NEWS

Setelah 33 Tahun, Sesar Flores Kembali Picu Gempa Besar di NTT

Personel Kantor SAR Maumere mengevakuasi korban bangunan roboh akibat guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8). Foto: ANTARA
Personel Kantor SAR Maumere mengevakuasi korban bangunan roboh akibat guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) subuh. 

Gempa kuat tersebut dipastikan dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan mekanisme gempa berasal dari aktivitas sesar aktif yang berada di belakang busur kepulauan Flores.

"Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores," kata Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, sesar tersebut merupakan salah satu sumber gempa aktif yang memiliki potensi kekuatan hingga magnitudo 7,8 sampai 7,9.

"Gempa magnitudo 7,7 di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8–7,9. Hari ini sudah rilis 7,7," ujarnya.

BMKG mencatat kawasan tersebut juga memiliki sejarah kegempaan yang kuat. Pada 1992, wilayah yang sama pernah diguncang gempa bermagnitudo 7,5 yang menimbulkan kerusakan besar.

"Dari sejarah yang ada, di tahun 1992 dengan magnitudo 7,5. Ini juga luar biasa kerusakannya waktu itu. Jadi, ini sudah lebih dari 30 tahun, terjadi lagi. Nanti akan terus kita monitor aktivitas gempa susulannya," kata Wijayanto.
Sebelumnya, gempa M 7,7 yang berpusat di laut dekat Kabupaten Nagekeo sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Namun setelah melakukan pemantauan terhadap tinggi muka air laut dan perkembangan aktivitas seismik, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.

"Kita sudah akhiri (peringatan dini tsunami), tapi tentunya kita akan terus memonitor aktivitas tinggi muka air laut yang akan tercatat di stasiun-stasiun kami," ujarnya.

BMKG memastikan pemantauan gempa susulan masih terus dilakukan dan masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi dari lembaga tersebut serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.