NEWS
Prabowo Cari Pasokan Minyak ke Luar Negeri, Kebijakan Energi Indonesia Diuji
Presiden Prabowo Subianto menegaskan kunjungan luar negerinya bukan sekadar perjalanan biasa namun bagian dari upaya mengamankan pasokan minyak untuk kebutuhan dalam negeri.
apakabar.co.id, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa rangkaian kunjungan luar negerinya bukan sekadar perjalanan biasa. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya mengamankan pasokan minyak untuk kebutuhan dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan dalam taklimat Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/3), di hadapan para menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselon I.
"Dibilang saya jalan-jalan ke luar negeri. Saudara-saudara, untuk amankan minyak, saya harus ke mana-mana," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, kondisi geopolitik global saat ini sedang tidak stabil. Ketegangan antarnegara, fluktuasi harga minyak, hingga persaingan energi membuat setiap negara harus bergerak cepat menjaga pasokan.
Dalam situasi seperti itu, pemerintah memilih pendekatan aktif dengan menjalin kerja sama langsung ke berbagai negara produsen maupun mitra strategis.
Langkah itu memperlihatkan bahwa isu pasokan minyak menjadi prioritas penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun di sisi lain, langkah ini juga mengisyaratkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih sangat bergantung pada dinamika global.
Kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan
Sebelumnya, Presiden telah melakukan kunjungan ke Jepang pada 29–31 Maret dan dilanjutkan ke Korea Selatan pada 31 Maret hingga 1 April.
Selain membahas kerja sama ekonomi, kedua kunjungan tersebut juga menyentuh sektor energi, termasuk peluang investasi dan penguatan rantai pasok.
Jepang dan Korea Selatan dipandang sebagai mitra strategis karena memiliki teknologi maju serta pengalaman dalam pengelolaan energi.
Prabowo juga mengungkapkan rencananya untuk kembali melakukan kunjungan luar negeri dalam waktu dekat.
"Aku mau berangkat lagi ke sebuah negara. Nanti begitu aku berangkat, kau tahu ke mana. Amankan juga," ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa diplomasi energi akan terus menjadi bagian penting dalam agenda Prabowo luar negeri ke depan.
Bebas aktif, tapi semakin pragmatis
Presiden menegaskan bahwa Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Artinya, Indonesia tidak berpihak pada blok tertentu, tetapi tetap menjalin hubungan dengan semua pihak.
Pendekatan itu dinilai memberi fleksibilitas dalam mengamankan kepentingan nasional, termasuk dalam sektor energi.
Namun, dalam praktiknya, pendekatan ini juga terlihat semakin pragmatis—fokus pada hasil cepat, terutama untuk menjaga pasokan energi tetap aman di tengah tekanan global.
Meski situasi global penuh ketidakpastian, Prabowo tetap optimistis terhadap kondisi Indonesia.
"Saya percaya diri, tidak ada itu 'Indonesia gelap'. Indonesia cerah di saat banyak negara susah," katanya.
Optimisme itu menjadi pesan penting di tengah kekhawatiran akan dampak krisis energi global terhadap perekonomian dalam negeri.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menekankan bahwa jabatan presiden bukan pekerjaan ringan.
"Jangan anggap ini pekerjaan enak. Saya sudah telanjur, jadi harus kerja keras sekali, enggak ada libur," ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas energi membutuhkan kerja intensif, termasuk melalui diplomasi langsung.
PR jangka panjang masih ada
Langkah aktif pemerintah dalam melakukan kunjungan luar negeri untuk mengamankan pasokan minyak memang bisa dilihat sebagai solusi cepat di tengah tekanan global.
Namun, kondisi itu juga membuka pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan Indonesia akan terus bergantung pada pasokan energi dari luar?
Di sinilah isu kebijakan energi Indonesia menjadi relevan. Ketergantungan pada impor membuat posisi Indonesia rentan terhadap gejolak harga dan konflik global.
Artinya, diplomasi luar negeri memang penting untuk jangka pendek. Tapi tanpa penguatan energi dalam negeri, baik dari sisi produksi maupun energi alternatif, risiko yang sama bisa terus berulang.
Dengan kata lain, kunjungan luar negeri bisa menjadi langkah taktis. Sementara tantangan strategisnya tetap ada di dalam negeri: membangun kemandirian energi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK