depan sektor transportasinya. Perkembangan teknologi baterai yang pesat dan biaya kendaraan listrik yang terus menurun membuka peluang besar bagi Indonesia untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan nol emisi.

“Indonesia memiliki kesempatan yang luar biasa untuk memilih jalur yang berbeda. Pemerintah juga telah menunjukkan kepemimpinannya melalui berbagai kebijakan yang mendukung elektrifikasi dan transisi energi bersih,” kata Jude Lee dalam diskusi di Jakarta, Senin (15/6).

Ia menjelaskan, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang terus mengalami pertumbuhan signifikan. Pertumbuhan ekonomi tersebut secara langsung meningkatkan kebutuhan transportasi barang di berbagai wilayah.

Saat ini, angkutan barang darat masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional. Sebagian besar pergerakan barang domestik, terutama di koridor ekonomi utama seperti Pulau Jawa dan Sumatra, masih bergantung pada truk berbahan bakar diesel.

Menurut Jude, kondisi tersebut membuat sektor transportasi barang menjadi salah satu sumber emisi yang perlu mendapatkan perhatian serius. Di sisi lain, sektor ini juga memiliki peluang besar untuk melakukan pengurangan emisi melalui penerapan teknologi kendaraan listrik.

“Permintaan transportasi barang akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Karena itu, keputusan yang diambil hari ini akan menentukan bagaimana sektor logistik Indonesia berkembang dalam beberapa dekade ke depan,” ujarnya.

T&E bersama IESR telah melakukan kajian mendalam mengenai berbagai opsi dekarbonisasi transportasi barang di Indonesia. Studi tersebut mengevaluasi aspek ekonomi, lingkungan, ketahanan energi, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Kajian itu juga mengidentifikasi peluang percepatan adopsi truk listrik, khususnya pada koridor logistik utama dan operasi logistik dengan sistem closed loop atau rute tetap yang berulang.

Menurut Jude, hasil kajian menunjukkan bahwa elektrifikasi truk dapat menjadi solusi yang kompetitif secara ekonomi apabila didukung kebijakan yang tepat dan pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai.

“Ini bukan hanya tentang teknologi. Ini juga tentang daya saing ekonomi, ketahanan energi, pembangunan industri nasional, kesehatan masyarakat, dan masa depan sistem transportasi Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menilai elektrifikasi truk perlu menjadi bagian penting dalam strategi transformasi sektor transportasi nasional.

Ia menjelaskan bahwa selama ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak untuk menggerakkan sektor transportasi. Ketergantungan tersebut membuat sektor logistik rentan terhadap fluktuasi harga energi global dan tekanan terhadap neraca perdagangan akibat impor bahan bakar.

“Kalau kita berbicara soal ketahanan energi, tentu elektrifikasi memberikan peluang yang lebih baik karena sumber energinya bisa lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada minyak,” kata Deon.

Selain itu, dari sisi teknologi, kendaraan listrik memiliki tingkat efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar diesel maupun biofuel.

Menurut Deon, keunggulan tersebut merupakan fakta teknis yang sulit dibantah karena berkaitan dengan prinsip dasar efisiensi energi.

“Kalau dibandingkan secara teknologi, efisiensi kendaraan listrik memang jauh lebih baik dibandingkan biofuel. Itu keunggulan yang secara fisik memang sudah sangat jelas,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi truk listrik di Indonesia. Salah satu hambatan terbesar adalah harga pembelian kendaraan yang masih relatif tinggi dibandingkan truk konvensional.

Namun, Deon optimistis biaya tersebut akan terus menurun seiring perkembangan teknologi baterai dan meningkatnya skala produksi kendaraan listrik secara global.

Menurutnya, kebijakan yang tepat dapat membantu menjembatani masa transisi dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang sehingga adopsi truk listrik dapat berlangsung lebih cepat.

Deon juga menyoroti keterbatasan biofuel sebagai solusi jangka panjang untuk dekarbonisasi transportasi berat. Selain membutuhkan dukungan lahan yang besar, implementasi biofuel saat ini masih sangat bergantung pada berbagai bentuk insentif dan subsidi.

“Kalau baterai sudah terpasang, kendaraan listrik bisa langsung memanfaatkan listrik yang tersedia. Dari sisi kebutuhan lahan maupun efisiensi ekonomi, potensinya jauh lebih menarik dibandingkan opsi lain,” tegasnya.

IESR berharap hasil studi yang mereka publikasikan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam menentukan arah pengembangan transportasi barang nasional.

Baik T&E maupun IESR menekankan bahwa keberhasilan transisi menuju truk listrik tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada dukungan berbagai pihak, termasuk media massa.

Melalui pemberitaan yang akurat dan berbasis data, media diharapkan dapat memperluas pemahaman publik mengenai manfaat elektrifikasi transportasi, sekaligus mendorong diskusi yang lebih luas mengenai masa depan sistem logistik Indonesia yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.