LIFESTYLE
Jakarta Makin Padat, WRI Indonesia Hadirkan Kisah Nyata Warga tentang Hunian Vertikal yang Lebih Manusiawi
WRI Indonesia bersama komunitas perkotaan meluncurkan buku 'Ruang Tengah' yang mengangkat cerita warga tentang hunian vertikal dan masa depan kota yang lebih inklusif dan manusiawi.
apakabar.co.id, JAKARTA - Meningkatnya urbanisasi menjadi tantangan besar bagi kota-kota di Indonesia, terutama Jakarta. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus berlangsung membuat kebutuhan akan hunian layak semakin mendesak.
Di sisi lain, lahan yang semakin terbatas serta pola pembangunan kota yang menyebar (urban sprawl) membuat penyediaan rumah yang terjangkau menjadi persoalan yang belum mudah diatasi.
Melihat kondisi tersebut, World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama komunitas perkotaan meluncurkan buku Ruang Tengah: Cerita Warga tentang Hunian Vertikal, Kehidupan Komunal, dan Realitas di Perkotaan. Buku ini menjadi wadah untuk menghadirkan suara warga mengenai pengalaman mereka tinggal di hunian vertikal sekaligus menawarkan sudut pandang baru tentang masa depan permukiman di kota-kota besar.
Communication Specialist for Core Function WRI Indonesia Novaeny Wulandari menjelaskan peluncuran buku tersebut dilatarbelakangi keinginan untuk memperkaya diskusi mengenai pembangunan kota yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya.
WRI Indonesia menilai bahwa solusi terhadap persoalan hunian harus berangkat dari pengalaman nyata warga sebagai pihak yang merasakan langsung dinamika kehidupan perkotaan.
"Buku Ruang Tengah merupakan hasil dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan komunitas, peneliti, serta masyarakat untuk belajar bersama mengenai berbagai bentuk hunian di perkotaan," ujar Novaeny dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/7).
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengunjungi beberapa lokasi, seperti Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) Tanah Tinggi, Rumah Barokah Palmerah, dan Flat Menteng. Melalui kunjungan tersebut, peserta tidak hanya mengamati bentuk bangunan, tetapi juga memahami kehidupan sehari-hari para penghuni.
"Mereka merekam cerita, tantangan, hingga harapan warga yang hidup di lingkungan dengan keterbatasan ruang, namun tetap mampu membangun kebersamaan," ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian dituangkan dalam berbagai karya kreatif yang menjadi isi utama buku. Pembaca akan menemukan esai, foto esai, puisi, hingga zine yang menggambarkan kehidupan warga dari sudut pandang yang lebih dekat dan personal.
Buku tersebut juga mengajak masyarakat melihat hunian vertikal dari perspektif yang lebih luas. Selama ini, hunian sering dipahami hanya sebagai bangunan tempat tinggal. Padahal, sebuah rumah juga menjadi ruang bagi tumbuhnya hubungan sosial, solidaritas, serta rasa memiliki terhadap lingkungan dan kota.
Melalui kisah-kisah yang disajikan, pembaca diajak memahami bahwa ruang komunal memiliki peran penting dalam membangun kualitas hidup penghuni. Interaksi antarwarga, kerja sama dalam menjaga lingkungan, hingga aktivitas bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan di hunian vertikal.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan hunian tidak cukup hanya menyediakan bangunan yang kokoh. "Lingkungan tempat tinggal juga harus mampu menciptakan rasa aman, nyaman, dan kesempatan bagi warga untuk saling berinteraksi," katanya.
Selain menghadirkan pengalaman warga, buku ini juga mengangkat isu yang lebih luas mengenai hubungan antara tata ruang kota, keterjangkauan harga hunian, dan kualitas hidup masyarakat. Ketiga aspek tersebut dinilai saling berkaitan dan perlu dipertimbangkan secara bersamaan dalam perencanaan pembangunan perkotaan.
Melalui kumpulan cerita dan refleksi yang disajikan, Ruang Tengah diharapkan menjadi ruang dialog bagi berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, komunitas, akademisi, hingga pembuat kebijakan. Harapannya, diskusi mengenai penyediaan hunian di kota tidak lagi hanya berfokus pada jumlah bangunan yang dibangun, tetapi juga pada bagaimana hunian tersebut benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Buku ini, menurut Novaeny, menjadi pengingat bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan harus mengutamakan keadilan dan keterlibatan masyarakat.
"Suara warga perlu menjadi bagian penting dalam setiap proses penyusunan kebijakan agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan," katanya.
Sebagai lembaga penelitian independen, WRI Indonesia atau Yayasan Institut Sumber Daya Dunia terus mendorong pembangunan sosial dan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan. Lembaga ini berupaya menghubungkan perlindungan lingkungan dengan peluang ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai riset dan aksi nyata.
Melalui peluncuran Ruang Tengah, WRI Indonesia berharap semakin banyak pihak memahami bahwa masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi. Masa depan itu juga dibentuk oleh ruang-ruang yang memungkinkan warganya hidup berdampingan, saling mendukung, dan memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hunian yang layak, terjangkau, dan manusiawi.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK