EKBIS
Genjot Ekspor Industri, INDEF Dorong Penguatan SDM dan IKM
apakabar.co.id, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mendorong penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) hingga pemberdayaan industri kecil menengah (IKM) untuk memacu pasar ekspor industri dari semula 20 menjadi 30 persen.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menyampaikan Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat sektor manufaktur karena didukung ketersediaan sumber daya alam yang melimpah.
Kondisi tersebut menurut dia, membuka peluang bagi Indonesia untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi melalui pengolahan bahan baku menjadi produk jadi.
“Saya rasa kebijakan mendorong peningkatan kontribusi industri manufaktur adalah kebijakan yang harus dilakukan, mengingat Indonesia punya sumber daya alam melimpah sehingga potensi untuk memperoleh nilai tambah dengan mengolah bahan baku menjadi produk final sangat mungkin dilakukan,” ujar Esther di Jakarta, Senin (15/6).
Menurutnya, salah satu strategi utama yang perlu dilakukan adalah peningkatan kompetensi SDM melalui penyelarasan kurikulum pendidikan vokasi dan politeknik dengan kebutuhan industri manufaktur modern.
Pendekatan link and match antara dunia pendidikan dan industri terus diperkuat untuk menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan sektor manufaktur.
Selain itu, Esther menekankan pentingnya penyediaan energi dan infrastruktur yang efisien guna meningkatkan daya saing industri nasional. Menurutnya, biaya logistik nasional perlu ditekan melalui pembangunan infrastruktur konektivitas yang merata, termasuk pelabuhan dan jalan tol, serta didukung pasokan energi yang kompetitif.
Di sisi lain, ia juga mendorong penerapan teknologi hijau dalam pengembangan industri nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri dapat berjalan berkelanjutan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Esther menambahkan, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) manufaktur juga menjadi faktor penting dalam memperkuat kinerja industri nasional. Menurutnya, industri kecil dan menengah perlu diintegrasikan ke dalam rantai pasok global melalui kemudahan akses pembiayaan serta dukungan sertifikasi standar mutu.
Lebih lanjut, Esther mendorong pemerintah untuk memfokuskan pengembangan pada sektor-sektor industri yang memiliki permintaan tinggi di pasar global. Beberapa sektor yang dinilai memiliki prospek besar antara lain industri elektronik, baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), serta industri berbasis energi baru dan terbarukan (EBT).
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan porsi pasar ekspor industri manufaktur meningkat dari semula 20 persen menjadi 30 persen, tanpa mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan nasional.
Dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (9/6), Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa komposisi penjualan produk manufaktur saat ini masih didominasi pasar domestik, dengan sekitar 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor.
Ke depan, pihaknya menargetkan komposisi tersebut berubah menjadi 70 persen untuk pasar domestik dan 30 persen untuk pasar ekspor.
Oleh karena itu, lembaga yang dipimpinnya itu terus memperkuat daya saing industri melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor secara terukur, serta penguatan instrumen perlindungan industri dalam negeri.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

