EKBIS

Ledakan AI Picu Lonjakan Listrik, Deloitte: Energi Bersih Kunci Pertumbuhan Pusat Data Asia Pasifik

Deloitte mengingatkan, tanpa strategi energi yang tepat, ekspansi pusat data berpotensi menekan sistem kelistrikan yang sudah berada di bawah tekanan.
Ilustrasi - NTT data center. Foto: ANTARA
Ilustrasi - NTT data center. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Pertumbuhan pesat pusat data Asia Pasifik yang dipicu oleh lonjakan penggunaan AI, cloud, dan layanan digital diperkirakan akan mendorong permintaan listrik dalam skala besar di kawasan tersebut. 

Laporan terbaru Deloitte menyebut, tanpa strategi energi yang tepat, ekspansi pusat data berpotensi menekan sistem kelistrikan yang sudah berada di bawah tekanan.

Dalam laporan berjudul Powering Asia Pacific’s Data Centre Boom: Unlocking Sector Growth, Deloitte menegaskan bahwa energi bersih data center dan peningkatan kapasitas pembangkit listrik menjadi kunci agar sektor ini dapat berkembang tanpa membebani jaringan listrik regional.

Menurut Deloitte, sektor pusat data sebenarnya masih dapat tumbuh pesat tanpa membebani jaringan listrik jika operator mengadopsi strategi pengadaan energi bersih. Pendekatan ini dinilai mampu memperluas pasokan listrik, meningkatkan keandalan sistem energi, sekaligus mempercepat proses dekarbonisasi.

Dalam laporan tersebut, Deloitte memperkenalkan pendekatan power-first, yakni strategi yang menempatkan ketersediaan energi bersih sebagai pertimbangan utama sejak tahap awal pembangunan pusat data.

Will Symons, Deloitte Asia Pacific Sustainability Leader, menjelaskan kawasan Asia Pasifik saat ini berada pada titik kritis.

"AI, layanan cloud, dan konektivitas digital terus melonjak, mendorong investasi besar pada pusat data yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, jaringan listrik di kawasan ini harus melakukan dekarbonisasi sambil menjaga keterjangkauan dan keamanan energi," ujarnya.

Menurut Symons, pendekatan power-first dengan energi bersih dapat membantu menggerakkan pembangunan pusat data baru sekaligus mempercepat transisi energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Deloitte juga mencatat bahwa energi bersih kini menjadi sumber pembangkit listrik yang paling cepat dibangun di banyak negara Asia Pasifik. Penurunan harga panel surya dan baterai, keterbatasan pasokan gas, serta semakin kuatnya kebijakan iklim menjadi faktor pendorong utama.

Dalam kondisi ini, pusat data memiliki peluang untuk berperan aktif dalam transisi energi regional. Namun syaratnya, proyek pusat data harus dirancang untuk menambah kapasitas energi bersih baru, bukan sekadar bersaing memperebutkan pasokan listrik yang sudah ada.

Sejumlah operator pusat data di kawasan ini bahkan mulai mengembangkan berbagai strategi baru, antara lain: mengutamakan akses energi bersih sejak tahap perencanaan proyek, mengombinasikan energi terbarukan, penyimpanan baterai, dan perjanjian pembelian listrik jangka panjang dan membangun pusat data di dekat sumber energi surya atau angin. 

Selain itu, menggunakan teknologi pengelolaan beban listrik yang lebih fleksibel dan memanfaatkan penyimpanan energi untuk membantu stabilitas jaringan listrik

Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon dari industri pusat data.

Asia Tenggara dan Indonesia berpeluang besar
Deloitte menilai Asia Tenggara semakin penting dalam peta pertumbuhan pusat data global. Lonjakan penggunaan layanan digital, pertumbuhan ekonomi digital, serta investasi besar di sektor infrastruktur energi menjadi pendorong utama.

Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki potensi besar dalam perkembangan industri ini. Dengan populasi digital yang besar dan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat, kebutuhan terhadap pusat data diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, Deloitte menilai pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur energi yang lebih bersih dan andal.

Deloitte juga menekankan bahwa pertumbuhan pusat data yang berkelanjutan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, regulator, penyedia energi, hingga investor.

Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain mempercepat perizinan proyek energi yang mendukung jaringan listrik, memperkuat investasi pada infrastruktur energi dan digital, serta memprioritaskan mitra yang memiliki kredensial energi bersih.

Abhrajit Ray, Deloitte Asia Pacific Technology, Media and Telecom Leader, mengungkapkan operator pusat data yang menjadikan energi sebagai bagian inti dari strategi bisnis akan menjadi pemenang dalam persaingan industri ini.

"AI, cloud, dan konektivitas digital mendorong kebutuhan daya komputasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operator yang memperlakukan energi sebagai infrastruktur inti, bukan sekadar keputusan pengadaan di tahap akhir, akan memiliki keunggulan di masa depan," ujarnya.

Dengan strategi yang tepat, Deloitte menilai pertumbuhan pusat data tidak hanya memperkuat ekonomi digital, tetapi juga dapat membantu mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih di kawasan Asia Fasifik.