LINGKUNGAN HIDUP
Minyak Jelantah Disulap Jadi BBM, Toyota dan BMW Mulai Uji Coba
apakabar.co.id, JAKARTA - Produsen otomotif global terus berlomba menghadirkan solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan. Tak hanya fokus mengembangkan kendaraan listrik, Toyota dan BMW kini mengambil langkah baru dengan menguji penggunaan bensin berbahan baku limbah organik, termasuk minyak goreng bekas atau minyak jelantah, sebagai alternatif bahan bakar rendah karbon.
Program uji coba tersebut berlangsung selama enam bulan di Spanyol dan melibatkan kolaborasi empat perusahaan besar, yakni Toyota, BMW, Bosch, serta perusahaan energi asal Spanyol, Repsol. Sebanyak 20 unit kendaraan Toyota dan BMW digunakan dalam proyek ini untuk menguji performa bahan bakar terbarukan Nexa 95 yang diproduksi Repsol.
Berbeda dengan bensin konvensional yang berasal dari minyak bumi, Nexa 95 diproduksi dari berbagai limbah organik seperti minyak jelantah, limbah pertanian, hingga residu organik lainnya. Bahan bakar ini tetap menghasilkan emisi karbon dari knalpot kendaraan, namun jejak karbon secara keseluruhan diklaim jauh lebih rendah.
Pasalnya, karbon yang dilepaskan berasal dari material organik yang sebelumnya menyerap karbon dioksida dari atmosfer selama masa hidupnya, bukan dari cadangan karbon fosil yang tersimpan jutaan tahun di bawah permukaan bumi.
Salah satu keunggulan utama bahan bakar ini adalah kemampuannya digunakan langsung pada kendaraan bermesin bensin yang sudah beredar di jalan. Karakteristik kimianya dibuat sangat mirip dengan bensin biasa sehingga tidak memerlukan modifikasi mesin maupun pembangunan infrastruktur pengisian bahan bakar baru. Dengan kata lain, pemilik mobil bensin dapat langsung memanfaatkannya ketika tersedia di stasiun pengisian.
Dalam proyek tersebut, Bosch menghadirkan teknologi Digital Fuel Twin, sebuah sistem digital yang memungkinkan setiap liter bahan bakar dapat dilacak mulai dari proses produksi, distribusi, hingga akhirnya digunakan di kendaraan. Sistem ini juga memastikan bahwa bahan bakar yang dipakai benar-benar merupakan bahan bakar terbarukan yang telah melalui proses sertifikasi.
Melalui uji coba ini, para mitra proyek ingin membuktikan tiga aspek penting. Pertama, bahan bakar terbarukan dapat didistribusikan melalui jaringan SPBU yang sudah ada tanpa memerlukan investasi besar untuk membangun infrastruktur baru.
Kedua, sistem sertifikasi digital mampu menjamin keaslian bahan bakar sehingga pengguna memperoleh produk sesuai standar. Ketiga, kendaraan bermesin bensin yang telah beredar saat ini dapat menjadi bagian dari upaya pengurangan emisi tanpa harus mengalami perubahan teknis.
Spanyol dipilih sebagai lokasi pengujian karena Repsol telah memiliki jaringan stasiun pengisian bahan bakar yang menyediakan bensin terbarukan 100 persen. Kondisi tersebut menjadikan negara tersebut sebagai salah satu tempat paling siap untuk menguji implementasi bahan bakar rendah karbon dalam penggunaan sehari-hari.
Langkah Toyota dan BMW ini juga hadir di tengah kebijakan Uni Eropa yang menargetkan penghentian penjualan mobil baru bermesin pembakaran internal pada 2035. Meski demikian, pembahasan mengenai peluang kendaraan berbahan bakar netral karbon untuk tetap dipasarkan masih terus berlangsung.
Bagi Toyota dan BMW, elektrifikasi bukanlah satu-satunya jalan menuju transportasi berkelanjutan. Kedua produsen otomotif itu meyakini bahwa bahan bakar terbarukan dapat menjadi solusi pelengkap untuk mempercepat dekarbonisasi, terutama bagi jutaan kendaraan bermesin bensin yang masih beroperasi di berbagai negara.
Apabila uji coba ini membuahkan hasil positif, penggunaan bensin berbahan baku minyak jelantah dan limbah organik berpotensi menjadi salah satu alternatif penting dalam transisi menuju mobilitas rendah emisi, sekaligus memperpanjang peran kendaraan bermesin pembakaran internal dengan dampak lingkungan yang jauh lebih kecil.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

