apakabar.co.id, JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mitranya mengumumkan bahwa mereka tengah mencari dana sebesar 934,5 juta dolar AS (sekitar Rp15,47 triliun) guna mendanai rencana tanggap krisis kemanusiaan Rohingya yang terus berlanjut di Bangladesh.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung hampir satu juta pengungsi Rohingya dan membantu lebih dari 390.000 warga Bangladesh di komunitas tuan rumah yang juga terdampak oleh krisis ini. Rencana yang berlaku hingga tahun 2025 itu mencerminkan kondisi yang semakin memburuk di kamp-kamp pengungsian serta berlarut-larutnya situasi tanpa solusi yang jelas.
Dengan anggaran yang diperluas, rencana ini menargetkan beberapa sektor utama, seperti peningkatan ketahanan pangan, penanganan malnutrisi, serta peningkatan keamanan di kamp-kamp pengungsian.
Beberapa prioritas utama dalam implementasi rencana ini meliputi peningkatan infrastruktur terdiri dari pembangunan tempat tinggal sementara yang lebih aman dan peningkatan akses air bersih dan sanitasi.
Berikutnya, ketahanan pangan dan gizi, meliputi penyediaan makanan bagi pengungsi yang mengalami kekurangan gizi dan penanganan kasus malnutrisi akut dengan layanan kesehatan yang lebih baik.
Terakhir, keamanan dan perlindungan. Hal ini meliputi meningkatkan keamanan kamp dengan pelatihan bagi aparat penegak hukum dan meningkatkan inisiatif keterlibatan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Selain itu, rencana ini juga mencakup upaya penyediaan peluang ekonomi dan pengembangan keterampilan bagi para pengungsi, sehingga mereka dapat mandiri dan mengurangi ketergantungan pada bantuan kemanusiaan. Langkah ini diharapkan bisa mengatasi kesenjangan pendanaan serta mendorong solusi jangka panjang, termasuk repatriasi sukarela ke Myanmar jika kondisi memungkinkan.
Situasi kritis
Saat ini, sekitar 50.000 pengungsi baru telah tiba di Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan yang kembali meningkat di Myanmar. Mereka membutuhkan perlindungan serta bantuan kemanusiaan segera untuk bertahan hidup.
PBB dan mitra kemanusiaannya mendesak komunitas global untuk tetap berkomitmen dalam pendanaan, mengingat dampak yang sangat besar jika bantuan dikurangi. Mereka memperingatkan bahwa tanpa dana yang cukup, jatah makanan serta layanan penting lainnya bisa mengalami pengurangan drastis.
Direktur Jenderal Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Amy Pope, menyoroti urgensi situasi ini. Menurutnya, organisasi kemanusiaan tidak seharusnya berada dalam kondisi pengungsian berkepanjangan selama 8 (delapan) tahun tanpa solusi konkret.
Ia menegaskan bahwa pemotongan dana dapat mengakibatkan pengungsi Rohingya tidak mendapatkan makanan, perlindungan, serta kebutuhan dasar lainnya.
“Jika pendanaan dikurangi tanpa ada alternatif, orang-orang akan mati,” tegas Pope, mengacu pada kondisi yang semakin memburuk di kota Cox’s Bazar, tempat sebagian besar pengungsi Rohingya tinggal.
Krisis pengungsi Rohingya menimbulkan tekanan besar bagi Bangladesh yang menampung lebih dari satu juta pengungsi. Khalilur Rahman, perwakilan tinggi dalam penanganan krisis Rohingya, menekankan bahwa tanggung jawab internasional harus lebih besar dalam menangani situasi ini.
Sementara itu, Kepala UNHCR Filippo Grandi menegaskan bahwa solusi jangka panjang untuk krisis ini hanya dapat ditemukan di Myanmar. Ia menyoroti pentingnya menciptakan perdamaian di negara bagian Rakhine, tempat asal pengungsi Rohingya, agar mereka bisa kembali dengan aman dan bermartabat.
Grandi juga memperingatkan dampak buruk dari kekurangan dana dengan menyebut bahwa ketika Program Pangan Dunia mengurangi jatah makanan, angka malnutrisi di kamp-kamp langsung meningkat tajam.
“Ada korelasi langsung antara bantuan dan kelangsungan hidup,” ujarnya, menekankan bahwa tanpa dukungan finansial yang cukup, situasi bisa semakin memburuk.
Krisis Rohingya tetap menjadi tantangan besar bagi komunitas internasional. PBB dan mitranya terus berupaya untuk menggalang dana agar dapat memberikan bantuan yang cukup bagi para pengungsi dan masyarakat yang terdampak di Bangladesh.
Tanpa dukungan pendanaan yang memadai serta solusi politik yang jelas, situasi ini berisiko semakin memburuk, membawa dampak lebih besar terhadap stabilitas regional dan kemanusiaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, keterlibatan global yang lebih besar sangat dibutuhkan guna memastikan keselamatan dan kesejahteraan para pengungsi Rohingya.