apakabar.co.id, Jakarta – Juru Bicara Kedutaan Inggris di Indonesia Faye Belnis mengungkapkan isu perubahan iklim dan perlindungan lingkungan merupakan salah satu isu utama yang menjadi tujuan dari pemerintahan Inggris di Indonesia.
Pemerintah Inggris mendorong agar isu lingkungan, seperti perubahan iklim hingga net zero emisi perlu diperdalam sehingga literasi masyarakat juga meningkat.
Hal itu diungkapkan Faye Belnis saat menyampaikan pidatonya di acara pelatihan bertajuk Upscaling Your Media by Increasing Your Media Performance di Jakarta, Jumat (22/11).
Untuk itu, Kedutaan Besar Inggris di Indonesia terpanggil membantu jurnalis di Indonesia agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berdampak secara luas.
“Alasan itu yang membuat kami ingin meningkatkan keilmuan mereka agar bisa menghasilkan karya jurnalistik yang tak hanya akurat, tapi juga tajam dan bisa dipercaya kredibilitasnya,” ujar Faye saat memberikan sambutan dalam pelatihan kelas jurnalis sebagai kerja sama antara Kedutaan Besar Inggris dengan Society of Indonesian Environtmental Journalists (SIEJ).
Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 17 jurnalis yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai Sumatera hingga Papua. Para peserta merupakan jurnalis yang terdaftar sebagai anggota SIEJ yang mengelola media lokal di wilayahnya masing-masing.
Selama mengikuti pelatihan, para jurnalis mendapatkan pengetahuan dan keterampilan terkait pengelolaan media. Dua narasumber penting, yakni Tosca Santoso, praktisi dan pakar media yang bergerak secara independen bersama Helena Rea, Head of Project BBC Media Action membagikan pengalamannya.
Kepada para peserta, Tosca menjelaskan tentang pentingnya pengembangan media. Menurutnya, tidak haram bagi media untuk mendapatkan pendanaan dari sejumlah donor.
Hanya saja, Tosca Santoso mengingatkan, media dan jurnalis tetap wajib mengembangkan revenue sesuai karakter dari media masing-masing.
Adapun ketergantungan media pada donor sebaiknya tidak lebih dari 30 persen.
“Selebihnya media dan jurnalis harus mampu mengembangkan dirinya dan mengurangi sedikit demi sedikit ketergantungan pada donor. Sebab, makin tinggi ketergantungan media pada grant, maka semakin lemah media tersebut,” terang Tosca.
Tosca Santoso juga menyarankan agar para pengelola media lokal tak perlu terburu-buru dan terlalu berambisi untuk membesarkan medianya.
Kehadiran tim kecil yang terbukti solid akan lebih berdampak ketimbang terburu-buru menjadi media besar yang pastinya menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Sementara itu, Helena Rea, dalam paparannya memyampaikan tentang pentingnya mempelajari audiens bagi media yang baru berdiri.
Mengenal audiens secara baik, kata Helena, akan menjadikan media tersebut mampu menyuguhkan apa yang diinginkan pembaca/ penonton/ pendengarnya. Hal itu penting untuk menimbulkan loyalitas terhadap media.
Selain itu, Helena mengingatkan agar media yang ingin stabil perlu memikirkan pengembangan bisnis secara serius dan berkelanjutan. Pasalnya, melalui pengembangan bisnis, sebuah media akan mampu bertahan.
“Media yang ingin stabil, bukan hanya punya tim khusus yang memikirkan konten, tapi juga punya tim khusus yang ikut memikirkan pengembangan bisnisnya,” terang Helena Rea.
Terutama bagaimana memahami sebuah value yang terdapat di dalam industri media itu sendiri. Karena itu, Helena mengingatkan bahwa tugas mengembangkan bisnis bukanlah peran jurnalis. Sebab tugas jurnalis hanya berkutat untuk memikirkan konten.
“Tugas jurnalis adalah memikirkan konten. Tapi untuk memikirkan bisnis ada orang khusus yang bertugas untuk itu,” pungkas Helena Rea.