NEWS
Ketegangan di Selat Hormuz: AS Gempur Lebih dari 80 Target Iran Akibatkan Jalur Minyak Dunia Terancam
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS mengeklaim telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 target militer Iran akibat serangkaian serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS mengklaim telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap lebih dari 80 target militer Iran. Operasi tersebut disebut sebagai aksi balasan atas serangkaian serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan energi dunia.
Serangan yang diumumkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Selasa (7/7) malam waktu setempat itu menandai babak baru dalam konflik yang terus berkembang di kawasan Teluk. Di sisi lain, Iran langsung merespons dengan janji akan memberikan balasan tegas terhadap aksi militer Washington.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut operasi militer tersebut berhasil menghantam lebih dari 80 sasaran strategis milik Iran. Target yang diserang meliputi sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali militer, radar pantai, sistem rudal anti-kapal, hingga lebih dari 60 perahu kecil milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Menurut militer AS, operasi itu dilakukan sebagai respons langsung atas serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
"Sebagai balasan langsung atas serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz," demikian bunyi pernyataan resmi CENTCOM.
Washington menilai serangan tersebut diperlukan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengganggu jalur perdagangan internasional yang melintasi kawasan strategis tersebut.
CENTCOM juga menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi siaga penuh dan siap mengambil tindakan lanjutan apabila Iran kembali melakukan serangan atau melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku.
Ledakan terjadi di Iran Selatan
Tidak lama setelah pengumuman dari CENTCOM, media pemerintah Iran melaporkan adanya sejumlah ledakan di beberapa wilayah Iran bagian selatan pada Rabu (8/7) pagi.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pemerintah Iran mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut. Namun laporan tersebut memperkuat klaim Amerika Serikat bahwa operasi militer memang telah berlangsung di wilayah Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dapat semakin meluas jika kedua negara terus saling melakukan serangan balasan.
Merespons serangan Amerika Serikat, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyatakan akan memberikan tanggapan yang tegas terhadap aksi militer tersebut.
Dalam laporan yang disiarkan Press TV, komando militer Iran menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Amerika Serikat ikut campur dalam urusan keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Iran tetap mempertahankan sikap keras terhadap kehadiran militer AS di kawasan yang selama ini menjadi jalur vital ekspor minyak dunia.
Iran belum mengungkap bentuk respons yang akan dilakukan. Namun pernyataan tersebut memperbesar kemungkinan meningkatnya eskalasi militer di kawasan Teluk dalam beberapa hari ke depan.
Kapal dagang Qatar diserang
Di tengah meningkatnya ketegangan, Pemerintah Qatar juga mengambil langkah diplomatik dengan memanggil Wakil Duta Besar Iran di Doha.
Langkah itu dilakukan sebagai bentuk protes atas dugaan serangan Iran terhadap kapal milik Qatar, Al Rekayyat, yang sedang berada di dekat Selat Hormuz pada Selasa (7/7).
Pemerintah Qatar meminta penjelasan resmi terkait insiden tersebut karena dinilai mengancam keselamatan pelayaran internasional.
Namun tuduhan itu langsung dibantah oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Menurut Baghaei, Iran tetap berkomitmen menjaga keamanan navigasi di Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa kapal-kapal yang mengikuti prosedur koordinasi dengan otoritas Iran tidak akan menghadapi masalah.
"Kapal-kapal yang menggunakan rute yang tidak dikoordinasikan dengan otoritas Iran akan menghadapi risiko dan mengganggu upaya Republik Islam Iran untuk memfasilitasi lalu lintas yang aman di Selat Hormuz," ujar Baghaei.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran tetap menganggap dirinya memiliki peran penting dalam pengaturan lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Sementara itu, media pemerintah Iran, IRIB, memberikan versi berbeda mengenai insiden yang melibatkan kapal Qatar.
Menurut laporan IRIB, kapal tanker minyak milik Qatar sedang mencoba melintasi rute menuju Oman melalui Selat Hormuz dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Media tersebut mengklaim kapal itu menjadi sasaran setelah beberapa kali mengabaikan peringatan yang diberikan oleh pasukan Iran.
Klaim tersebut berbeda dengan tuduhan yang disampaikan Qatar sehingga memperlihatkan masih adanya perbedaan versi mengenai penyebab insiden di Selat Hormuz.
Selat Hormuz kembali memanas
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati perairan sempit tersebut sebelum menuju pasar internasional.
Setiap gangguan keamanan di kawasan ini hampir selalu memengaruhi perdagangan global, termasuk harga minyak mentah dan biaya pengiriman internasional.
Karena itu, meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pasokan energi global.
Para pelaku pasar juga terus memantau perkembangan situasi karena konflik yang berkepanjangan berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Dunia menanti langkah berikutnya
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran akan segera mereda. Amerika Serikat menegaskan akan terus meminta pertanggungjawaban Iran apabila terjadi serangan lanjutan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Sebaliknya, Iran menilai operasi militer AS sebagai bentuk agresi yang tidak dapat dibiarkan dan telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan balasan.
Dengan kedua pihak sama-sama menunjukkan sikap keras, situasi di Selat Hormuz diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama masyarakat internasional dalam beberapa waktu ke depan.
Selain berpotensi memperburuk hubungan kedua negara, konflik tersebut juga dapat memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah serta perekonomian global yang bergantung pada kelancaran jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK