NEWS

Damai AS-Iran Terbentuk: Selat Hormuz Bersiap Dibuka Kembali, Dunia Menanti Dampak Besarnya

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah kedua negara menyepakati sebuah memorandum awal yang disebut sebagai langkah penting menuju penghentian konflik dan penyelesaian berbagai persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dokumenstasi - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Foto: ANTARA/Anadolu
Dokumenstasi - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Foto: ANTARA/Anadolu
apakabar.co.id, JAKARTA - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah kedua negara menyepakati sebuah memorandum awal yang disebut sebagai langkah penting menuju penghentian konflik dan penyelesaian berbagai persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Kesepakatan tersebut memunculkan harapan baru bagi stabilitas kawasan Timur Tengah sekaligus memberikan sentimen positif bagi pasar energi dan keuangan global.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa memorandum yang telah disepakati bersama Washington merupakan langkah awal menuju penghentian perang, meskipun jalan menuju kesepakatan akhir masih panjang. Menurutnya, Republik Islam Iran telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat muncul selama proses negosiasi berlangsung.

Dalam pernyataannya melalui media sosial X, Pezeshkian menyebut bahwa apa yang telah dicapai saat ini merupakan perkembangan penting menuju penghentian konflik dan pembukaan jalur dialog yang lebih luas. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kesepakatan final yang mengatur seluruh isu strategis antara kedua negara belum tercapai.

“Iran telah mempersiapkan diri untuk semua opsi,” tegas Pezeshkian dikutip Selasa (16/6).

Presiden Iran juga menekankan bahwa pemerintahannya akan tetap fokus melayani rakyat, baik kesepakatan akhir dengan AS nantinya tercapai maupun tidak. Ia turut memberikan apresiasi kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang disebut berperan besar dalam proses penyusunan memorandum tersebut.

Menurut Pezeshkian, arahan dari pemimpin tertinggi menjadi faktor penting dalam memastikan setiap klausul yang dimasukkan ke dalam memorandum mampu melindungi kepentingan nasional Iran.

Kesepakatan awal tersebut dikonfirmasi oleh kedua negara pada Senin (15/6). Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6). Salah satu poin penting yang disepakati adalah penghentian aksi militer di berbagai wilayah, termasuk Lebanon yang selama ini menjadi salah satu titik ketegangan di kawasan.

Perdamaian AS Iran
Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi bahwa memorandum perdamaian dengan Iran secara de facto telah ditandatangani. Setelah tahap ini, kedua negara akan memasuki proses negosiasi lanjutan untuk menyusun perjanjian final yang akan mencakup penyelesaian isu program nuklir Iran serta berbagai sanksi ekonomi yang selama ini diberlakukan Washington terhadap Teheran.

Selain aspek politik dan keamanan, perhatian dunia kini tertuju pada nasib Selat Hormuz yang memiliki peran vital dalam perdagangan energi global.

Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Trump menyampaikan optimismenya bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya bagi pelayaran komersial mulai Jumat (19/6).

Trump bahkan menyebut perkembangan tersebut sebagai salah satu kabar terbaik bagi perekonomian dunia saat ini. Menurutnya, pasar telah merespons positif sinyal perdamaian antara AS dan Iran.

“Saya kira banyak hal luar biasa yang akan terjadi di Timur Tengah. Yang paling penting adalah harga minyak turun signifikan dan pasar saham melesat naik,” kata Trump.

Meski demikian, sejumlah pejabat AS mengingatkan bahwa proses normalisasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Seorang pejabat senior AS menyebut kecil kemungkinan aktivitas pelayaran kembali sepenuhnya normal dalam dua minggu ke depan.

Berdasarkan isi memorandum yang telah disepakati, Selat Hormuz akan dibuka selama 60 hari tanpa pungutan biaya tol. Pemerintah AS berharap ketentuan tersebut nantinya menjadi bagian permanen dari kesepakatan akhir antara kedua negara.

Namun, Trump menegaskan bahwa Washington belum akan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran sampai Teheran memenuhi seluruh kewajiban yang telah disepakati.

Pemerintah AS juga menegaskan bahwa tujuan utama dari proses diplomasi ini adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Isu tersebut selama bertahun-tahun menjadi sumber utama ketegangan antara kedua negara.

Wakil Presiden AS J.D. Vance mengungkapkan bahwa perjanjian awal sebenarnya telah ditandatangani secara digital pada Minggu. Selanjutnya, kedua negara akan memasuki masa negosiasi teknis selama 60 hari untuk membahas rincian yang lebih kompleks, termasuk masa depan program pengembangan nuklir Iran.

Vance akan tetap memimpin tim negosiasi AS selama proses berlangsung dan dijadwalkan menghadiri upacara resmi penandatanganan memorandum di Jenewa.

Di tengah perkembangan diplomatik tersebut, militer AS tetap mempertahankan kekuatan pasukannya di kawasan Timur Tengah. Seorang pejabat senior AS mengungkapkan langkah itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi guna memastikan seluruh kesepakatan dapat dijalankan sesuai komitmen yang telah dibuat.

Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz sebelumnya telah memberikan dampak besar terhadap ekonomi global. Jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia.

Sebelum konflik meningkat, sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Gangguan terhadap jalur tersebut menyebabkan harga energi melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara.

Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi prioritas utama dalam negosiasi antara Washington dan Teheran. Pasar global pun menyambut positif perkembangan terbaru ini karena berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan minyak dunia.

Meski Iran menyatakan tidak akan mengenakan biaya tol terhadap kapal yang melintas, pemerintah Teheran tetap mempertahankan kebijakan pungutan tertentu yang berkaitan dengan layanan keselamatan maritim dan perlindungan lingkungan.

Kini, perhatian dunia tertuju pada pertemuan di Swiss yang dijadwalkan berlangsung Jumat mendatang. Jika proses berjalan sesuai rencana, memorandum tersebut dapat menjadi fondasi bagi kesepakatan yang lebih komprehensif dan membuka peluang berakhirnya salah satu konflik geopolitik paling kompleks dalam beberapa dekade terakhir.

Bagi pasar global, keberhasilan negosiasi ini tidak hanya berarti meredanya ketegangan politik di Timur Tengah, tetapi juga membuka harapan terhadap stabilitas pasokan energi dunia, penurunan harga minyak, dan pemulihan kepercayaan investor yang sempat terguncang akibat konflik berkepanjangan.