OPINI
Retakan yang Tersisa Setelah Banjir Bandang Melanda
Oleh: Dian Fiantis*
Banjir bandang sering dipahami sebagai bencana yang dimulai ketika hujan deras mengguyur dan berakhir saat air surut. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di daerah terdampak, bencana sesungguhnya belum tentu selesai.
Setelah air menghilang, tanah masih menyimpan “luka” yang tidak selalu terlihat pada pandangan pertama. Luka itu muncul dalam bentuk retakan pada rumah, jalan, sawah, ladang, pekarangan, hingga tebing jalan. Retakan-retakan tersebut menjadi pengingat bahwa proses alam masih berlangsung di bawah permukaan tanah.
Fenomena inilah yang kami temukan saat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama tim dosen lintas lima bidang ilmu Fakultas Pertanian Universitas Andalas di Nagari Ampek Koto, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, pada 6 Agustus 2026.
Dalam diskusi bersama masyarakat terungkap bahwa sejak banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada 27 November 2025, berbagai retakan masih dijumpai.
Delapan bulan setelah bencana yang mengakibatkan 115 orang meninggal dunia tersebut, ditemukan retakan pada dinding maupun lantai di sejumlah rumah di Jorong Piladang, Nagari Ampek Koto. Retakan juga muncul pada jalan desa, sawah, ladang, pekarangan, saluran irigasi, hingga tebing jalan.
Bagi masyarakat, retakan tersebut merupakan bukti bahwa dampak banjir belum benar-benar berakhir. Sebagian warga masih khawatir setiap kali hujan lebat turun, terutama terhadap kemungkinan retakan semakin melebar atau lereng kembali bergerak. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Dalam ilmu tanah dan geoteknik, retakan merupakan salah satu indikator bahwa kestabilan tanah telah terganggu dan perlu mendapat perhatian serius.
Retakan Tanah
Retakan yang dijumpai di Nagari Ampek Koto tidak hanya terjadi pada bangunan. Sawah memperlihatkan rekahan memanjang, ada penurunan tanah pekarangan, sementara ladang menunjukkan rekahan yang mengikuti arah lereng.
Pada beberapa lokasi, ada retakan memanjang jalan desa disertai amblesnya badan jalan akibat hilangnya penyangga di bagian bawah.
Sebagai ilmuwan tanah, saya memandang retakan tersebut tidak boleh dianggap sebagai kerusakan permukaan semata. Retakan dapat menjadi gejala bahwa di bawah tanah terjadi perubahan berupa penurunan tanah (settlement), deformasi lereng, maupun gerakan massa tanah (mass movement).
Apalagi apabila retakan dijumpai secara bersamaan pada rumah, sawah, jalan, dan saluran irigasi dalam satu kawasan. Penyebabnya kemungkinan tidak lagi semata-mata persoalan konstruksi bangunan, melainkan perubahan kondisi tanah yang menjadi fondasi seluruh infrastruktur tersebut.
Dampak yang paling dirasakan masyarakat terjadi pada sektor pertanian. Sekitar 90 hektare sawah terdampak banjir bandang di koridor Batang Nanggang yang terlihat jelas pada citra satelit Sentinel-2 pada 23 Desember 2025. Selain retak dan tertimbun sedimen pada beberapa bagian, jaringan irigasi yang selama ini memasok air ke sawah rusak berat.
Akibatnya, sebagian petani tidak lagi dapat menanam padi. Air irigasi tidak mampu mencapai petakan sawah sehingga lahan kehilangan fungsi sebagai sawah irigasi. Sebagai bentuk adaptasi, masyarakat mulai beralih menanam jagung yang tidak memerlukan genangan air seperti padi.
Perubahan ini tampak sederhana, tetapi mempunyai makna besar. Sawah bukan sekadar lahan produksi pangan. Sawah merupakan bagian dari sistem sosial, budaya, dan ketahanan pangan masyarakat Minangkabau.
Ketika saluran irigasi rusak dan sawah berubah menjadi lahan jagung, yang berubah bukan hanya jenis tanaman, tetapi juga fungsi bentang lahan yang telah terbentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Ancaman Baru
Retakan yang masih terlihat hingga kini bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga peringatan bagi masa depan. Jika hujan ekstrem kembali terjadi, air dapat masuk melalui retakan dan meresap lebih cepat ke lapisan tanah yang lebih dalam. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan air pori sehingga gerakan tanah yang sempat melambat dapat aktif kembali.
