EKBIS

Rupiah Mulai Bangkit, Menguat ke Rp17.941 per Dolar AS di Tengah Upaya BI Menjaga Stabilitas Pasar

Mata uang Garuda tercatat menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS.
Ilustrasi - Uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: ANTARA
Ilustrasi - Uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTANilai tukar rupiah menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Kamis (11/6) pagi. Mata uang Garuda tercatat menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS. 

Penguatan ini memang masih tergolong tipis. Namun, pergerakan tersebut memberikan sinyal positif setelah rupiah mengalami tekanan cukup berat dalam beberapa pekan terakhir hingga sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Data perdagangan menunjukkan penguatan rupiah terjadi seiring mulai meredanya tekanan terhadap dolar AS di pasar global. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengungkapkan indeks dolar AS turun ke level 99,8 setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis sesuai ekspektasi pasar. Kondisi itu mengurangi kekhawatiran investor terhadap kebijakan suku bunga agresif dari bank sentral AS atau Federal Reserve. 

“Data inflasi AS yang relatif sesuai perkiraan pasar membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sedikit berkurang,” kata Andry Asmoro seperti dikutip Infobanknews.

Bank Mandiri memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.870 hingga Rp18.035 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Sementara itu, penguatan rupiah juga tidak lepas dari langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

Awal pekan ini, BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut diambil untuk menahan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.190 per dolar AS. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah memperkuat stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian global. Selain itu, kebijakan tersebut juga bertujuan menjaga inflasi tetap berada dalam target pemerintah. 

Langkah BI tampaknya mulai mendapat respons positif dari pasar. Setelah pengumuman kenaikan suku bunga, rupiah berhasil memangkas sebagian kerugiannya dan bergerak menguat dari posisi terendah yang terjadi pada awal pekan. 

Senior Deputy Governor Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa BI juga telah melakukan komunikasi intensif dengan investor global dari Amerika Serikat, Eropa, dan Asia untuk menjelaskan alasan di balik kebijakan moneter tersebut. Menurutnya, komunikasi yang baik diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia. 

Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga serta tingkat inflasi yang relatif terkendali. 

Meski demikian, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir. Ketidakpastian geopolitik global, arus modal asing, serta arah kebijakan suku bunga AS masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan. 

Bagi pelaku usaha dan masyarakat, penguatan rupiah hari ini menjadi kabar baik karena dapat membantu meredam tekanan biaya impor dan menjaga stabilitas harga barang. Pasar kini menantikan langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global yang akan menentukan arah pergerakan rupiah pada semester kedua tahun 2026.