NEWS
Titik Panas Terbanyak Kalsel Ada di Tapin, BPBD: 90 Persen di Area Tambang Batubara
apakabar.co.id, TAPIN - Kabupaten Tapin tercatat memiliki jumlah titik panas atau hotspot terbanyak di Kalimantan Selatan. Konsentrasi tertinggi berada di area aktivitas tambang batubara, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
WALHI Kalimantan Selatan mencatat, berdasarkan pemantauan menggunakan citra satelit VIIRS NOAA-21 pada 1 Mei hingga 18 Agustus 2026 ada 3.219 hotspot tersebar di 13 kabupaten/kota. Ada lima yang teratas: wilayah Tapin menjadi yang tertinggi 996 hotspot, disusul Hulu Sungai Selatan 517 titik, Banjar 412 titik, Tanah Laut 394 titik dan Tabalong 230 titik.
Merujuk data BPBD, jumlah hospot di Tapin pada periode waktu itu ternyata jauh lebih tinggi dibanding data WALHI Kalimantan Selatan. Sepanjang Mei-Juli saja, di Tapin tercatat ada 1.333 hotspot.
Kepala BPBD Tapin, Muhammad Noor buka suara mengenai rekor tertinggi sementara untuk daerah penyumbang titik panas terbanyak di Kalsel ini. Ia bilang area pertambangan batubara itu berada di tiga wilayah kecamatan, yakni Binuang, Tapin Selatan dan Lokpaikat.
"Binuang 108 titik, Lokpaikat 535 titik dan Tapin Selatan 490 titik. Tiga wilayah ini paling mendominasi, karena daerah pertambangan, rata-rata pada tingkat 8 atau kuning. Sedangkan, wilayah kecamatan lain minim, di bawah 100 hotspot," ujarnya kepada apakabar.co.id, belum lama ini.
Dari 1.133 titik hotspot di area pertambangan ini kerap menimbulkan asap dan beberapa titik menjadi pemicu kebakaran. Dalam kondisi ini, BPBD Tapin mengaku tak berkutik melakukan tindakan, hanya bisa koordinasi dengan cara bersurat ke sejumlah perusahaan untuk menjaga lingkungan pertambangan.
Noor mengatakan, secara khusus rata-rata titik api berada di kawasan bekas tambang yang memiliki vegetasi semak rapat, sedangkan pemicunya adalah sisa batubara yang terbakar.
"Di area tambang ini kita tak bisa melakukan pemadaman karena medan jurang, lereng. Jadi, kalau di area tambang kita koordinasi dengan pemilik tambang lah, ya supaya agar tidak membesar lah dampaknya," ucapnya.
Noor berani memastikan, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, area pertambangan yang memicu kebakaran semak belukar ini jauh dari pemukiman maupun perkebunan masyarakat.
Sementara itu, dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama (Mei-Juli), jumlah luas kebakaran musim ini turun drastis. Noor mengatakan 2025 ada 293 hotspot, dari 28 kejadian, terhitung 69,50 hektar lahan semak belukar yang terbakar. Sedangkan, pada 2026 dari 1.333 hotspot, 19 kejadian, luas area semak belukar yang terbakar 25,70 hektar.
Ia mengatakan Agustus-September adalah puncak El Nino yang merupakan fase kritis untuk potensi kebakaran dan personil Satgas Karhutla pun dalam kondisi siapsiaga. Sedangkan, transisi musim hujan diperkirakan sepanjang pertengahan Oktober 2026.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