Dampaknya dapat lebih besar. Retakan pada rumah dapat berkembang menjadi kerusakan struktural, jalan berpotensi kembali amblas, sementara tebing yang telah merekah dapat runtuh dan memutus akses transportasi. Sawah yang kehilangan irigasi akan semakin sulit dipulihkan apabila saluran kembali bergeser atau tertimbun longsor.
Gerakan tanah sering berlangsung perlahan sehingga tidak selalu disadari masyarakat. Pada tahap awal hanya terlihat retakan kecil. Namun ketika hujan ekstrem datang, retakan dapat berkembang menjadi longsoran yang membawa tanah, batuan, pohon, bahkan bangunan di atasnya. Karena itu, retakan harus dipandang sebagai indikator perlunya evaluasi kestabilan lereng.
Pelajaran Penting
Pengalaman di Nagari Ampek Koto memberikan pelajaran bahwa penanganan pascabencana tidak cukup hanya membersihkan material banjir atau memperbaiki jalan dan jembatan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa tanah tempat seluruh infrastruktur berdiri telah kembali stabil.
Apa yang terjadi di sini bisa juga terjadi di kawasan lain di Indonesia. Pola serupa—tanah vulkanis yang subur namun rentan bergerak ketika jenuh air, dikombinasikan dengan topografi berbukit dan curah hujan ekstrem—juga dijumpai di banyak kawasan lain di Indonesia.
Pola itu ditemui juga di lereng-lereng di Cianjur dan Sukabumi (Jawa Barat), dataran tinggi Humbang Hasundutan dan Tapanuli di sekitar Danau Toba (Sumatera Utara), hingga wilayah perbukitan di Luwu dan Luwu Utara (Sulawesi Selatan) yang juga pernah dilanda banjir bandang disertai longsor besar.
Karena itu, pengalaman di Nagari Ampek Koto sepatutnya menjadi cermin bagi pemerintah daerah lain yang memiliki karakteristik lahan serupa, agar pemantauan dan mitigasi gerakan tanah tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi menjadi bagian dari kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Pemantauan retakan secara berkala, pemetaan lokasi deformasi, evaluasi kestabilan lereng, serta rehabilitasi jaringan irigasi perlu dilakukan secara terpadu. Tanpa memahami penyebab retakan, pembangunan kembali berisiko mengalami kerusakan serupa ketika hujan ekstrem kembali terjadi.
Perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi kejadian hujan dengan intensitas tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini berarti kawasan-kawasan berbukit memerlukan perhatian lebih besar terhadap mitigasi gerakan tanah. Retakan yang tampak hari ini dapat menjadi peringatan dini bagi bencana yang lebih besar di masa mendatang apabila diabaikan.
Rekomendasi Mitigasi
Mitigasi perlu dimulai dengan pemetaan dan pemantauan retakan pada rumah, jalan, sawah, saluran irigasi, dan lereng secara berkala. Perubahan lebar dan panjang retakan perlu dicatat, terutama setelah hujan lebat.
Munculnya retakan baru, tanah yang semakin ambles, pohon atau tiang yang mulai miring, serta keluarnya rembesan air baru dapat menjadi tanda bahwa lereng masih bergerak dan perlu segera diperiksa. Perbaikan drainase juga penting agar air hujan tidak terkonsentrasi dan masuk melalui retakan sehingga meningkatkan kejenuhan tanah.
Pada kawasan dengan kerusakan berat, diperlukan kajian geologi, tanah, hidrologi, dan geoteknik sebelum pembangunan kembali dilakukan secara permanen. Rehabilitasi jalan, saluran irigasi, dan sawah sebaiknya mempertimbangkan kestabilan tanah, sementara masyarakat perlu dilibatkan dalam sistem peringatan dini berbasis pengamatan lapangan.
Informasi mengenai hujan ekstrem, perkembangan retakan, perubahan aliran air, dan tanda-tanda gerakan tanah perlu segera diteruskan kepada pemerintah nagari dan instansi kebencanaan agar tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi longsor atau bencana berikutnya.
Retakan yang hari ini tampak hanya sebagai garis-garis di permukaan jangan sampai berkembang menjadi pemicu bencana berikutnya.
Kewaspadaan masyarakat, pemantauan berkelanjutan, penerapan ilmu pengetahuan, dan mitigasi yang tepat menjadi kunci untuk melindungi rumah, infrastruktur, lahan pertanian, serta keselamatan masyarakat, baik saat ini maupun di masa mendatang.
*) Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang; Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY


