LINGKUNGAN HIDUP

Karhutla Berulang di Ketapang Picu Konflik Orangutan-Warga

Tim gabungan BKSDA Kalbar bersama YIARI,PT Mohairson Pawan Khatulistiwa dan masyarakat evakuasi orangutan Jantan 'Wak' di perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalbar. Foto: BKSDA Kalbar
Tim gabungan BKSDA Kalbar bersama YIARI,PT Mohairson Pawan Khatulistiwa dan masyarakat evakuasi orangutan Jantan 'Wak' di perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalbar. Foto: BKSDA Kalbar
apakabar.co.id, JAKARTA - Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, telah memicu siklus konflik berkepanjangan antara orangutan dan warga akibat semakin rusaknya habitat satwa liar.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali telah mempercepat kerusakan habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, kata dia, satwa kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung sehingga terdorong masuk ke perkebunan warga.

"Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," katanya dikutip di Jakarta, Senin (10/8).
Menurut Silverius, kondisi tersebut membuat masyarakat dan orangutan sama-sama menjadi korban. Warga mengalami kerugian ekonomi akibat tanaman yang rusak serta meningkatnya rasa khawatir terhadap keberadaan satwa liar, sementara orangutan kehilangan ruang hidupnya.

"Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat," ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi karhutla di Ketapang kini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan karena telah menimbulkan dampak yang lebih luas.

"Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita," katanya.
Catatan YIARI menunjukkan konflik tersebut bukan peristiwa baru. Di kawasan Desa Kuala Tolak dan sekitarnya, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI pernah melakukan penyelamatan sejumlah orangutan saat kebakaran besar melanda wilayah tersebut pada 2015 dan 2019.
 
Peristiwa serupa kembali terjadi pada 2026 ketika seekor orangutan jantan yang kemudian diberi nama 'Wak' ditemukan berada di perkebunan buah milik warga.

Kehadiran orangutan itu sempat menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan yang meluas di sekitar desa meningkatkan risiko terhadap keselamatan satwa maupun masyarakat sehingga BKSDA Kalbar bersama YIARI memutuskan mengevakuasi orangutan tersebut untuk mencegah konflik.

Seorang warga Desa Kuala Tolak Morsali mengatakan konflik antara satwa liar dan masyarakat terus berulang sejak pembukaan lahan semakin masif di wilayah tersebut.
"Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi," katanya.

Setelah dievakuasi, orangutan tersebut dilepasliarkan kembali ke areal konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) yang berada dalam bentang hutan yang sama dengan habitat asalnya. Perusahaan yang mengelola sekitar 36.972,56 hektare ekosistem gambut itu dinilai masih memiliki populasi orangutan liar yang sehat dengan kondisi habitat yang aman.