EKBIS

Wamen ESDM Tinjau PLTA Batang Toru 510 MW, Progres Proyek Capai 89,49 Persen

Wamen ESDM Tinjau PLTA Batang Toru 510 MW, Progres Proyek Capai 89,49 Persen. Foto: dok. istimewa
Wamen ESDM Tinjau PLTA Batang Toru 510 MW, Progres Proyek Capai 89,49 Persen. Foto: dok. istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Yuliot, meninjau Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan percepatan penyelesaian proyek pembangkit listrik tenaga air yang dinilai penting bagi penguatan sistem kelistrikan Sumatera.

Dalam kunjungannya, Yuliot meninjau sejumlah fasilitas utama PLTA Batang Toru, mulai dari bendungan, jalur transmisi, lahan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), hingga powerhouse.

Kunjungan dilanjutkan dengan pemaparan perkembangan proyek, arahan Wakil Menteri ESDM, serta diskusi bersama manajemen PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) mengenai percepatan penyelesaian proyek.

Wamen ESDM Yuliot mengatakan bahwa percepatan PLTA Batang Toru diperlukan untuk memperkuat pasokan listrik di sistem Sumatera.

“Kondisi penyediaan tenaga listrik di Sumatera saat ini memerlukan penguatan melalui percepatan penyelesaian proyek-proyek pembangkit, salah satunya PLTA Batang Toru 510 MW,” ujar Yuliot dalam kunjungan kerja tersebut, Sabtu (1/8).

Menurutnya, PLTA Batang Toru akan menjadi salah satu pembangkit penting untuk memperkuat pasokan listrik Sumatera di tengah keterbatasan sumber energi primer lainnya.

Manajemen NSHE melaporkan progres fisik PLTA Batang Toru hingga Juli 2026 telah mencapai 89,49 persen.

Capaian ini kembali ke posisi akhir November 2025 sebelum proyek terdampak banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara pada 24–25 November 2025.

Bwncan itu turut menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas proyek, termasuk infrastruktur transmisi, fasilitas pendukung bendungan, powerhouse, dan akses jalan menuju lokasi.

Kondisi tersebut sempat membuat pengerjaan proyek mengalami penundaan.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bencana tersebut merupakan peristiwa cuaca ekstrem nonrutin dengan periode ulang lebih dari 200 tahun.

Dalam waktu sekitar delapan bulan setelah bencana, NSHE melakukan pemulihan berbagai infrastruktur hingga progres proyek kembali ke posisi sebelum bencana.
Saat ini, bendungan PLTA Batang Toru telah siap memasuki tahap initial impounding, sedangkan proses commissioning powerhouse berjalan sesuai rencana.

Pengujian switchyard juga telah rampung 100 persen dan pemulihan jalur transmisi terus dilakukan sesuai target.

Meski demikian, NSHE menyebut target Commercial Operation Date (COD) pada 2026 masih membutuhkan dukungan lintas kementerian dan lembaga.

Dukungan tersebut terutama diperlukan untuk mempercepat penyelesaian perizinan dan administrasi hukum sebagai prasyarat pelaksanaan tahap impounding.

Yuliot menekankan koordinasi lintas pemangku kepentingan diperlukan agar berbagai kendala penyelesaian proyek dapat segera ditangani.

“Kami membutuhkan dukungan dari seluruh kementerian atau lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta koordinasi antara PT PLN dan anak perusahaannya agar setiap kendala dapat diselesaikan bersama demi mendukung penguatan bauran energi nasional,” katanya.

Presiden Direktur PT NSHE Li Xinlu mengapresiasi dukungan Kementerian ESDM dalam mendorong percepatan pembangunan PLTA Batang Toru.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian ESDM atas perhatian dan dukungan berkelanjutan terhadap proyek ini, termasuk melalui fasilitasi berbagai forum koordinasi lintas instansi,” ujar Li Xinlu.

Menurut Li, PLTA Batang Toru akan berperan dalam memperkuat keandalan sistem kelistrikan Sumatera sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

”Kami juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian ESDM dalam mempercepat penyelesaian Right of Way (ROW) jalur transmisi dan koordinasi lintas kementerian terkait proses perizinan,” tuturnya.

Selain memulihkan fasilitas proyek, NSHE turut terlibat dalam penanganan dampak bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Upaya tersebut meliputi pemulihan akses jalan nasional dan provinsi, distribusi bantuan logistik ke 16 lokasi atau desa, serta penyediaan air bersih bagi sekitar 200 kepala keluarga.

NSHE juga membantu pemulihan sejumlah fasilitas pendidikan dan rumah ibadah yang terdampak bencana.

Yuliot kembali menegaskan bahwa pemerintah akan mengawal penyelesaian proyek energi strategis nasional untuk memastikan ketersediaan dan keandalan energi.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita harus melakukan antisipasi, pengecekan langsung ke lapangan, dan percepatan demi menjamin ketersediaan serta keandalan energi secara nasional,” tuturnya.

PLTA Batang Toru sendiri memiliki kapasitas terpasang 510 MW dan diproyeksikan menghasilkan listrik sebesar 2.124,03 GWh per tahun.

Pembangkit tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem kelistrikan Sumatera sekaligus mendukung pencapaian target bauran energi baru terbarukan Indonesia.