LIFESTYLE

Bukan Lagi Soal Gengsi, Fine Dining Cara Konsumen Premium Asia Tenggara Mencari Makna Hidup

Jika dahulu restoran premium identik dengan simbol status sosial dan kemewahan, kini konsumen justru melihatnya sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas diri, membangun hubungan sosial, hingga mencari pengalaman hidup yang lebih bermakna.
Ilustrasi pengalaman fine dining kini berkembang jauh melampaui sekadar konsumsi makanan atau simbol status. Foto: apakabar.co.id
Ilustrasi pengalaman fine dining kini berkembang jauh melampaui sekadar konsumsi makanan atau simbol status. Foto: apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA – Pengalaman bersantap mewah atau fine dining di Asia Tenggara tengah mengalami perubahan besar. Jika dahulu restoran premium identik dengan simbol status sosial dan kemewahan, kini konsumen justru melihatnya sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas diri, membangun hubungan sosial, hingga mencari pengalaman hidup yang lebih bermakna.

Temuan tersebut terungkap dalam white paper terbaru berjudul Taste and Transformation: How Luxury Dining Is Shaping Identity, Connection and Lifestyle in Southeast Asia yang disusun oleh BurdaLuxury bersama Vero. Studi ini meneliti perilaku konsumen premium di Malaysia, Singapura, dan Thailand serta bagaimana pengalaman kuliner mewah memengaruhi gaya hidup mereka.

White paper tersebut diperkenalkan dalam ajang Lifestyle Asia Best Bites Awards di Andaz One Bangkok dan didasarkan pada survei terhadap 600 konsumen premium yang dilakukan bersama GMO-Z.com Research.

CEO BurdaLuxury, Björn Rettig, menjelaskan hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran pola pikir konsumen premium di kawasan Asia Tenggara.

“Melalui white paper ini, kami ingin memahami lebih dalam apa yang benar-benar penting bagi para penikmat kuliner mewah di Asia Tenggara saat ini. Temuan yang kami peroleh mengonfirmasi pergeseran yang semakin kami amati, dari konsumsi yang berorientasi status menuju pencarian pengalaman yang lebih bermakna,” ujar Rettig di Bangkok, Senin (8/6).

Menurut dia, makanan kini tidak hanya menjadi kebutuhan atau simbol prestise, tetapi juga menjadi medium untuk terhubung dengan budaya, orang lain, bahkan dengan diri sendiri. Dalam konteks tersebut, restoran berkembang menjadi salah satu titik sentuh paling berpengaruh dalam ekosistem gaya hidup modern.

Nilai emosional tolok ukur kemewahan
Salah satu temuan utama dalam studi tersebut adalah perubahan cara konsumen mendefinisikan kemewahan. Di Malaysia, Singapura, dan Thailand, pengalaman premium tidak lagi diukur berdasarkan harga mahal, eksklusivitas, atau status sosial semata.

Sebaliknya, konsumen lebih menghargai nilai emosional dan makna personal yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

Data survei menunjukkan bahwa 33,17 persen responden memilih pengalaman kuliner premium sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Sementara 31,5 persen menjadikannya sebagai cara merayakan pencapaian penting dalam hidup, dan 31 persen menganggapnya sebagai sarana untuk melepas penat dari tekanan sehari-hari.

Temuan ini menunjukkan bahwa faktor emosional kini menjadi pertimbangan utama dalam menentukan nilai sebuah pengalaman bersantap mewah.

Perilaku konsumen berbeda tiap negara
Meskipun memiliki motivasi yang relatif sama, studi ini menemukan adanya perbedaan perilaku konsumen di masing-masing negara.

Di Malaysia dan Singapura, pengalaman makan di restoran premium umumnya dipandang sebagai momen spesial yang dilakukan sesekali. Sebaliknya, konsumen Thailand menunjukkan tingkat kunjungan yang lebih tinggi ke restoran premium.

Tidak hanya itu, masyarakat Thailand juga tercatat lebih aktif membagikan pengalaman kuliner mereka di media sosial dan lebih sering menjadikan pengalaman gastronomi sebagai pertimbangan dalam menentukan tujuan perjalanan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal serta tingkat kematangan pasar turut memengaruhi ekspektasi konsumen terhadap pengalaman kuliner mewah.

Media sosial penggerak utama
White paper ini juga menyoroti peran besar media sosial dalam membentuk keputusan konsumen premium.

Sebanyak sembilan dari sepuluh responden mengaku pernah mencoba restoran, menu makanan, atau pengalaman kuliner baru setelah melihatnya melalui platform digital.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman bersantap kini telah berkembang menjadi salah satu elemen gaya hidup yang paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Bagi pelaku usaha, kondisi tersebut membuka peluang besar untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen melalui konten yang autentik dan relevan.

Menariknya, dampak pengalaman kuliner tidak berhenti pada makanan semata. Studi menunjukkan bahwa pengalaman bersantap premium juga memengaruhi minat konsumen terhadap berbagai kategori gaya hidup lainnya.

Sebanyak 39,67 persen responden mengaku mendapatkan inspirasi untuk kategori home and design dari pengalaman kuliner mereka. Sementara itu, 40,16 persen responden menyebut pengalaman makan mewah turut memengaruhi minat mereka terhadap dunia fashion.

Keterkaitan antara kuliner dan fashion terlihat paling kuat di Thailand dengan persentase mencapai 51 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang berada di level 36 persen dan Singapura sebesar 33,5 persen.

Selain itu, sebanyak 38,5 persen responden mengungkapkan pengalaman kuliner juga menginspirasi pilihan gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan dan wellness.

Tantangan dan peluang brand
Account Director Vero Thailand, Sireethon Auerat, menilai konsumen premium saat ini tidak lagi hanya menjadi penerima pesan dari brand, tetapi juga ikut membentuk pengalaman yang mereka nikmati.

Saat ini terjadi pergeseran, di mana pengalaman bersantap kini menjadi momen yang dipengaruhi oleh emosi sekaligus membentuk identitas seseorang. "Ketika sebuah pengalaman kuliner mampu meninggalkan kesan yang kuat, pengaruhnya tidak berhenti di meja makan,” katanya.

Menurut Auerat, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang membangun koneksi, memilih destinasi wisata, mengambil keputusan pembelian, hingga berinteraksi dengan berbagai merek.

Karena itu, ia menilai peluang terbesar bagi perusahaan saat ini adalah menghadirkan pengalaman yang terasa personal, autentik, dan layak untuk dibagikan.

Temuan dalam white paper Taste and Transformation menunjukkan bahwa masa depan industri kuliner premium tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas makanan atau kemewahan tempat. Konsumen kini mencari pengalaman yang mampu memberikan makna, menciptakan hubungan emosional, serta menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup mereka.

Bagi brand, baik di sektor makanan dan minuman maupun industri gaya hidup lainnya, memahami perubahan perilaku ini menjadi kunci untuk tetap relevan di tengah semakin tingginya ekspektasi konsumen premium Asia Tenggara.