NEWS
BNPB Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem, Banjir hingga Karhutla Mengintai Sejumlah Wilayah Indonesia
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia.
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Imbauan tersebut disampaikan setelah adanya prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyebutkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari menjelaskan kesiapsiagaan menjadi hal penting di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Perubahan cuaca ekstrem dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor.
“Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Kami meminta pemda dan masyarakat tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana tersebut,” ujar Abdul dalam keterangannya di Jakarta, Minggu malam (24/5).
Abdul mengungkapkan, dampak cuaca ekstrem sudah dirasakan di beberapa daerah. Salah satunya terjadi di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang dilanda banjir akibat hujan deras dengan durasi panjang pada Jumat malam, 22 Mei 2026.
Banjir tersebut merendam sedikitnya 35 rumah warga di Desa Mulyorejo, Kecamatan Cepu. Selain permukiman warga, dua fasilitas pendidikan juga ikut terdampak, yakni SD Mulyorejo 1 dan SMP 4 Cepu. Genangan air sempat mengganggu aktivitas masyarakat setempat dan membuat warga harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan.
Meski kondisi banjir di Blora dilaporkan mulai berangsur surut sehari setelah kejadian, BNPB menilai situasi cuaca saat ini masih sangat dinamis. Hal itu disebabkan adanya perubahan atmosfer yang membuat sebagian wilayah Indonesia masih diguyur hujan, sementara wilayah lain mulai memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Pasalnya, ancaman bencana yang muncul tidak hanya berupa banjir dan longsor, tetapi juga kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
BNPB menegaskan kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh dengan menyesuaikan kondisi di masing-masing daerah. Wilayah yang masih berpotensi hujan lebat diminta memperkuat antisipasi banjir, genangan, dan longsor. Sementara daerah yang mulai memasuki musim kemarau perlu mewaspadai kekeringan dan potensi kebakaran lahan.
Selain itu, masyarakat juga diminta agar terus memantau informasi resmi terkait cuaca dan potensi bencana. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG, maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
BNPB menilai langkah antisipasi sejak dini menjadi salah satu kunci penting untuk mengurangi risiko kerusakan dan korban akibat bencana alam. Respons cepat dari masyarakat dan aparat setempat dinilai dapat membantu mempercepat penanganan ketika terjadi situasi darurat.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengabaikan tanda-tanda perubahan cuaca. Saat hujan deras disertai petir dan angin kencang terjadi, warga diminta menghindari daerah rawan banjir, tidak berteduh di bawah pohon besar, serta memastikan saluran air di lingkungan tetap bersih agar tidak memicu genangan.
BNPB memastikan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memperkuat upaya mitigasi bencana di tengah cuaca yang masih sulit diprediksi. Dengan kesiapsiagaan yang baik, dampak bencana diharapkan bisa diminimalkan sehingga keselamatan warga tetap terjaga.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK