EKBIS

Gelombang PHK Tokopedia: TikTok Sebut Langkah Efisiensi dan Penataan R&D

TikTok, selaku pemegang saham mayoritas Tokopedia, mengonfirmasi adanya kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan Tokopedia.
Tokopedia, mengonfirmasi kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan Tokopedia. Foto: Tokopedia
Tokopedia, mengonfirmasi kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan Tokopedia. Foto: Tokopedia
apakabar.co.id, JAKARTA – Industri e-commerce tanah air kembali dikejutkan oleh kabar efisiensi kerja. TikTok, selaku pemegang saham mayoritas Tokopedia, mengonfirmasi adanya kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan Tokopedia. 

Langkah itu diambil sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi setelah merger kedua platform dilakukan. Pengurangan karyawan juga berfokus pada tim teknologi serta riset dan pengembangan (Research and Development/R&D). 

Dikutip dari techinasia, manajemen menyebutkan bahwa integrasi sistem yang terus berjalan telah memicu adanya tumpang tindih peran di beberapa divisi kerja.

Juru bicara TikTok menjelaskan kebijakan yang diambil bukanlah keputusan yang mudah. Langkah efisiensi dilakukan demi pertumbuhan bisnis jangka panjang yang berkelanjutan. 

Selanjutnya, fokus perusahaan saat ini adalah menyelaraskan organisasi R&D agar lebih adaptif dalam mendukung ekosistem penjual (seller) maupun kreator di Indonesia.

"Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan," ujar perwakilan manajemen dalam keterangan resminya, Rabu (1/7).

Pihak manajemen juga menegaskan akan memberikan dukungan penuh bagi para karyawan yang terdampak selama masa transisi ini. Hak-hak kompensasi dipastikan akan diberikan sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan yang berlaku.

Dampak integrasi pascaakuisisi
Isu efisiensi ini sebenarnya bukan hal baru sejak ByteDance (induk perusahaan TikTok) mencaplok 75% saham Tokopedia dari Grup GoTo. Penggabungan dua raksasa teknologi itu secara otomatis memicu penyesuaian operasional yang besar.

Pengamat industri menilai, ketika dua platform besar melebur, penyusutan jumlah pekerja akibat duplikasi peran di lini operasional dan teknologi sulit dihindari. Tren serupa juga terlihat pada kompetitor e-commerce lain di Asia Tenggara yang mulai mengalihkan fokus dari bakar uang ke arah efisiensi dan profitabilitas yang sehat.

Meskipun harus melakukan perampingan tim internal di Indonesia, TikTok menegaskan komitmennya untuk tidak angkat kaki. 

Perusahaan menyatakan akan terus mengucurkan investasi pada platform Tokopedia guna meningkatkan layanan bagi pengguna dan memberdayakan para pelaku usaha lokal.

Bertahan di tengah ketatnya persaingan
Langkah perampingan ini mencerminkan dinamika pasar e-commerce yang semakin kompetitif. Di tengah tuntutan untuk menghasilkan keuntungan yang stabil, perusahaan teknologi dituntut bergerak lebih lincah dan hemat biaya operasional.

Bagi para pedagang lokal dan pengguna setia, operasional aplikasi Tokopedia maupun fitur belanja di TikTok dipastikan tetap berjalan normal tanpa gangguan. Penyesuaian organisasi ini diharapkan dapat melahirkan sistem kerja yang lebih solid dalam menghadapi peta persaingan teknologi di masa mendatang.