SPORT

I.League Desak PSSI Perberat Sanksi Klub yang Suporternya Ricuh

Dirut I.League, Ferry Paulus (kanan), saat mmebeirkna keterangan mengenai sanksi klub akibat kerusuhan suporter di Jakarta, Rabu (21/10). Foto: apakabar.co.id
Dirut I.League, Ferry Paulus (kanan), saat mmebeirkna keterangan mengenai sanksi klub akibat kerusuhan suporter di Jakarta, Rabu (21/10). Foto: apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mendesak PSSI memperberat sanksi terhadap klub yang gagal mengendalikan suporternya hingga memicu kericuhan. Langkah tegas tersebut dinilai penting untuk menjaga keamanan pertandingan sekaligus memastikan kebijakan pelonggaran kehadiran suporter tandang atau away tidak berujung pada gangguan kompetisi.

Ferry menegaskan, I.League akan terus mendorong PSSI menjatuhkan hukuman yang lebih berat apabila kerusuhan kembali terjadi. Bahkan, larangan menghadirkan suporter tandang dapat dipertimbangkan bagi klub-klub yang berulang kali terlibat persoalan keamanan.

"Kami akan terus mendorong kepada PSSI untuk bisa diberikan sanksi yang lebih besar daripada yang sekarang ini. Bahkan jika perlu, tidak boleh ada suporter away khusus untuk beberapa klub yang benar-benar sangat mengganggu ini," tegas Ferry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10).

Menurut Ferry, langkah tersebut bukan berarti menghambat kehadiran suporter di stadion. Sebaliknya, penegakan disiplin diperlukan agar kebijakan pelonggaran yang diperjuangkan selama hampir tiga tahun dapat berjalan secara aman dan bertanggung jawab.

Kebijakan kehadiran suporter tim tamu yang diizinkan PSSI dengan pemantauan FIFA tetap memiliki sejumlah batasan. Faktor rivalitas antarklub, potensi bentrokan, serta rekomendasi kepolisian menjadi pertimbangan penting sebelum suporter tandang diperbolehkan hadir.


Namun, sejumlah insiden yang terjadi dalam beberapa pertandingan Super League dan Championship 2026/2027 kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan kompetisi.

Kericuhan Persita-Persija Jadi Evaluasi

Salah satu insiden yang menjadi perhatian Ferry adalah kericuhan dalam pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Banten International Stadium (BIS), Serang, Sabtu (17/10).

Ferry menjelaskan, sebelum pertandingan tidak terdapat indikasi awal dari kepolisian mengenai potensi kerusuhan. Kondisi tersebut membuat panitia pelaksana Persita memberikan ruang lebih luas bagi pendukung Persija, The Jakmania, dibandingkan kuota yang lazim diterapkan, yakni sekitar 5–10 persen.

Akan tetapi, situasi berubah setelah persoalan spanduk dan provokasi memicu keributan di area stadion. Insiden tersebut mengganggu jalannya pertandingan yang akhirnya dimenangi Persita dengan skor 3-2.

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kemudian menjatuhkan sejumlah sanksi. Persija dilarang menghadirkan suporter dalam enam pertandingan tandang atau selama setengah musim kompetisi Super League. Klub berjuluk Macan Kemayoran itu juga dikenai denda Rp30 juta, ditambah Rp60 juta terkait pelanggaran suporter berupa penyalaan petasan dan pelemparan flare.

Sementara itu, panitia pelaksana Persita didenda Rp40 juta karena dinilai gagal menjalankan tanggung jawab menjaga ketertiban dan keamanan pertandingan.

Ferry menilai insiden tersebut menjadi pengingat bahwa kelonggaran bagi suporter tandang harus diimbangi kedisiplinan dan tanggung jawab seluruh pihak, terutama klub sebagai pihak yang memiliki hubungan langsung dengan pendukungnya.

PSIS dan PSGC Juga Terkena Sanksi

Persoalan keamanan suporter juga terjadi dalam pertandingan Championship 2026/2027 antara PSGC Ciamis dan PSIS Semarang di Stadion Galuh, Ciamis, Sabtu (17/10).

Kericuhan antara pendukung kedua tim terjadi saat pertandingan dan berlanjut setelah laga berakhir. Selain bentrokan suporter, bus tim PSIS juga tertahan di stadion selama sekitar 30 menit akibat persoalan keamanan.

Atas insiden tersebut, Komdis menjatuhkan denda Rp20 juta kepada PSGC karena dinilai gagal menjaga ketertiban sehingga bus tim tamu tertahan. PSGC juga dikenai denda Rp15 juta dan larangan menghadirkan suporter dalam satu pertandingan tandang melawan PSIS.

Adapun PSIS dijatuhi larangan menghadirkan suporter dalam enam pertandingan tandang serta denda Rp15 juta akibat kericuhan yang melibatkan pendukung kedua tim.

Rentetan hukuman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keamanan suporter bukan hanya berdampak pada jalannya pertandingan, tetapi juga berpotensi merugikan klub melalui sanksi finansial dan pembatasan dukungan di laga tandang.

Sanksi Bisa Bertambah Berat

Ferry mengingatkan, hukuman Komdis dapat meningkat apabila pelanggaran serupa kembali terulang. Terlebih jika kerusuhan melibatkan klub atau kelompok suporter yang sama, sanksi dapat diperberat sesuai hasil pemeriksaan dan keputusan Komdis.

I.League, lanjut Ferry, tidak ingin persoalan keamanan suporter menghambat perkembangan sepak bola Indonesia yang tengah menunjukkan tren positif, termasuk kiprah klub-klub nasional di level internasional.

"Kami tidak mau bahwa karena persoalan ini bisa merembet ke yang lain," ujar Ferry.


Untuk mencegah insiden serupa, I.League akan memperkuat koordinasi dengan PSSI dan kepolisian, termasuk mendorong penerapan mekanisme peringatan dini (*early warning*) terhadap pertandingan yang berpotensi menimbulkan kerawanan.

Klub juga diminta tidak sekadar mengandalkan pengamanan pada hari pertandingan, tetapi secara berkelanjutan memberikan edukasi kepada suporter, membangun budaya mendukung yang tertib, serta mencegah provokasi yang berpotensi memicu bentrokan.

"Klub tersebut memberikan edukasilah bagi suporter dari klub-klub yang sering kali memiliki masalah di dalam pertandingan demi pertandingan," pungkas Ferry.