NEWS
Pelatihan Guru Digital Berbasis Augmented Reality, Upaya SCG Dorong Digitalisasi Pembelajaran yang Lebih Merata
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas pada November 2025.
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah percepatan teknologi digital, dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada tantangan ganda. Di satu sisi, peluang pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terbuka lebar.
Di sisi lain, kesenjangan akses, kesiapan guru, dan kondisi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dalam konteks inilah, isu pelatihan guru digital dan pemanfaatan augmented reality dalam pendidikan menjadi semakin relevan.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas pada November 2025.
Program ini menargetkan lebih dari 288.000 sekolah di seluruh Indonesia dengan dukungan perangkat digital, konten pembelajaran, serta pendampingan guru. Namun, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada kesiapan tenaga pendidik sebagai aktor utama di ruang kelas.
Menyadari tantangan tersebut, SCG Indonesia memperkuat perannya sebagai mitra pembangunan nasional dengan menggelar Digital Literacy Training for Teachers pada 2–3 Februari 2026 di Kantor Ancora Foundation, Jakarta.
Program ini dirancang untuk mendukung akselerasi digitalisasi pembelajaran melalui pelatihan intensif yang berfokus pada peningkatan literasi digital guru, sekaligus penguatan perspektif keberlanjutan dalam pendidikan.
Pelatihan ini menjadi bagian dari SCG Sharing the Dream, program unggulan yang selama lebih dari satu dekade berkontribusi pada perluasan akses pendidikan di Indonesia. Kali ini, fokus diperluas dari penerima beasiswa ke para guru, dengan asumsi sederhana namun krusial: kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kapasitas pendidiknya.
Dalam workshop dua hari tersebut, para peserta dibekali keterampilan penggunaan perangkat digital interaktif, termasuk pemanfaatan platform Assemblr EDU. Teknologi ini memungkinkan guru menyajikan materi pembelajaran dalam format 3D dan augmented reality, sehingga konsep yang kompleks dapat dipahami siswa secara lebih visual dan imersif.
Materi pelatihan mencakup bahan ajar siap pakai, perpustakaan visual 3D, serta alat editor yang dirancang agar mudah digunakan oleh guru dengan beragam tingkat literasi teknologi.
Selain aspek teknis, SCG juga memasukkan materi green entrepreneurship ke dalam kurikulum pelatihan. Guru didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dan kepedulian lingkungan ke dalam proses belajar mengajar. Pendekatan ini dinilai penting agar transformasi digital tidak berhenti pada penguasaan alat, tetapi juga membentuk pola pikir siswa yang kritis dan bertanggung jawab terhadap masa depan lingkungan.
President Director SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum, menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan tambahan. Menurutnya, pemberdayaan guru merupakan investasi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan prinsip Inclusive Green Growth yang diusung SCG.
Pengalaman langsung dirasakan oleh Siti Julaeha, Guru SMAN 56 Jakarta, yang mengikuti pelatihan ini. Ia menilai teknologi augmented reality membuka kemungkinan baru dalam pembelajaran, terutama untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa.
"Harapannya, model pelatihan serupa dapat diperluas agar lebih banyak guru memperoleh manfaat yang sama," kata Siti di Jakarta, Kamis (5/2).
Meski demikian, pelatihan guru digital tetap perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, terutama di daerah 3T, serta pengurangan beban administratif guru, transformasi digital berisiko berjalan tidak merata. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada inisiatif simbolik.
Melalui pelatihan ini, kontribusi sektor swasta memperlihatkan perannya sebagai bagian dari solusi. Tantangannya ke depan adalah memastikan upaya-upaya tersebut terhubung dengan kebijakan struktural, sehingga digitalisasi pembelajaran benar-benar berdampak pada kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK