SPORT
I.League Ungkap Penyebab Klub Indonesia Sulit Bersaing di Asia
apakabar.co.id, JAKARTA — Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, mengungkapkan dua faktor utama yang membuat klub-klub Indonesia kesulitan bersaing di kompetisi antarklub Asia dalam beberapa tahun terakhir, yakni sanksi pembekuan FIFA dan pandemi COVID-19.
Menurut Sadikin, kondisi tersebut membuat perkembangan sepak bola Indonesia tertinggal dari sejumlah negara Asia Tenggara yang tetap menjalankan kompetisi dan melakukan transformasi selama periode yang sama.
"Kalau ditanya klub-klub di Asia Tenggara ini kenapa lebih maju? Mereka tidak menghadapi larangan (pembekuan FIFA) dan tidak menghadapi masalah COVID. Mereka tetap jalan selama COVID. Dan larangan itu yang paling berat kita rasakan, larangan FIFA. Mereka enggak merasakan itu," kata Sadikin dalam acara Water Break PSSI Pers bertajuk "Membawa Liga Naik Kelas" di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8).
Sadikin menjelaskan, ketika terjadi perubahan regulasi di tingkat Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), klub-klub dari negara lain di kawasan Asia Tenggara dapat langsung menyesuaikan diri.
Sementara Indonesia justru berada dalam situasi sulit karena terkena sanksi FIFA. Dampaknya, klub-klub Indonesia kehilangan momentum untuk melakukan pembenahan dan mengejar perkembangan kompetisi di kawasan.
"Kita pada saat itu mau mengikuti kena ban (sanksi). Akhirnya mindset klub-klub kita, kalau ditanya, kita itu baru bisa bertransformasi benar tiga tahun terakhir," ujarnya.
Sadikin juga menyoroti penurunan prestasi klub Indonesia di kompetisi Asia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah memiliki Persipura Jayapura yang mampu menembus semifinal Piala AFC. Namun, setelah era tersebut, belum ada klub Indonesia yang berhasil mengulangi pencapaian Mutiara Hitam di level Asia.
Dalam beberapa musim terakhir, langkah klub Indonesia di kompetisi Asia cenderung terhenti lebih awal.
Pada musim lalu, Persib Bandung menjadi wakil Indonesia di Liga Champions Asia Dua dan hanya mampu melaju hingga babak 16 besar.
Musim ini, Indonesia kembali memiliki dua wakil di kompetisi Asia. Persib Bandung tampil di Liga Champions Asia Dua, sementara Borneo FC berkompetisi di AFC Challenge League.
Sadikin menilai proses untuk mengembalikan klub Indonesia ke level persaingan Asia membutuhkan waktu. Menurutnya, Indonesia tidak bisa serta-merta mengejar negara-negara yang telah melakukan transformasi sepak bola lebih dahulu.
"Kalau kita mau bersaing, dengan kondisi seperti kita sekarang, tiga tahun ke depan harusnya kita sudah bisa bersaing," katanya.
Untuk membantu klub Indonesia yang tampil di kompetisi Asia, I.League memastikan dukungan melalui pengaturan jadwal pertandingan domestik dan bantuan finansial.
Sadikin menegaskan jadwal kompetisi domestik akan disesuaikan apabila klub Indonesia melangkah jauh di kompetisi Asia.
"Nanti perubahan (jadwal) itu ada pada saat kalau mereka masuk 16 besar, masuk final contohnya. Itu pasti ada penyesuaian lagi. Pasti kita akan mengakomodir klub-klub itu," tegasnya.
Menurut Sadikin, klub yang tampil di kompetisi Asia menghadapi beban pertandingan yang jauh lebih padat. Karena itu, dukungan operator menjadi penting agar klub tetap memiliki kesempatan menjaga performa di kompetisi domestik sekaligus membawa nama Indonesia di pentas internasional.
I.League juga berkomitmen memberikan dukungan finansial karena partisipasi di kompetisi Asia membutuhkan biaya besar, terutama untuk perjalanan dan pertandingan tandang.
Sadikin berharap pembenahan yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir dapat menjadi fondasi bagi klub-klub Indonesia untuk kembali meningkatkan daya saing dan perlahan mengejar ketertinggalan dari kompetisi Asia Tenggara lainnya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

