OPINI
Diplomasi Lingkungan untuk Kelestarian Alam Indonesia
Oleh: Jumhur Hidayat*
Sering kali keberhasilan diplomasi lingkungan hanya dibatasi pada tercapainya target angka-angka emisi, penurunan karbon, atau besarnya investasi hijau.
Padahal, inti dari seluruh pembicaraan itu sesungguhnya adalah untuk memastikan agar bumi tetap lestari dan menjadi tempat yang layak dihuni oleh generasi berikutnya.
Diplomasi lingkungan bukan sekadar perundingan antarpemerintah, melainkan pertemuan berbagai pihak yang sama-sama memikul tanggung jawab menjaga rumah bersama.
Momentum London Climate Action Week 2026 di London, Inggris, menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan diplomasi lingkungan bagi Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia telah siap dengan isu lingkungan yang kini telah menjadi bahasa universal yang melampaui batas negara, sistem politik, maupun kepentingan ekonomi jangka pendek.
Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut bukan semata-mata memenuhi undangan internasional, tetapi menunjukkan bahwa negara ini dengan kekayaan alam luar biasa memiliki tanggung jawab sekaligus kesempatan untuk ikut menentukan arah masa depan bumi.
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah kesempatan delegasi Indonesia untuk berdialog langsung dengan Raja Charles III pada acara Super-pollutant High-level Reception di Istana St. James.
Dalam kesempatan itu, penulis sebagai bagian dari perwakilan RI menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto kepada Raja Charles.
Sambutan yang diberikan Raja Charles menunjukkan bahwa hubungan antarbangsa tidak selalu dibangun melalui pembicaraan mengenai perdagangan atau keamanan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kelestarian alam.
Respons Raja Charles yang mengapresiasi komitmen Presiden RI Prabowo dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati Indonesia mengandung pesan penting.
Perhatian Raja Charles terhadap lingkungan Indonesia bukanlah sesuatu yang baru muncul. Pada 2008, saat masih menyandang gelar Pangeran Wales, ia mengunjungi kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di Jambi.
Kunjungan tersebut memperlihatkan ketertarikannya untuk memahami secara langsung tantangan pelestarian hutan hujan tropis, termasuk persoalan pembalakan liar yang mengancam keberlanjutan ekosistem.
Pengalaman lapangan seperti itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan lebih bermakna ketika dibangun melalui pemahaman atas realitas yang dihadapi masyarakat.
Saling Menghargai
Dalam kesempatan yang sama, Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Raja Charles terhadap berbagai upaya dalam melestarikan lingkungan hidup.
Sikap saling menghargai ini memperlihatkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri. Perubahan iklim, pencemaran udara, hingga hilangnya keanekaragaman hayati merupakan tantangan lintas batas yang menuntut kerja sama global.
London Climate Action Week mempertemukan ribuan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, peneliti, hingga anggota parlemen.
Keberagaman peserta menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis iklim tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor. Pemerintah dapat menyusun kebijakan, ilmuwan menghadirkan pengetahuan, dunia usaha mengembangkan inovasi, masyarakat sipil mengawasi pelaksanaan, sedangkan masyarakat luas menjadi pelaku utama perubahan melalui pilihan-pilihan sehari-hari.
Berbagai tema yang dibahas dalam forum tersebut mencerminkan kompleksitas tantangan yang sedang dihadapi dunia. Mulai dari identifikasi pencemar terbesar penyebab pemanasan global, percepatan transisi energi, hingga perlindungan keanekaragaman hayati menjadi bagian dari satu mata rantai yang saling berkaitan.
Tidak ada solusi tunggal untuk mengatasi krisis iklim. Yang dibutuhkan adalah pendekatan menyeluruh yang mampu menghubungkan pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Untuk itu, kemudian Indonesia mengambil posisi yang strategis. Apalagi sebagai salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia, Indonesia menyimpan kekayaan hayati daratan dan lautan yang tidak hanya penting bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem global.
Hutan tropis, mangrove, terumbu karang, dan ribuan spesies endemik merupakan modal alam yang nilainya jauh melampaui batas administratif sebuah negara. Menjaganya berarti ikut menjaga stabilitas iklim dunia.
Di masa ini, dunia memandang pembangunan tidak lagi dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Kemajuan ekonomi yang mengabaikan alam akan kehilangan fondasi jangka panjangnya, sementara perlindungan lingkungan yang tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat juga akan sulit bertahan. Kedua tujuan tersebut harus berjalan beriringan.
Persoalan Nyata
Kehadiran Indonesia dalam forum internasional tersebut juga memiliki arti tersendiri. Penulis menjadi salah satu dari sedikit menteri lingkungan hidup yang diundang secara khusus dalam pertemuan eksklusif yang mempertemukan para pemimpin dunia, tokoh lingkungan, dan pengambil kebijakan.
Di dalamnya, pembahasan tidak berhenti pada komitmen normatif, tetapi juga menyentuh persoalan nyata mengenai super polutan, seperti emisi gas metana dan karbon hitam yang dihasilkan dari penggunaan energi fosil.
Diskusi bersama Menteri Lingkungan Hidup Inggris Mary Creagh, Menteri Energi dan Iklim Inggris Ed Miliband, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, serta berbagai tokoh internasional lainnya menunjukkan bahwa tantangan lingkungan membutuhkan kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan yang saling melengkapi.
Namun, makna terbesar dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut justru berada jauh dari ruang-ruang konferensi. Setiap pembahasan mengenai perubahan iklim pada akhirnya bermuara pada kehidupan masyarakat sehari-hari.
Hutan yang tetap lestari menjaga ketersediaan air bersih. Laut yang sehat menopang kehidupan nelayan. Udara yang lebih bersih melindungi kesehatan anak-anak. Keanekaragaman hayati yang terjaga menjadi sumber pangan, obat-obatan, ilmu pengetahuan, hingga peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan fondasi kualitas hidup manusia. Oleh karena itu, keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat hanya diukur dari banyaknya perjanjian internasional atau jumlah forum yang dihadiri.
Ukurannya adalah sejauh mana kebijakan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan memastikan sumber daya alam tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Diplomasi internasional menjadi penting ketika mampu memperkuat upaya di dalam negeri, menghadirkan pengetahuan baru, memperluas kemitraan, dan membangun kepercayaan bahwa Indonesia merupakan bagian dari solusi global.
Karena pelestarian lingkungan adalah investasi lintas generasi. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan seperti apa bumi yang diwariskan kepada anak cucu kelak.
Ketika dunia semakin menyadari bahwa kesejahteraan manusia dan kesehatan alam tidak dapat dipisahkan, maka setiap langkah untuk melindungi hutan, laut, udara, dan keanekaragaman hayati sesungguhnya adalah langkah untuk menjaga harapan.
Di tengah berbagai tantangan global, harapan itulah yang perlu terus dipelihara, karena bumi yang sehat akan selalu menjadi syarat utama bagi kehidupan yang adil, sejahtera, dan berkelanjutan.
*) Menteri Lingkungan Hidup RI
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY




