NEWS

Udara Jakarta Masuk Enam Terburuk di Dunia Hari Ini

Indeks kualitas udara ibu kota berada di level tidak sehat dan menempati peringkat keenam terburuk secara global.
Kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menyemprotkan kabut air (water mist) di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Penyemprotan water mist di sepanjang Jalan HR Rasuna Said hingga Jalan Warung Jati Barat tersebu
Kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menyemprotkan kabut air (water mist) di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Penyemprotan water mist di sepanjang Jalan HR Rasuna Said hingga Jalan Warung Jati Barat tersebu
apakabar.co.id, JAKARTA - Jakarta kembali masuk daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada Selasa pagi pukul 06.30 WIB, ibu kota menempati peringkat keenam dunia dengan indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) mencapai 159 atau masuk kategori tidak sehat.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan polusi udara.

Pada daftar yang sama, Singapura menempati posisi pertama kota dengan kualitas udara terburuk dengan AQI 182. Posisi berikutnya ditempati Kolkata, India dengan AQI 180, disusul Lahore, Pakistan di angka 174.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah untuk memperbaiki kualitas udara. Salah satu fokus utama diarahkan pada sektor transportasi yang saat ini menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta.

Pemprov DKI memperluas layanan bus Transjabodetabek guna mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Sejumlah rute yang telah dibuka antara lain Blok M–Alam Sutera, Blok M–PIK 2, hingga rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang telah tersedia. Pemerintah daerah juga telah menerbitkan kebijakan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat sebagai bagian dari upaya mendorong peralihan moda transportasi.

Saat ini, tingkat konektivitas transportasi Jakarta disebut telah mencapai 92 persen. Capaian tersebut menempatkan Jakarta pada posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di kawasan ASEAN setelah Singapura.

Selain memperluas layanan angkutan umum, Pemprov DKI juga menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030 sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi sektor transportasi.

Upaya perbaikan kualitas udara juga dilakukan melalui sektor pengelolaan sampah. Pemprov DKI mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.

Pemerintah berharap proyek tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan emisi yang selama ini memengaruhi kualitas udara Jakarta.

“Kalau itu bisa dilakukan, kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta,” ujar Pramono. (ant)